AKU HARUS MENERIMA

FAJAR BASKORO
Chapter #5

KEHANCURAN YANG PELAN

Pagi itu, Raka duduk di meja makan dengan tumpukan kertas di hadapannya. Tagihan menumpuk: listrik, air, cicilan motor, biaya terapi anak, dan sewa rumah yang jatuh tempo minggu depan. Ia mengusap wajahnya yang kusut. Kantong matanya menghitam, dan rambutnya mulai memutih meski usianya baru menginjak 38.

Telepon genggamnya bergetar. Notifikasi masuk dari bank: saldo di bawah batas minimum.

Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka catatan anggaran. Ia sudah memangkas semua yang bisa dipangkas. Tidak ada lagi makan di luar, tidak ada hiburan, bahkan susu yang biasa ia beli untuk dirinya sendiri sudah lama dicoret dari daftar belanja.

Satu-satunya yang masih utuh adalah: kebutuhan Aqil dan Raya. Ia tak bisa memangkas terapi mereka. Tidak bisa.

Vina masih bekerja, tapi penghasilannya tak seberapa. Apalagi sejak ia jarang pulang tepat waktu dan kadang memilih menginap di rumah orang tuanya tanpa pemberitahuan. Raka tahu, itu bentuk pelarian. Tapi ia tidak sempat mengurus luka hatinya sendiri. Terlalu banyak yang harus ia selamatkan lebih dulu.

Suatu malam, setelah menidurkan anak-anak, Raka mendapati dirinya duduk di depan laptop tua yang sering ngadat. Ia mencoba mencari pekerjaan tambahan—freelance, jasa desain, pengetikan, apa pun. Tapi jam kerjanya sudah penuh, dan tubuhnya sudah tak mampu mengejar semua peluang itu.

Saat itulah ia mulai menggadaikan barang-barang. Jam tangan pemberian ayahnya. Kamera DSLR yang dulu dibeli untuk memotret masa kecil Aqil. Bahkan cincin pernikahannya sendiri, yang ia lepas diam-diam.

Suatu sore, ketika hujan turun deras, atap dapur mulai bocor. Ember ditaruh di tengah lantai, menampung air tetesan. Raka menatapnya lama.

Lihat selengkapnya