Malam semakin larut dan suara kendaraan di jalan depan rumah kos Devan mulai jarang terdengar. Angin malam pun berembus pelan membawa aroma tanah yang masih menyimpan sisa panas siang hari.
Tiga buah lampu kecil di plafon teras memancarkan cahaya kekuningan yang redup. Ghea duduk dengan ke dua lutut dirapatkan. Sementara Devan masih asyik dengan ponselnya. Dua cangkir kopi di atas meja menemani mereka dan telah lama kehilangan uapnya.
Sejak Ghea tiba di tempat ini, rasa sesak di dadanya perlahan menjadi lebih lapang. Dia merasa Devan tidak menghakimi karena sikapnya. Dan meski hubungan mereka telah berakhir, Devan masih mau duduk di sampingnya pada jam selarut ini.
Ghea perlahan menoleh dan diam-diam memperhatikan Devan yang sedang fokus pada layar ponselnya, alis cowok itu berkerut tipis. Perasaan bersalah pun menyelinap ke hati Ghea.
"Aku ... jadi ngerepotin kamu lagi ya?" suara Ghea terdengar pelan.
Devan tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian dia baru mengangkat kepala dan menjawabnya, "Aku nggak merasa direpotin."
"Tapi aku yang mutusin hubungan kita."
Devan tersenyum kecil lalu menoleh ke arah Ghea. "Lalu?"
"Aku cuma merasa jahat." Ghea mengalihkan pandangan.
"Ghee, kita mungkin nggak lagi jalan sebagai pasangan. Tapi itu bukan berarti aku berhenti peduli sama kamu." Devan menaruh ponselnya di meja.
Jawaban itu membuat hati Ghea semakin tidak nyaman. Dia merasa seperti seseorang yang sedang memanfaatkan kebaikan orang lain demi obsesinya sendiri. Dan obsesi itu sudah telanjur tumbuh. Nama Rian kini terasa seperti sebuah pintu yang harus dibuka, apa pun yang ada di sebaliknya.
"Oke. Kita mulai dari yang paling gampang dulu." Devan kembali mengambil ponselnya kemudian membuka mesin pencarian dan mulai mengetik.
Universitas Cakrawala Nusantara Fakultas Ekonomi 1997 Rian.
Untung Ghea masih ingat tulisan Rahma saat menceritakan kuliah pertamanya. Rahma menulis nama Universitas Cakrawala Nusantara sebagai kampusnya. Sebuah kampus swasta yang cukup terkenal di kotanya pada akhir tahun sembilan puluhan.
Begitu hasil pencarian muncul di layar ponselnya, mata Devan bergerak menelusuri kata demi kata. Banyak nama bermunculan dari artikel lama, daftar seminar, berita kegiatan mahasiswa, dan akun media sosial.
Ghea mendekat lalu mengarahkan pandangannya ke layar ponsel Devan. "Enggak ada?"
"Ada, nggak begitu banyak." Ibu jari Devan bergerak menggeser tampilan layar ponselnya. Ada nama Rian Prasetyo, Rian Setiawan, Rian Mahendra ... Rian Nugroho. Namun, tidak ada satu pun yang mirip dengan gambaran laki-laki dalam buku harian Rahma.
Mereka terdiam. Devan menyeruput kopinya yang telah dingin. Sementara tangan Ghea menyisir rambut hitam panjangnya.
"Coba kita cari grup alumni," usul Devan kemudian.
Beberapa menit kemudian mereka sudah masuk ke laman media sosial. Grup Alumni Fakultas Ekonomi muncul pertama di layar ponsel Devan. Beberapa kali ibu jari Devan menggeser tampilannya.
Sementara Ghea membuka Grup Senat Mahasiswa kemudian lanjut ke Komunitas Angkatan Sembilan Puluhan.
Dari laman-laman itu beragam foto jadul bermunculan. Ada foto demonstrasi mahasiswa, foto kegiatan bakti sosial, foto rapat organisasi, hingga foto festival musik kampus.
Namun, foto-foto itu kualitasnya buruk. Banyak gambarnya yang pecah dan buram. Bahkan ada sebagian yang dipotret ulang dari album cetak atau foto aslinya.
"Rupanya orang-orang dari generasi itu memang gemar mengunggah ulang kenangan lama," gumam Ghea.
Namun jantung Ghea mulai berdetak lebih cepat. Dia memperbesar foto-foto itu satu per satu. Ke dua alisnya tampak berkerut. Matanya mencari seorang pemuda yang membawa gitar, atau seseorang dengan penampilan apa adanya, atau mungkin seseorang yang sedang tersenyum di samping Rahma muda.
"Yang ini ... bukan," ucap Ghea pelan lalu menggesernya.
"Ini juga bukan." Telunjuknya menggeser lagi. "Yang ini ... juga bukan!"
Jarum panjang jam dinding di teras berputar pelan mendahului jarum pendek. Mereka masih asyik duduk di tempat yang sama, bahkan kopi di cangkir mereka telah benar-benar dingin dan tersisa seperempatnya.