Aku, Ia, Kau dalam Luka yang Sama

Sri Wintala Achmad
Chapter #3

PULANG KE KOTA KENANGAN

Pagi datang dengan cara berbeda—tak sekadar terang, tetapi terasa seperti seorang membuka kitab purba yang selama ini tertutup rapat. Matahari naik perlahan dari balik perbukitan, menyapu hamparan sawah dengan cahaya keemasan yang menenangkan.

Arga terbangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena ia ingin, melainkan karena pikirannya tak memberi ruang untuk beristirahat. Bayangan kemarin—pertemuannya dengan Larasti di taman, kata-kata yang menggantung, dan tatapan yang sarat luka—semuanya terasa begitu nyata.

Di tepi ranjang, Arga duduk. Mengusap wajahnya perlahan. Ia menyadari tak bisa terus seperti itu. Kepulangannya ke kota itu seharusnya menjadi awal baru, bukan jeratan yang semakin mengikatnya pada masa silam. Namun semakin ia mencoba menjauh, semakin kuat kenangan itu menariknya kembali. Seolah kota itu tak pernah membiarkannya pergi.

Hari itu, Arga memutuskan untuk keluar rumah. Berjalan tanpa tujuan pasti. Jalanan desa masih lengang, hanya beberapa orang yang mulai beraktivitas. Suara ayam berkokok bersahutan. Aroma tanah basah sisa embun pagi masih masih tercium hidungnya. Semua terasa akrab. Setiap sudut seperti menyimpan cerita. Setiap langkah seperti membuka kembali ingatan yang pernah ia jalani bersama Larasti.

Di tikungan jalan dekat warung tua, Arga berhenti. Tempat itu masih sama—bangunan sederhana dengan bangku kayu panjang di depannya. Dahulu, ia dan Larasti sering duduk di sana. Berbagi cerita yang terasa sepele namun kini begitu berarti.

Arga tersenyum tipis, meski hatinya terasa sesak.

“Masih ingat tempat ini, Arga?” Larasti kembali berdiri di hadapannya. Rambutnya tergerai tanpa banyak hiasan, wajahnya polos tanpa riasan berlebih. Namun justru itu yang membuatnya terlihat semakin nyata—bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai seseorang yang benar-benar ada di dalam hidupnya.

“Tempat yang susah dilupakan.” Arga menjawab pelan. “Susah dilepaskan dari benak kepala.”

Larasti tersenyum kecil, lalu duduk di bangku kayu itu.

Tanpa banyak berpikir, Arga pun ikut duduk. Menyisakan jarak di antara mereka yang terasa canggung.

“Aku sering ke sini,” kata Larasti pelan. “Entah kenapa, rasanya seperti kamu masih ada.”

Arga menatap ke depan. “Aku juga sering mikirin kamu waktu di perantauan.”

Larasti menoleh, sedikit terkejut. “Kenapa?”

Arga tertawa kecil. “Karena kamu nggak pernah benar-benar pergi dari pikiranku.”

Keheningan kembali hadir, namun kali ini terasa berbeda—lebih jujur, lebih terbuka. Namun kejujuran itu membawa risiko, membuka luka yang belum sembuh.

“Arga…” Larasti memulai, suaranya lebih hati-hati. “Tentang kemarin….”

Arga menghela napas. “Kalau kamu belum siap cerita, aku nggak akan maksa.”

Larasti menunduk. Jemarinya memainkan ujung bajunya, tanda kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. “Bukan nggak siap. Aku cuma…, takut.”

“Takut apa?”

Larasti menatap Arga, matanya mulai berkaca-kaca. “Takut kamu berubah.”

Arga terdiam.

“Aku tahu, aku salah,” lanjut Larasti. “Pergi tanpa penjelasan, ninggalin kamu begitu aja… itu bukan hal yang bisa dimaafin dengan mudah.”

Arga memandang jalan di depannya, seolah mencari sesuatu di sana. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Laras. Aku cuma butuh kejujuran.”

Larasti menggigit bibirnya pelan. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus mengatakannya. Namun, tidak hari itu. “Aku janji…, aku akan cerita Tapi beri aku waktu.”

Lihat selengkapnya