Aku Ingin Berangkat Haji

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #1

Keinginan Berangkat Haji

“Labbaik Allahumma labbaik,

labbaik lā syarīka laka labbaik,

innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk,

lā syarīka lak.”


Mata ku memandang pasir membentang, cuaca panas 40 derajat Celcius, membuat dahiku mengucurkan keringat, dari kejauhan terlihat bangunan kotak tertutup kain hitam, wangi hajar Aswad tercium masuk ke dalam syaraf penciuman.

Lutut ku bergetar, aliran darahku mengalir deras dipompa oleh jantung yang berdegup kencang, aku menjatuhkan diri diatas pasir panas, kedua tanganku terangkat memanjatkan doa,


"Akhirnya aku sampai ya Allah."


Mataku berkaca-kaca, air mata menetes membasahi pipiku.


Aku berlari mencoba mendekati bangunan yang disebut Ka'bah, tapi seketika kesadaranku perlahan menghilang, sebelum semuanya lenyap, tubuh seakan ditarik ke sebuah titik putih diantara kegelapan.


WUUUSH


Seketika cahaya perlahan menembus kelopak mataku yang terpejam, bahuku terasa ditepuk-tepuk lalu digoyang-goyang.


"Fin ... Fin, giliran lu keliling." Bunyi suara masuk ke telingaku, hidungku mencium bau ikan asin yang digoreng, perlahan aku membuka mata dan yang kulihat pertama adalah pohon nangka


"Bukannya tadi aku didepan Ka'bah," batinku, "Mimpi itu datang lagi."


---


Namaku Muhamad Alfiansyah, umur? Masih muda menjelang tua, 28 tahun, status? Masih bujang, pekerjaanku mulia menjaga kampung alias linmas, semua di diriku sederhana, hanya satu yang besar yaitu cita-citaku


Aku Ingin Berangkat Haji.


---


20 November 1990


Langit baru saja menampakkan warna aslinya, Yaitu kebiru-biruan, burung-burung mulai berterbangan mencari makan.


Rumah itu berukuran 5x6 m, keramik putih, atap kayu dan genting yang sudah menghitam.


Sepasang suami istri sedang duduk diteras rumah, di atas kursi plastik, 


"Pak, kayanya minggu-minggu ini si Dede lahir," ucap Hamidah kepada Bahar suaminya.


Lihat selengkapnya