Ghea menatap wajah mamanya yang sembap dengan ribuan pertanyaan yang berdesakan di ujung lidah. Dia ingin berteriak menuntut di mana lembar lanjutannya itu disimpan saat ini juga.
Kalau cerita itu memang belum selesai ... lalu di mana bagian akhirnya?
Namun, matanya beralih pada Bayu yang masih berdiri kokoh bagai tembok pelindung di depan Rahma. Tatapan dingin dan kecewa dari adiknya itu seketika membungkam mulut Ghea. Gadis itu sadar bahwa dia tidak sanggup membuat mamanya menangis sekali lagi hari itu.
Aku sudah cukup merusak semuanya untuk hari ini. Aku enggak bisa maksa Mama lagi. Enggak sekarang. Enggak di depan Bayu. Bayu menatapku seolah aku adalah monster yang kejam, batin Ghea getir.
Tanpa berkata apa-apa, Ghea mengambil buku harian itu dari atas meja dapur.
"Ghea ...." Rahma memanggil pelan.
Namun putri sulungnya itu hanya mengangguk singkat sebelum berbalik ke arah tangga. Kemudian langkahnya cepat setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dapur menjadi sunyi setelah Ghea pergi. Bayu hanya bisa menatap tangga tempat Ghea menghilang, lalu berbalik menghadap Rahma.
"Ma ... Kak Ghea kenapa?" tanya Bayu, suaranya sarat akan kebingungan anak remaja yang terpaksa menyaksikan badai emosi orang dewasa.
Rahma hanya tersenyum getir sambil mengusap lembut bahu anak laki-lakinya kemudian terdiam beberapa menit. Matanya menatap talenan yang masih dipenuhi potongan sayur yang belum selesai.
"Ada beberapa orang yang terluka bukan karena dibenci." Rahma memandang Bayu. "Mereka terluka karena terlalu takut kehilangan sesuatu yang mereka sayangi."
"Aku nggak ngerti." Bayu mengernyit.
"Kakakmu cuma sedang mencari jalan pulang. Mama dulu juga sering begitu." Rahma mengusap pelan rambut Bayu.
©*©
Braakkk ...!!!
Ghea menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam. Dia melempar buku harian tua itu ke atas meja belajar, lalu mendudukkan tubuhnya yang lelah di atas kursi. Gadis itu menatap langit-langit kamarnya sambil merenungkan seluruh prasangka yang telah dia bangun selama ini.
Sinar matahari sore jatuh miring dari jendela dan membelah kamar Ghea menjadi dua bagian. Separuhnya terang dan separuhnya lagi gelap. Persis seperti pikirannya sekarang.
Rumah ini, kehangatan keluarga, senyum mama ... apakah semuanya benar-benar dibangun di atas fondasi kebohongan?
Di tengah kekacauan itu, sebuah kesadaran menghantam kepalanya. Ada satu bagian cerita dari buku harian mamanya yang belum dia baca. Bagian yang hilang. Sebuah ruang kosong yang selama ini dia isi dengan ketakutan dan kemarahannya.
Sebuah ingatan kecil muncul di kepalanya. Kejadian pada hari ketika dia menemukan buku harian itu di lemari tua mamanya. Saat itu, ada satu benda lain yang dia bawa serta, yaitu sebuah kaset pita lama bertuliskan Untuk Rahma – R.
Ghea hanya menebak bahwa huruf "R" itu adalah Rian, tanpa pernah benar-benar memeriksa wadah kasetnya. Selama ini dia selalu menganggap kaset pita itu hanyalah simbol nostalgia mamanya dan tidak pernah membukanya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Ghea menarik laci kayu meja belajarnya. Kemudian mengambil kaset pita itu. Napasnya tertahan saat membuka penutup kaset itu.
Tangannya lalu menarik keluar kertas sampul kaset yang sudah menguning dimakan usia. Di balik sampul itu terselip selembar kertas yang dilipat kecil dan rapi. Kertas itu tampak usang dan sudut-sudutnya menguning.
Ghea membuka perlahan lipatan-lipatan kertas yang telah berusia lebih dari dua puluh tahun. Bau kertas tua yang khas langsung menguar. Dia meletakkannya di atas meja lalu meratakan pelan dengan telapak tangannya.
Di lembar muka dari kertas itu tertulis deretan aksara dua paragraf singkat dengan tinta hitam. Tulisan itu lebih tegas, lebih lurus, dan lebih teratur. Ghea tahu, itu bukan tulisan tangan mamanya.
—————
Rahma, Sayang,
Aku tahu impianmu ke luar negeri adalah segalanya bagimu. Aku tahu betapa kerasnya kamu belajar untuk mendapatkan beasiswa itu. Tapi mendengar kabar tentang 'kehidupan kecil' di dalam rahimmu ... aku sadar kita nggak bisa lagi lari dari kenyataan.
Aku tahu ini nggak akan mudah, dan dunia di luar sana sangat keras. Tapi aku siap mendukung apa pun keputusan yang kamu ambil. Jika kamu memilih untuk melipat semua impianmu dan menetap di sini, aku siap menemani menghadapi dunia yang keras ini bersamamu sebagai orang tua. Kita akan membesarkan anak ini bersama-sama.
————