Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #20

Bab 19. Air Mata Rahma

Rumah yang selama ini menjadi tempat pulang bagi Ghea perlahan berubah menjadi ruang pengadilan yang dingin.

Ghea masih berdiri dengan napas memburu. Dadanya naik turun tidak teratur. Jemarinya mengepal begitu erat hingga kukunya menekan telapak tangan sendiri.

Dia sudah bersiap menghadapi kemarahan. Sudah bersiap menghadapi teriakan. Dan sudah bersiap mendengar pembelaan atau penyangkalan dari mamanya.

Namun Rahma tidak melakukan semua itu. Perempuan paruh baya itu justru melangkah semakin dekat. Lalu, sebelum Ghea sempat memahami apa yang sedang terjadi, kedua lengan Rahma telah memeluk tubuhnya begitu erat dan hangat tapi rapuh.

"Mama ... lepas!" Ghea tersentak syok. Tubuhnya seketika menegang kaku seperti batu. Rasa marah yang menguasai kepalanya menolak ditenangkan begitu saja.

Kedua telapak tangan Ghea naik dan secara reflek mendorong bahu mamanya. "Lepasin Ghea, Ma! Jawab pertanyaan Ghea! Jangan kayak gini!"

Namun, Rahma justru semakin mempererat pelukannya dan tidak memedulikan penolakan Ghea. Tubuh perempuan paruh baya itu berguncang hebat.

"Ghea ...." Suara Rahma pecah menjadi bisikan yang nyaris hilang ditelan isak tangisnya.

"Maafkan Mama," bisik Rahma di telinga Ghea, suaranya tercekik kedukaan yang teramat dalam.

"Aku capek, Ma ...." Kalimat pengakuan itu keluar begitu saja dari bibir Ghea. Pelan dan terdengar serak.

"Mama tahu." Rahma menggenggam bahu putri sulungnya lebih erat.

"Ghea capek mikir rumah ini bohong ... capek mikir Mama enggak pernah bahagia."

"Mama tahu." Air mata Rahma kembali jatuh.

Rahma menarik napas panjang sebelum akhirnya berbisik pelan di dekat telinga putrinya. "Cerita di buku itu memang belum selesai, Ghee ... masih ada lembar terakhir."

"Apa?" Tubuh Ghea menegang.

Rahma mengangguk perlahan. "Mama berhenti menulis di buku itu."

"Kenapa?"

Lihat selengkapnya