Kenangan seperti hujan. Datang tanpa permisi. Mengetuk jendela hati pada waktu tak terduga. Kadang turun perlahan. Menetes malu-malu. Kadang pula mengguyur deras. Membawa ingatan lama terkubur dalam-dalam. Arga mengenal betul rasa yang ditimbulkan oleh kenangan itu.
Sore, langit yang memayungi kota kecil tempat Arga dilahirkan pucat keemasan. Matahari merayap turun di balik deretan pohon flamboyan yang berjajar di sepanjang jalan tua. Semayup angin membawa aroma tanah yang baru disiram hujan siang tadi. Semua terasa begitu akrab. Seolah waktu tak pernah berlalu dari pagi hingga siang. Dari siang hingga sore. Dari sore hingga malam. Dari malam kembali pagi. Baginya, Kota itu bukan sekadar tempat pulang, namun lebih sebagai lembaran kenangan yang abadi di benaknya.
Ia berdiri di pinggir jalan, memandang deretan rumah-rumah. Sebagian telah berubah bentuk. Sebagian lainnya masih menyimpan wajah lama seperti orang-orang yang enggan mengalpakan masa silam. Dari kejauhan terdengar tawa anak-anak, mengejar layang-layang yang terputus benangnya.
Arga menarik napas panjang. Ada sesuatu yang bergetar dalam dada yang selama ini dikiranya telah terkubur oleh waktu. Bergumam liri, “Kenapa aku kembali?”
Pertanyaan itu berulang kali muncul sejak kereta yang membawa Arga dari kota perantauan berhenti di stasiun kecil pagi tadi. Ia datang tanpa rencana yang jelas. Tanpa alasan yang benar-benar ia pahami. Seolah ada tangan gaib yang menuntunnya kembali ke tempat itu. Tempat di mana segalanya dimulai. Tempat di mana hatinya pertama kali belajar mencintai.
Langkah Arga membawanya menuju taman tua di ujung jalan. Taman yang dahulu sering ia kunjungi ketika masa remaja di mana persoalan hidupnya belum terasa begitu rumit. Pohon-pohon trembesi masih berdiri tegap di tepian taman itu. Memayungi bangku-bangku kayu yang mulai lapuk diranggas usia.
Di taman itu, dulu Arga sering duduk bersama seseorang yang namanya singgah di dalam hatinya. Larasti. Nama itu kembali bergaung di dalam benaknya. Semasih mimpi-mimpinya masih sahaja, Larasti adalah segalanya. Hingga ia percaya bahwa cinta pada gadis itu adalah sesuatu yang indah dan abadi. Namun perjalanan hidup sering memiliki cara sendiri untuk menguji keyakinannya.
Suatu hari Larasti menghilang seperti kabut yang ditelan matahari pagi. Ia meninggalkan Arga bersama segudang pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban. Hari-hari seusai kepergian gadis itu, ia terasa dihadapkan pada musim kemarau panjang. Kering, sunyi, dan melelahkan.