Malam sunyi di rumah kos Devan. Dia baru saja menyeduh kopi hitam instannya dan berniat menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk di atas meja belajarnya.
Baginya, kesunyian malam seperti ini adalah sebuah pelarian dari kepalanya sendiri yang sering bising memikirkan keretakan rumah tangga orang tuanya. Namun, kesunyian itu hancur berantakan dalam satu hentakan kasar.
Kraaakkk ...!!!
Terdengar suara benda berat digeser kemudian disusul suara motor masuk ke halaman dan segera dimatikan mesinnya. Belum sempat Devan beranjak dari kursinya, pintu utama rumah kosnya sudah digedor berulang kali dengan ketukan yang cepat dan tidak beraturan.
Devan melangkah cepat menuju pintu utama dan membukanya. Sosok Ghea langsung terdorong ke depan, nyaris menubruk dadanya. Devan segera menangkapnya.
"Ghea ...?"
"Aku ... aku tahu sekarang, Van! Aku ... tahu semuanya!" Kalimat Ghea terputus oleh napasnya yang tersengal.
Dia berdiri dengan tubuh gemetar. Matanya sembap, merah, dan tatapannya dipenuhi keputusasaan.
"Tenang, Ghee ...! Hei ... tatap aku! Tarik napas dulu," ucap Devan berusaha menahan kepanikan yang merayap di dada Ghea.
Dia memegang pergelangan tangan Ghea, mencoba menenangkan badai yang sedang melanda gadis yang pernah menjadi pacarnya itu. "Ada apa kamu malam-malam ke sini?"
"Semuanya bohong, Van ... semuanya palsu!" Ghea meracau. Suaranya melengking tinggi nyaris histeris.
Air mata yang sempat mengering kini kembali meluncur deras membasahi pipinya. "Rumah itu, kehangatan Mama ... semuanya dibangun di atas kebohongan! Aku baru baca ... aku baru tahu semuanya malam ini!"
Devan mengernyitkan dahi, "Apa yang palsu? Siapa yang berbohong?"
"Papa! Mama!" Napas Ghea semakin memburu hingga suaranya terdengar tercekat di tenggorokan.
"Aku ... bukan anak Papa, Van!" Ghea kembali bicara.
"Apa?" Devan tersentak.
"Aku anak Rian." Tangis Ghea pecah lagi. "Mama hamil sebelum mereka nikah!"
"Ghee, duduk dulu. Tolong, duduk dulu," Devan menuntun tubuh Ghea yang lemas untuk duduk di sofa ruang tamu.
Bagi Devan, cerita Ghea masih terlalu mengambang, bercampur aduk dengan kemarahan dan rasa syok yang telanjur membutakannya.
Devan berbalik mengambil segelas air putih dari dispenser dan menyodorkannya ke tangan Ghea yang masih bergetar. "Minum dulu pelan-pelan. Cerita ke aku dari awal apa yang sebenarnya kamu temukan?"
Tapi Ghea tidak menyentuh gelas itu. Dengan gerakan kasar dia merogoh tasnya mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning dan sebuah kaset pita tua, lalu melemparkannya ke sofa.
"Aku nemuin surat ini ... nemuin tulisan terakhir Mama ... kaset itu ... semuanya. Baca ini, Van!" Ghea terisak dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
Devan menatap kaset pita bertuliskan Rahma - R dan kertas usang di samping dia duduk. Dalam beberapa detik dia membiarkan kesunyian mengambil alih kamarnya sejenak.
Tangannya meraih kertas usang itu kemudian menyusuri deretan kalimatnya. Dia siap menyelami kegilaan yang baru saja meruntuhkan seluruh hidup gadis yang baru saja menjadi mantan pacarnya.
Devan membaca bait demi bait tentang 'dunia kecil' yang bertumbuh, tentang formulir beasiswa Belanda dan dokumen Australia yang ditinggalkan, hingga lagu perpisahan dari sosok bernama Rian.
Sebagai anak yang tumbuh di tengah reruntuhan rumah tangga yang hancur berantakan, Devan sudah terbiasa melihat keputusan-keputusan dewasa dari sudut yang paling dingin.
Dia tahu rasanya ditinggalkan. Ibunya sendiri memilih pergi mengejar karier dan ego akademisnya ke luar kota dan tidak pernah kembali. Karena itulah sudut pandangnya langsung berbenturan keras dengan apa yang ada di kepala Ghea.
Devan menurunkan kertas itu, lalu menatap Ghea yang masih terisak dengan bahu yang naik turun. "Mamamu nggak pergi, Ghee. Dia memilih bertahan. Itu bukan pengkhianatan, itu pengorbanan."
Ghea mendongak seketika. Tangisnya terhenti, digantikan oleh kilat amarah yang menyala di sepasang matanya yang sembap.
"Pengorbanan?" Suara seraknya meninggi. "Setelah punya anak, Mama malah pergi meninggalkan Rian dan menikah dengan Papa, itu kamu sebut pengorbanan, Van? Di mana logikanya?"