Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #19

Bab 18. Pecahnya Keheningan

Malam sebelumnya berakhir tanpa jawaban. Kalimat terakhir di buku harian mamanya masih bergema di dalam rongga kepala Ghea bahkan ketika warna langit di luar jendela mulai berubah terang oleh cahaya pagi.

Ghea nyaris tidak tidur di malam itu. Dia sudah terjaga jauh sebelum alarm berbunyi dan hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil merasakan udara pekat yang menekan dadanya semalaman

​Pagi datang membawa seberkas cahaya yang menyilaukan. Sepasang mata Ghea yang memerah dan sembap menjadi saksi bisu bagaimana dia terjebak semalam suntuk oleh teka-teki kalimat gantung dari goresan tinta hitam buku harian mamanya.

Aku hampir tak memilihmu ....

©*©

Ghea sengaja turun ke lantai bawah setengah jam lebih awal dari jam biasanya. Bau harum nasi goreng dan aroma kopi hitam yang berbaur di ruang lantai bawah tidak mengusik selera makannya.

Dia tidak butuh sarapan. Yang Ghea butuhkan hanyalah meloloskan diri dari ruang makan sebelum semua topeng kepalsuan di rumah ini dipasang rapi.

​"Ghee ... kok sudah rapi? Sini, sarapan dulu, Sayang. Mama baru selesai bikin nasi goreng kesukaanmu," panggil mamanya dari balik meja konter dapur.

Sementara tangannya masih sibuk menata piring dengan senyum hangat keibuan yang biasa. Senyum yang kini, di mata Ghea, terasa seperti lapisan pelindung dari sebuah rahasia besar.

​Di kursi makan, Baskoro yang sedang membaca koran digitalnya, mendongak lalu menatap putri sulungnya dengan kerutan tipis di dahi.

"Tumben pagi sekali, Ghee ...? Kamu ada kelas jam pertama?" tanya Baskoro. Sementara Rahma ikut memperhatikan putri sulungnya itu.

​Langkah Ghea terhenti di dekat meja makan. Tangannya mencengkeram tali ransel di pundak begitu erat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. Dia memaksakan sebuah anggukan kepala pelan meski terasa canggung untuk menghindari tatapan mata ke dua orang tuanya.

​"Iya, Pa, Ma. Ghea ada tugas kelompok yang harus dikumpul sebelum jam kuliah mulai. Jadi harus buru-buru ke kampus." Suaranya terdengar datar dan dingin, bahkan di telinganya sendiri. "Ghea berangkat ...."

​Tanpa menunggu jawaban atau mencium tangan kedua orang tuanya, Ghea bergerak cepat melangkah lebar-lebar menuju pintu depan.

Dia bisa merasakan tatapan bingung Rahma dan Baskoro. Karena sikapnya telah meninggalkan keheningan canggung di ruang makan yang hangat itu.

©*©

Hari itu kampus terasa seperti tempat yang asing bagi Ghea. Setelah seharian di sana, dia merasa seperti raga tanpa jiwa. Kata demi kata dari dosen yang menggema di ruang kuliah berlalu begitu saja di telinganya. Fokusnya telah habis terperangkap pada lembar terakhir yang menggantung di dalam buku harian mamanya.

Ketika jam kuliah pertama selesai, Devan sudah berdiri di dekat pintu kelas. Cowok itu mengajak Ghea ke kantin.

Suasana kantin kampus yang bising oleh dentang sendok dan gelak tawa mahasiswa teredam oleh rasa lelah di telinga Ghea.

"Aku tahu dari muka kamu kalau semalam kamu lanjut baca lagi," kata Devan.

Mereka duduk di sudut kantin dekat jendela. Secangkir es teh di depan Ghea sudah mencair sebagian tanpa tersentuh, sementara jemarinya bergerak gelisah di atas permukaan meja.

​"Ghee, lo pucat banget. Benaran nggak mau makan sesuatu dulu?" Devan menatapnya cemas, menghentikan aktivitas mengaduk minumannya sendiri.

Ghea tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan buku harian mamanya dari dalam tas lalu mendorongnya perlahan ke arah Devan.

"Aku selesai baca semuanya." Ghea menatap Devan.

"Semuanya?" Devan mengernyit. Ghea hanya mengangguk pelan.

"Dan ternyata enggak ada akhirnya." Ghea membuka halaman terakhir. Jari telunjuknya berhenti tepat pada tulisan yang mulai pudar dimakan usia.

Lihat selengkapnya