Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #24

Bab 23. Aku Hampir tak Memilihmu

Cahaya matahari pagi masuk melalui celah tirai jendela kamar Ghea yang belum terbuka. Sebagian cahayanya membentuk garis-garis terang di lantai, sementara sebagian lagi jatuh tepat di atas lembaran buku harian usang yang tergeletak di atas meja belajar.

​Buku itu telah menjadi saksi, bahwa rahasia yang selama puluhan tahun terkunci kini akhirnya menemukan jalan pulang.

​Rahma masih duduk di sisi tempat tidur. Tangisan Ghea yang tadinya riuh perlahan mereda, menyisakan isak kecil yang sesekali masih mengguncang bahunya. Tidak ada lagi amarah di antara mereka. Yang tersisa hanyalah kelelahan, penyesalan, dan keheningan yang perlahan memberi ruang untuk saling memahami.

​"Ada satu kalimat di akhir buku itu yang belum Mama jelaskan," ucap Ghea pelan.

​Ghea mengangkat wajahnya yang sembap. Kalimat itu masih terngiang begitu jelas di kepalanya. Sejak pertama kali membacanya, kalimat itulah yang menjadi sumber utama dari segala prasangka, kemarahan, dan ketakutannya.

​"Itu maksudnya apa, Ma?" suara Ghea nyaris berbisik. "Apa benar ... Mama sempat menyesal punya aku?"

​Rahma tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang, lalu menatap kedua telapak tangannya sendiri. Di sana, terbayang kembali sosok perempuan muda yang pernah menjadi dirinya lebih dari dua puluh tahun silam.

​"Kalau Mama menjawab 'iya' tanpa menjelaskan semuanya, itu akan terdengar sangat kejam," jawab Rahma lirih.

Bulir bening kembali memenuhi pelupuk mata Ghea. Rahma dengan sigap menggenggam jemari putrinya. "Dengarkan Mama sampai selesai, ya?"

​Ghea mengangguk pelan.

​"Setelah Mama dan Papa menikah, hidup kami berubah jauh lebih cepat dari yang pernah kami bayangkan." Rahma menghela napas.

"Rumah kontrakan pertama kami bahkan nggak lebih besar dari ruang tamu rumah ini. Atap sengnya sering bocor kalau hujan turun, dindingnya lembap, dan kipas angin tua di langit-langit hanya berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi berderit."

​"Papamu mulai menggunakan nama Baskoro Adrian dalam setiap dokumen pekerjaannya. Dia berangkat sebelum matahari terbit dan sering kali baru pulang ketika malam hampir berganti hari."

​"Kemeja yang dipakainya setiap pagi selalu licin dan rapi. Tapi begitu pulang, kemeja itu sudah dipenuhi garis-garis kusut akibat seharian memeras keringat. Wajahnya selalu menyimpan kelelahan yang nggak pernah dia keluhkan pada Mama."

​Rahma mengusap ibu jarinya di punggung tangan Ghea.

"Sementara Mama ... semasa kuliah begitu sibuk mengejar seminar, organisasi, perlombaan akademik, dan formulir beasiswa. Tapi setelah berkeluarga, Mama menghabiskan hari-hari sendirian di kontrakan sempit. Suara tangisan bayi yang belum mengenal siang dan malam menggantikan melodi gitar yang dulu sering dimainkan Papamu."

​"Kamu sering menangis berjam-jam waktu masih bayi," ujar Rahma lirih dengan senyum sendu. "Mama waktu itu bahkan belum tahu bagaimana caranya menjadi seorang ibu."

​Ghea menunduk dalam-dalam.

​"Uang selalu kurang. Gaji Papamu habis untuk sewa kontrakan, beli susu, dan kebutuhan harian. Mama beberapa kali diam-diam menghitung sisa uang belanja sambil menangis karena takut besok nggak punya cukup uang." Rahma berhenti sejenak.

"Tapi yang paling berat bukan soal uang, Ghe. Yang paling berat ... Mama merasa kehilangan diri Mama sendiri."

​Ghea mendongak, menatap mamanya.

Lihat selengkapnya