Suatu pagi yang kelabu, Raka membuka jendela rumah dan membiarkan udara pagi yang lembab masuk. Di luar, suara anak-anak tetangga bermain sepak bola menggaung riang. Kontras sekali dengan suasana di dalam rumahnya yang murung dan sunyi.
Raya masih belum mau sarapan. Ia hanya menatap dinding, menggerakkan jari-jarinya di udara seolah sedang memutar film imajinasinya. Aqil, di sisi lain, sudah membongkar semua isi laci, mengejar bayangan cahaya dari jendela, dan tertawa keras sendiri.
Vina duduk di meja makan, memandangi piring kosong.
“Aku mimpi semalam,” katanya tiba-tiba.
Raka menoleh. Jarang sekali Vina membuka percakapan.
“Aku mimpi kita hidup normal. Anak-anak sekolah, kamu kerja tetap, aku bisa tidur delapan jam.”
Raka tidak tertawa. Tidak juga tersinggung. Ia tahu, di balik kata-kata itu ada rasa kehilangan yang belum selesai.
“Maaf,” ucap Vina cepat, seperti sadar ucapannya bisa menyakiti.