Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #27

Bab 26. Melodi Masa Lalu

Sore itu turun dengan tenang, membawa semburat jingga yang memantul di kaca-kaca jendela rumah.

Di ruang keluarga, Rahma sedang melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran sambil sesekali berbincang dengan Bayu yang duduk di lantai mengerjakan tugas sekolah.

Baskoro yang baru saja pulang dari kantor, menggantungkan tas kerjanya di sandaran kursi. Terdengar sapaan singkat Baskoro pada Rahma seperti hari-hari biasanya. Setelah itu hening, hanya ada tatapan mata saling mengerti.

Laki-laki paruh baya itu mengambil segelas air putih lalu menikmati keheningan rumah yang kini terasa jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu.

Angin berembus pelan menyusup melalui ventilasi dan jendela kaca yang masih terbuka, mengangkat aroma tanah yang baru saja disiram hujan singkat beberapa jam sebelumnya. Suasana itu membuat rumah yang selama berminggu-minggu dipenuhi hawa dingin dan kesalahpahaman perlahan kembali terasa hangat seperti rumah yang selama ini mereka rindukan.

©*©

Tok ... tok ... tok ...!

Terdengar suara pintu rumah diketuk. Bayu segera beranjak menuju pintu depan dan membukanya.

"Mas Devan!" seru Bayu.

"Sore, Bayu ...." Devan tersenyum kecil sambil mengangkat tangan.

"Mama ... Kak Ghea ... Mas Devan datang."

"Masuk, Van." Rahma menoleh sambil tersenyum hangat.

"Permisi, Tante ... Om."

"Masuk." Baskoro ikut menganggukkan kepala.

Tidak banyak kata yang keluar dari laki-laki itu, tetapi kali ini senyum tipis di wajahnya terasa cukup untuk menyampaikan rasa terima kasih yang selama ini sulit dia ucapkan.

Ghea turun dari tangga dengan langkah pelan. Ke dua tangannya masing-masing menggenggam kaset dan buku harian mamanya. Tatapan matanya langsung tertuju pada Devan. Tidak ada lagi kecanggungan seperti beberapa hari sebelumnya. Ghea justru tersenyum lebih dulu. "Makasih udah datang."

Devan mengangguk ringan. "Aku cuma penasaran ... katanya ada sesuatu yang mau kamu tunjukin."

"Ada." Ghea mengangguk.

Gadis itu berjalan ke arah meja dan meletakkan dua benda yang ada digenggaman ke dua tangannya. Setelah itu kakinya melangkah lagi menuju lemari di ruang tamu. Tangannya membuka pintu kayu tua yang sejak lama jarang disentuh dan mengeluarkan sebuah tape recorder lama yang sudah kusam dimakan usia.

Bayu langsung mendekat. "Itu masih nyala?"

Lihat selengkapnya