Aku Ingin Berangkat Haji

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #4

Nasib Nasib

Keesokan harinya, Alfin bersiap pergi ke bank tempatnya menyetor tabungan haji,


"Alhamdulillah sudah terkumpul sebelas juta enam ratus ribu." Rasa syukur ia panjatkan dalam batinnya, "Semoga bisa lunas sebelum berangkat."


Alfin menyusuri trotoar jalan Ahmad Yani, lalu lintas sedang ramai, tiba-tiba sebuah motor kehilangan kendali menuju ke arahnya.


BRAAK

"ALLAHUAKBAR," teriak Alfin.


Detik terakhir pengendara motor itu membelokkan stang motornya lalu meloncat sebelum motor menabrak pembatas jalan.


Alfin bertakbir karena tubuhnya tidak bisa bergerak, matanya hanya melihat motor yang menabrak tiang listrik, dua meter dari tempatnya berdiri.


Orang-orang mulai berdatangan mengerumuni, pengendara terkapar, helmnya terlepas, darah mengalir dari kepalanya.

"Kang teu nanaon?" tanya seorang bapak-bapak menghampiri Alfin, ia hanya terdiam, sedetik kemudian ia tersadar, "Astaghfirullah," lirihnya sambil mengelus dada.


Alfin hanya menggelengkan kepala, menandakan dia baik saja.


Seorang ibu-ibu memberikan sebotol air mineral, Alfin perlahan meminumnya.


"Itu yang jatuhnya, tidak apa-apa," tanya Alfin kepada bapak-bapak tadi.


"Sepertinya parah, sebelum jatuh helmnya terbuka, kepalanya membentur aspal.


Alfin buru-buru mendekati korban yang masih terbaring di aspal tanpa ada yang mau menolong, "Orang-orang sekarang, tidak punya belas kasihan, malah didiamkan saja." Alfin berjongkok memeriksa denyut nadi, napasnya lemah, "Ada yang bisa tolong panggilkan angkot, orang ini butuh pertolongan." teriak Alfin, orang-orang sekitar malah memvideokan.


"PANGGILKAN ANGKOT ATAU AMBULAN, ORANG INI MAU MATI." Alfin berteriak sekuat tenaga.


Seorang ibu-ibu langsung menyetop angkutan umum, "Pak ada yang kecelakaan, bisa dibawa ke rumah sakit nggak?" Ibu itu berbicara kepada sopir.


"Naikin aja," jawab sopir. "Bu pak punten sampai sini saja, nggak apa-apa nggak usah bayar," Sopir itu berkata kepada beberapa penumpang, mereka langsung turun, mengingat keadaan darurat sebagian dari mereka tetap membayar ongkos.


Korban kecelakaan itu dinaikan ke dalam angkot, Alfin ikut menaiki, rasa perdulinya lebih besar dari rasa takutnya.


Angkot itu pun melaju menuju rumah sakit terdekat.


---

27 tahun yang lalu.


Alfin kecil sedang belajar berjalan, umurnya baru saja menginjak satu tahun, "Sayang, tung eleng Tatung eleng, ibu disini sayang." Hamidah membukakan tangannya.


Alfin terjatuh, mukanya mau menangis.

"Bangun Fin, laki-laki jangan dulu nangis." Suara laki-laki terdengar dari arah pintu depan.

Lihat selengkapnya