Jam dinding di ruang tamu terus berdetak seperti biasa. Namun bagi Ghea, setiap detiknya terasa berjalan jauh lebih lambat. Waktu seolah sengaja memperlambat langkah agar dia benar-benar meresapi beratnya penyesalan yang sejak pagi memenuhi dadanya.
Ghea duduk di ujung sofa dengan kedua tangan saling menggenggam erat di pangkuan. Berkali-kali dia menoleh ke arah pintu depan, lalu berjalan mendekat ke jendela kaca yang terbuka.
Gadis itu memandangi jalan di depan pagar rumah, baginya setiap suara kendaraan yang melintas bisa menjadi jawaban dari penantian panjang yang sejak tadi memenuhi dadanya.
Sementara angin sore membawa aroma tanah yang masih menyimpan sisa panas matahari. Embusannya membelai lembut wajah Ghea dan memburai helaian rambut hitam panjangnya.
Selama ini Papa selalu pulang seperti ini. Lelah. Diam. Membawa seluruh beban rumah di bahunya. Dan aku bahkan enggak pernah benar-benar menunggunya pulang. Ghea lalu menundukkan kepala.
Dadanya kembali sesak ketika mengingat setiap prasangka yang selama berminggu-minggu dia bangun sendiri. Semua potongan cerita yang dibacanya dari buku harian Rahma telah berubah menjadi tuduhan.
Dari dapur, Rahma mendekat membawa segelas teh hangat. "Minum dulu, Ghe," ucapnya lembut.
Ghea memalingkan wajah, menatap ibunya dengan mata yang masih sembap. Dia menerima gelas itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Ma."
Rahma mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah gerbang rumah. "Kamu nunggu Papa pulang, ya?"
"Iya ...," bisik Ghea pelan.
"Papa memang sering pulang agak malam." Senyum tipis terukir di bibir Rahma.
"Aku enggak apa-apa nunggu, Ma."
"Nanti kalau Papa pulang ... nggak usah bingung harus ngomong apa." Rahma mengusap lembut pucuk kepala putrinya seperti yang sering dia lakukan saat Ghea masih kecil.
"Maksud Mama?" Ghea mendongak.
"Papa nggak butuh kata-kata yang rumit, Ghee. Cukup jadi Ghea saja." Rahma tersenyum hangat sebelum kembali melangkah ke dapur.
Ghea tertegun. Tenggorokannya kembali terasa tersumbat. Selama ini dia selalu mengira papanya tidak peduli dan kaku. Dia menghakiminya tanpa pernah memberi kesempatan untuk menjelaskan apa pun. Yang lebih menyakitkan, dia melukai orang yang selama ini justru paling banyak berkorban untuk keluarga ini.
Rahma sempat menoleh sekali lagi. Perempuan itu masih melihat putrinya berdiri di depan jendela memandangi jalan yang mulai diselimuti gelap. Hati Rahma menghangat karena Ghea benar-benar sudah menemukan jalan pulang.
©*©
Malam merambat perlahan. Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Saat jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat seperempat, deru mesin mobil yang sangat dihafal Ghea berhenti di depan gerbang. Seorang pria paruh baya turun dengan gerakan lambat, lalu menggeser pintu pagar.