Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #23

Bab 22. Kebenaran Tentang Papa

Dari teras rumah, Rahma menuntun Ghea masuk ke dalam. Tepat saat daun pintu ditutup. Baskoro melangkah keluar dari kamarnya. Dia rupanya sudah pulang kerja sejak tadi dan sengaja menunggu putri sulungnya di dalam kamar.

Baskoro memandang Ghea dengan dahi berkerut. "Ghee ... kamu dari mana?" Tidak ada jawaban. "Kamu baik-baik saja?"

Baskoro melangkah cepat mendekat. Suara berat yang biasanya terdengar menuntut itu, malam ini terdengar begitu penuh kekhawatiran.

Ghea hanya mengangkat wajah sebentar. Tatapannya bertemu dengan mata papanya. Dia melihat lelaki itu bukan lagi sebagai sosok yang dingin, melainkan sebagai seseorang yang menyimpan kehidupan yang sama sekali tidak pernah dia kenal.

Bayangan wajah Rian yang rela mengubur seluruh impian dan jiwanya demi menyambut kehadirannya ke dunia, kini tumpang tindih dengan wajah lelah Baskoro di depannya.

​Dadanya kembali sesak dan bibirnya tidak mampu mengucapkan apa pun. Ghea langsung menunduk dalam-dalam. Pertahanannya runtuh, dan air matanya meluncur deras tanpa suara. Bahunya berguncang hebat.

"Sebenarnya ada apa?" Baskoro menoleh ke arah istrinya.

"Biarkan Ghea istirahat dulu, Pa." Rahma mengusap pelan sudut matanya sebelum memaksakan senyum yang sangat tipis.

"Tapi ...."

"Nanti Mama jelaskan. Sekarang jangan ditanya dulu," potong Rahma.

Baskoro terdiam. Dia telah mengenal istrinya begitu baik. Kalau Rahma berkata belum waktunya, berarti memang belum waktunya. Dia hanya mengangguk kecil.

"Kalau begitu ... pastikan dia makan."

"Iya, Pa ...." Rahma mengangguk.

Perempuan paruh baya itu kemudian mengikuti langkah putrinya menaiki tangga. Di depan kamar, Ghea masih berdiri mematung setelah membuka pintu kamarnya. Rahma mendekat perlahan.

"Ghee ... kamu nggak usah mikirin apa-apa malam ini."

Ghea masih diam. Air matanya kembali menggenang. Rahma mengusap rambut putrinya dengan lembut, seperti ketika masih kecil. Kemudian menuntunnya masuk ke dalam kamar.

"Tidur dulu, ya." Rahma membantu Ghea merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur.

"Aku ...."

"Besok aja." Rahma menggeleng pelan.

Ghea akhirnya mengangguk pelan. Rahma melangkah ke luar kamar sambil menutup pintu perlahan.

©*©

Sinar matahari pagi masuk menembus celah-celah jendela ruang makan. Suara denting sendok pun beradu dengan piring di atas meja makan. Namun, kehangatannya sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer canggung yang menggantung di sana.

​"Kak Ghea sakit, Ma? Tumben jam segini belum keluar," tanya Bayu memecahkan kesunyian. Matanya melirik sebentar ke arah kursi di sebelahnya yang masih kosong kemudian bergantian menatap Rahma dan Baskoro.

"Mungkin cuma butuh istirahat." Rahma tersenyum tipis.

​Baskoro yang sedang mengoles mentega pada rotinya menghentikan gerakannya sejenak. Dia mendongak, menyadari kursi putrinya masih kosong. Laki-laki itu menatap Rahma dengan kening berkerut.

"Ghea belum bangun?" tanya Baskoro singkat.

"Masih tidur," jawab Rahma sambil menuangkan teh ke dalam gelas.

Baskoro tidak bertanya lebih jauh. Kesibukan dunia kerja dan karakternya yang kaku membuatnya terbiasa menyimpan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala.

"Nanti kalau bangun suruh makan," ucap Baskoro. Rahma mengangguk.

Bayu sesekali melirik ke arah tangga. Dia menyadari ada ketegangan yang tidak biasa di antara orang-orang dewasa di rumah ini.

Baskoro menghabiskan potongan terakhir rotinya kemudian bangkit dari kursi sambil merapikan lipatan lengan kemejanya. Setelah itu mengambil tas kerja dan menghampiri Bayu.

"Belajar yang rajin."

"Iya, Pa."

Sebelum melangkah keluar rumah untuk berangkat kerja, pandangan mata Baskoro sempat tertuju pada pintu kamar Ghea yang tertutup rapat. Ada gurat kesedihan dan kelelahan di matanya.

Beberapa menit kemudian Bayu juga berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Dan dalam sekejap, rumah besar itu mendadak berubah menjadi sunyi senyap. Hanya menyisakan Rahma sendirian di dapur, bersiap untuk menghadapi kebenaran yang sudah saatnya dibuka.

©*©

Rahma mengetuk pintu kamar Ghea sambil memanggilnya, "Ghee ...."

Tidak ada jawaban. Rahma membuka pintunya perlahan dan berdiri di sana. Suasana kamar terasa hening saat itu. Ghea yang duduk di tepi kasur dengan bahu merosot mendongak.

"Mama ...." Ghea bangkit lalu menghambur memeluk Rahma. Tangis yang sejak semalam dia tahan akhirnya pecah tanpa sisa. Rahma memeluknya erat.

"Maafin Ghea ...." Kalimat itu keluar berulang-ulang di sela isak tangisnya.

Lihat selengkapnya