AKU HARUS MENERIMA

FAJAR BASKORO
Chapter #12

Epilog

Beberapa tahun telah berlalu.

Di ruang tamu kecil itu, yang dulu hanya berisi tumpukan mainan dan kursi plastik, kini ada rak buku anak-anak, beberapa gambar tempel hasil coretan Aqil, dan satu foto keluarga yang dibingkai seadanya. Wajah-wajah dalam foto itu tak sempurna—ada yang tak menatap kamera, ada senyum yang canggung—tapi penuh makna.

Raka duduk sendiri pagi itu, menulis sesuatu di buku catatan lamanya. Tangannya mulai keriput, tak lagi selincah dulu. Tapi pagi itu, ia merasa perlu menulis. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk menyimpan apa yang telah ia pelajari dari hidup ini.

“Aku pernah marah pada dunia, pada Tuhan, bahkan pada anak-anakku sendiri. Bukan karena benci, tapi karena lelah. Aku pernah merasa gagal, merasa dunia tak adil. Tapi hari demi hari, aku belajar. Bahwa menerima bukan berarti menyerah. Menerima adalah bentuk tertinggi dari mencintai.

Aku tak pernah membayangkan hidup seperti ini. Menjadi ayah dari anak-anak istimewa. Menjadi suami dari perempuan yang pernah hilang dan kembali. Menjadi manusia yang hancur berkali-kali dan terus bangkit, meski tertatih.

Aku belajar bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk pelukan atau kata manis. Kadang cinta hadir dalam bentuk pengorbanan diam-diam, dalam terjaga saat malam, dalam peluh dan tangis yang tak terlihat.

Aqil kini mulai membaca buku sendiri, walau masih terputus-putus. Raya bisa menatapku dan bilang, ‘Ayah, duduk sini.’ Hal-hal kecil itu membuat semua perjuangan terbayar.

Lihat selengkapnya