Hari Minggu itu langit mendung, dan udara lembab menyelimuti rumah kecil mereka. Raka duduk di teras, menatap jalan setapak yang kosong. Di tangannya ada secangkir teh yang sudah tak hangat. Dari dalam rumah, terdengar teriakan Aqil yang tengah tantrum. Raya, seperti biasa, duduk dalam diam, menggenggam balok warna merah kesayangannya.
Di tengah kekacauan itu, ponselnya berdering. Nama yang muncul: Ibu.
“Rak, kamu bisa pulang ke rumah sini? Bapakmu ulang tahun. Semua ngumpul.”
Raka menghela napas. “Aku coba, Bu. Tapi Aqil lagi tantrum. Raya juga belum mandi.”
“Kamu tuh, jangan selalu pakai anak sebagai alasan. Sekali-kali datang, dong. Udah lama kamu jauh dari keluarga.”
Kalimat itu seperti tusukan. Sekali lagi, ia harus menjelaskan kenyataan yang tak pernah mau didengar keluarganya.
“Bu, bukan alasan. Ini memang hidupku sekarang. Kalau Aqil sedang meledak, aku nggak bisa ninggalin. Raya pun butuh pendampingan penuh. Aku nggak bisa seenaknya pergi.”
“Ya tapi kamu itu juga anak kami! Kamu bukan cuma ayah dari mereka!”