Matahari datang tanpa tergesa-gesa. Cahayanya merambat perlahan melewati sela-sela gorden kamar Ghea, menghamparkan garis-garis tipis keemasan di atas lantai yang semalam dipenuhi air mata dan penyesalan.
Pagi itu rumah terasa sama seperti hari-hari sebelumnya. Dari arah dapur terdengar denting sendok beradu pelan dengan piring. Aroma tumisan bawang putih bercampur wangi teh hangat memenuhi udara, berpadu dengan suara samar televisi dari ruang keluarga sebelum Bayu berangkat sekolah.
Namun bagi Ghea, pagi ini terasa berbeda. Dia masih di kamarnya dan tidak lagi terbangun dengan dada yang sesak oleh prasangka. Rasa bersalah memang masih membayang, terutama kepada Rahma, Baskoro, dan seseorang yang sejak awal tidak pernah lelah memintanya berpikir jernih ... Devan.
Nama itu hadir begitu saja di benaknya. Terbayang teras kos yang diterangi lampu kekuningan, gelas kopi yang mendingin, dan wajah Devan yang berkali-kali memintanya agar tidak menyimpulkan sebuah kisah hanya dari membaca beberapa lembar kertas saja.
"Kamu baru membaca sebagian cerita." Kalimat Devan terngiang kembali. Kini Ghea mengerti, bukan hanya isi buku harian Rahma yang belum selesai dia pahami, melainkan cara pandangnya terhadap hidup dan cinta yang selama ini belum dewasa. Ghea mengusap wajahnya pelan, mengukir senyum tipis yang terasa sedikit pahit. Aku benar-benar keras kepala ya, Van.
"Ghee ...." Ketukan lembut terdengar di pintu kamar.
"Iya, Ma."
"Boleh Mama masuk?"
"Pintu enggak dikunci, Ma."
Rahma menjulurkan satu tangan mendorong pintu perlahan. Sementara tangan lainnya membawa nampan berisi sepiring roti panggang dan segelas teh hangat, yang seketika menyebarkan aroma mentega lezat di dalam kamar.
"Kamu belum makan apa-apa." Rahma memberikan piring itu.
Ghea menerimanya sambil menatap perempuan paruh baya itu lekat-lekat. "Ma ...."
"Kenapa, Nak?" Rahma memperhatikan putri sulungnya.
"Aku ... hari ini boleh keluar sebentar?"
"Mau ke kampus?"
Ghea menggeleng pelan. "Mau ketemu Devan."
Rahma terdiam sejenak, lalu senyum hangat terlukis di wajahnya. "Pergilah. Tapi jangan lupa pulang, ya."
Kalimat itu mengembuskan kehangatan di dada Ghea. "Iya, Ma. Terima kasih."
©*©
Menjelang siang, langit membiru cerah tanpa sapuan awan. Dengan sepeda motornya, Ghea membelah jalanan kampus yang mulai dipadati mahasiswa. Begitu sampai di depan rumah kos Devan, dia mematikan mesin. Namun untuk beberapa saat, jemarinya masih mencengkeram setang motor.
Sudah tidak terhitung berapa kali Ghea datang ke tempat ini. Tapi rasanya tidak pernah sesulit hari ini. Gadis yang biasa mengucir acak rambut panjangnya itu menghela napas panjang sebelum akhirnya memantapkan langkah menuju pintu depan.
Jantungnya berdebar kencang saat mengetuk pintu. Devan muncul mengenakan kaus polos dan celana olahraga. Cowok itu tampak terkejut melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
"Ghea ...?"
"Hai!" Ghea melempar senyum canggung.