Sebuah sajadah terhampar, keheningan malam menjadi saksi dari orang yang bangun di sepertiga malam,
"Allahuakbar." Alfin sujud dengan penuh pengharapan, hanya kepada Dzat yang Maha Kuasa, "Subhāna rabbiyal a‘lā wa bihamdih" dahi semakin menempel dengan sajadah, matanya basah.
"Ya Allah, ampuni kedua orangtua saya," bisiknya dalam doa.
---
Desember 1995
"Bapak, Alfin sudah hapal rukun Islam dong," ucapnya sambil duduk di samping Bahar.
Bahar yang sedang meminum kopi menengok ke arah putranya, "Alhamdulillah, coba Alfin sebutin nanti bapak kasih jajan." Bahar menjawab sambil menggoda.
"Bener ya pak, Alfin boleh jajan es krim." Matanya berbinar-binar. Bahar mengangguk.
Mata Alfin melihat ke atas berpikir, "Dua kalimat syahadat, emmh sholat ... zakat ... puasa,yang terakhir Enji pak ya?" sambil menengok ke arah Bahar.
Bahar tertawa, " Bukan Enji sayang, tapi naik haji." Kalimat itu ternyata sedikit menusuk hati Bahar. Lima tahun sudah berlalu, ia tak kunjung melaksanakan haji, teringat empat tahun yang lalu, sebuah peristiwa yang menunda cita-cita besarnya.
---
Sebuah mobil berhenti di halaman rumah Bahar, Hamidah yang kebetulan sedang menyapu di teras, "Siapa yang datang?" pikirnya, ia pun segera masuk memberitahu Bahar yang sedang menonton tv.
"Pak di depan ada mobil," ucap Hamidah memberitahu Bahar suaminya, Bahar yang sedang tiduran bangun, "Siapa Bu?" tanyanya.
"Kalau ibu tahu mah, ngapain ibu juga nanya." Hamidah menjawab dengan ketus, sambil masuk ke dapur.
Bahar segera menuju depan rumah, seorang bapak paruh baya memakai jas hitam dan sepatu pantofel keluar dari mobil, menghampiri Bahar.
"Assalamualaikum, ini rumah Baharuddin?" tanya bapak tersebut memastikan, Bahar mengangguk, "Benar, saya Bahar," jawabnya dengan dahi berkerut.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga," ucap orang tersebut, "Saya ada keperluan dengan bapak, bisa kita bicarakan
Bahar hanya mengangguk, "Silakan masuk pak." Bahar mengajak ke ruang tamu, bapak itu pun duduk, "Ada apa ya?" tanya Bahar.
"Begini pak, saya dari travel haji Lukmanul Hakim, kebetulan baru berdiri tahun ini, saya menawarkan bapak untuk menjadi jamaah haji di travel kami," jelas bapak tersebut.
Bahar menatap bapak tersebut, lalu menengok ke belakang, "Bu, bikinin kopi," teriak Bahar kepada istrinya.
"Sebenarnya, 3 tahun lagi saya dan istri saya rencana mau berangkat, jadi gimana ya," tolak Bahar dengan halus.
Bapak itu tersenyum, "Walah saya malah lupa memperkenalkan diri, nama saya Lukman Hadiarjo, panggil saja Lukman," ucapnya, "Justru itu, bapak bisa berangkat tahun sekarang dan lebih murah pak." Lukman menawarkan sambil membuka brosur travel miliknya.
Bahar menerima brosur, lalu membacanya, "Silahkan pak, diminum, ini saya baca dulu." Bahar mempersilahkan.
Setelah beberapa saat, "Ongkosnya lebih murah, berarti bisa berangkat tahun sekarang ya?" tanya Bahar memastikan.