Malam telah melewati tengahnya dan seluruh rumah tenggelam dalam kesunyian. Cahaya lampu belajar di sudut meja menjadi satu-satunya penerangan di kamar Ghea. Udara malam pun berembus menyelinap melalui tirai jendela kaca yang sedikit terbuka.
Ghea duduk di lantai bersandar pada dinding di pojok kamar dengan meluruskan kakinya. Jantungnya berdetak cepat saat jemarinya membuka lembaran buku harian Rahma. Aroma kertas usang itu membawa gadis itu melompati waktu kembali ke masa puluhan tahun yang lalu melalui tulisan tangan mamanya.
Ghea menarik napas dalam-dalam kemudian mulutnya bergerak mengikuti baris demi baris kalimat yang digoreskan dengan tinta hitam yang mulai memudar. Jemarinya mulai terasa dingin karena takut pada jawaban yang telah menunggunya.
Tulisan tangan Rahma pada lembar itu masih sama seperti lembar sebelumnya, rapi dan tegas. Setiap huruf yang ditulis menyiratkan seseorang yang percaya bahwa masa depan masih berada dalam genggamannya.
—————
12 Januari 1998.
Hidup setelah pernikahan ternyata menuntut kami untuk melangkah lebih cepat dari usia kami yang sebenarnya.
Di sela-sela kegiatan kuliah yang padat dan jadwal latihan bermusiknya, Rian akhirnya menerima tawaran magang di sebuah perusahaan perdagangan.
Katanya, musik tetap akan menjadi rumahnya. Namun, untuk sementara dia harus belajar mencintai pekerjaan yang mungkin nggak pernah dia impikan.
Aku sempat memprotes keputusan itu. Aku takut dunia membuatnya berubah. Namun Rian hanya tertawa sambil mengacak rambutnya sendiri.
Katanya, seseorang harus memastikan dapur rumah kami nanti tetap mengepul.
—————
Tanpa sadar, Ghea tersenyum tipis karena dia dapat merasakan sisi lain dari seorang Rian. Pemuda itu bukan hanya romantis yang hidup bersama gitarnya tapi juga seseorang yang rela menurunkan egonya sedikit demi sedikit demi perempuan yang dicintainya.
—————
Setiap pagi kami sama-sama berangkat kuliah. Aku membawa setumpuk buku ekonomi, sementara Rian membawa tas yang isinya bercampur antara laporan magang dan buku kuliah.
Sore hari kami sering bertemu di halte atau kantin. Kadang dia datang terlambat karena baru selesai bekerja.
Aku selalu berpura-pura marah kalau dia lupa makan siang. Padahal diam-diam aku bangga melihat betapa keras kepalanya dia memperjuangkan masa depan kami.
Rian sering pulang larut malam dengan gurat lelah yang tercetak jelas di wajahnya. Namun, senyumnya nggak pernah hilang setiap kali melihatku membukakan pintu rumah kontrakan kami yang sempit.
Kami melewati hari-hari bahagia itu bersama-sama. Walau secara ekonomi keadaan kami masih belum stabil dan uang belanja selalu mepet, tawa Rian selalu berhasil membuat sudut rumah ini terasa hangat.
Kami bertekad untuk berjuang hingga lulus menjadi Sarjana Ekonomi bersama-sama.
—————
Ghea menarik napas perlahan. Dadanya terasa berdesir ketika membaca bagian itu. Rahma dan Rian pernah berjuang hancur-hancuran namun sebahagia itu.
Tulisan Rahma semakin lama semakin terasa seperti potongan-potongan foto yang hidup. Menceritakan Rahma muda bersama Rian saat di bangku kampus dan rumah kontrakan mereka.
Ada canda dan tawa mereka saat menghadapi kesulitan hidup. Ada juga kopi hitam tanpa gula yang menjadi kebiasaan Rian. Serta gitar yang selalu dimainkan pemuda itu sambil bernyanyi. Impian mereka terasa begitu dekat.
—————