Sore turun perlahan seperti seseorang yang bimbang untuk pergi. Langit menggantungkan warna jingga samar-samar, seolah menahan sesuatu yang belum sempat diucapkan.
Arga berdiri di tepi jalan kecil yang membelah bentangan sawah, tempat yang dulu sering ia lewati tanpa beban. Kini, setiap langkah terasa seperti membuka kembali lembaran yang sudah lama ia lipat rapat-rapat. Ia tak pernah siap untuk pulang. Karena kepulangannya yang semula dianggap sebagai langkah baru, justru terasa perjalanan menuju kisah yang belum tamat.
Arga menghela napas panjang. Bayangan wajah Larasti masih terpatri dalam ingatannya. Senyum yang ia hafal di luar kepala, tatapan mata yang dulu menjadi rumah singgahnya kembali terdedah. Seolah jarum waktu tak pernah bergerak.
Kenangan itu tidak hanya membuat Arga gelisah, namun pula perasaannya serasa tercabik-cabik oleh waktu yang selalu mengingatkannya.
Arga membiarkan langkah kecilnya ke arah tak berjuntrung. Angin sore menyentuh wajahnya, dingin, namun tak cukup untuk meredam gejolak dalam dadanya. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya—perasaan yang dulu ia kubur dalam-dalam, kini bangkit tanpa permisi. “Betapa kenangan itu tak pernah hilang. Ia selalu menunggu kepulanganku.”
***
Jauh di kota lain. Larasti berdiri di depan jendela kamarnya. Tirai tipis berayun pelan, membiarkan cahaya senja masuk dan menyelimuti ruangan dengan kehangatan samar. Namun dalam dirinya, tak ada kehangatan yang dirasakan. Hanya kegelisahan.
Pertemuan dengan Arga siang tadi seperti membuka pintu yang selama ini Larasati kunci rapat-rapat. “Aku pikir waktu telah menghapus segalanya. Aku pikir kepergian Arga adalah akhir cinta. Ternyata tidak. Ia masih ada. Lebih dari itu—perasaanku pun masih ada.”
Larasti memejamkan mata. Ia mencoba mengingat alasan mengapa dulu pergi tanpa sepatah kata. Bukan karena ia tak mencintai Arga. Justru karena cintanya terlalu besar, ia memilih untuk menghilang. Ada rahasia yang tak pernah ia ungkapkan. Rahasia yang jika Arga tahu, mungkin akan mengubah segalanya.
Larasati menggenggam erat tirai itu seolah mencari pegangan. Hatinya bergetar. Pertemuan dengan Arga bukan kebetulan. Ia tahu, cepat atau lambat, masa lalu yang belum usai akan menagih penjelasan. Ia tak yakin apakah akan memberikannya.
***
Malam datang tanpa suara. Arga duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi yang mulai dingin. Rumah itu terasa sunyi, meskipun dulu penuh dengan tawa. Ia memandangi halaman depan, mencoba menemukan ketenangan yang selama ini dicarinya.
Pikiran Arga kembali melayang pada pada Larasti, masa lalunya. Tanpa disadari, ia membandingkan antara antara Larasti dan Nadira.
Nadira, ya Nadira. Nama itu menghadirkan rasa yang berbeda. Tidak bergelora seperti Larasti, tetapi hangat dan menenangkan. Nadira tak pernah memaksa. Ia hadir dengan kesabaran seperti seseorang yang mengerti bahwa cinta tak selalu harus gaduh.
Arga menunduk. Ia merasa bersalah. Karena dalam waktu bersamaan, ia memikirkan dua perempuan dengan cara berbeda. Larasti adalah kenangan yang belum selesai. Nadira adalah kenyataan yang selalu menahannya untuk tetap berdiri. Ia mengusap wajahnya kasar. “Kenapa harus sekarang…?”