Aku, Kau, dan Luka Yang Tak Terucap

Irfandi Rizky Tomagola
Chapter #3

Luka dan Rindu

Setelah pertemuan di aula untuk membahas kejadian yang dialami Febi, anak-anak diperbolehkan kembali melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda. Sementara itu, pengurus yayasan mengadakan rapat sambil menunggu kedatangan Ustadz Heri guna mendiskusikan langkah selanjutnya. Pengobatan terhadap kondisi Febi selama ini sudah rutin dilakukan, bahkan sebelum ia mengalami kekambuhan. Dari konsumsi obat pereda kecemasan sesuai resep dokter hingga terapi perilaku kognitif, semua telah dijalankan. Namun, trauma selalu meninggalkan jejak. Luka yang sudah sembuh sekalipun masih bisa terbuka kembali sewaktu-waktu. 

Faiz dan Samsul kembali ke kebun belakang asrama, tempat yang mereka rawat dengan penuh dedikasi hingga kini menjadi hamparan bunga dan sayur-sayuran. Awalnya, tanah itu hanyalah rawa—tidak subur dan nyaris tak berguna. Namun, berkat ketekunan mereka, tempat itu kini berubah menjadi kebun yang hidup. Setiap libur sekolah, waktu mereka hampir sepenuhnya dihabiskan di sini. Jika Maria selalu menumpahkan ide-idenya ke dalam tulisan, maka Faiz dan Samsul tak pernah kehabisan akal untuk mengolah sampah kebun menjadi pupuk atau menanam bibit baru. 

Mereka adalah teman lama yang dipertemukan oleh kesamaan dalam kegemaran. Tidak seperti Febi, yang masih sulit menghadapi masa lalunya, Faiz dan Samsul justru berani menatap ke belakang dan menjadikannya pelajaran. Sama seperti Adam dan Riska, mereka adalah anak-anak korban konflik di daerah Timur. Kecintaan mereka pada berkebun bukanlah tanpa alasan. Dahulu, sebelum kerusuhan melanda, keluarga mereka adalah pemasok hasil pertanian ke Pasar Mardika dan berbagai pasar lain di kota. Faiz pernah bercerita bahwa pekerjaan itu telah dijalankan oleh keluarganya sejak lama, sehingga mereka memiliki hubungan baik dengan kepala daerah dan pemerintah setempat. 

Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. 

Faiz masih mengingat dengan jelas hari di mana segalanya berubah. Saat itu, ia diajak ayahnya pergi ke pasar. Mereka membawa hasil kebun dan berencana mampir ke rumah Samsul dalam perjalanan. Tidak ada firasat buruk—semuanya terasa seperti hari biasa. Mobil melaju tenang, tanpa rasa khawatir di antara penumpangnya. Tak ada kecemasan di hati keluarga yang mengantar mereka pergi. 

Tetapi ketika memasuki kota, keadaan mulai berubah. Dari kejauhan, Faiz melihat seorang pria berdiri di atas mobil, melambaikan tangan dengan panik—sebuah isyarat untuk berbalik arah, menjauh dari kota. 

Saat itulah mereka terlambat menyadari bahwa Ambon sudah dilanda konflik. 

Tiba-tiba, hujan batu menghantam mobil mereka. Kaca jendela belakang pecah, serpihannya berhamburan ke segala arah. Ayahnya kehilangan kendali atas kemudi, dan dalam hitungan detik, mobil menabrak pembatas jalan. Dari kap mesin, asap hitam mengepul, memenuhi udara dengan bau menyengat. Faiz mencoba bernapas, tetapi oksigen terasa semakin menipis, digantikan oleh karbon monoksida yang semakin pekat. Pandangannya mengabur, napasnya semakin berat. Hingga akhirnya, semuanya menjadi gelap. 

Ketika kesadarannya perlahan pulih, Faiz mendapati dirinya terbaring di tempat pengungsian. Ia menatap tubuhnya yang masih terasa lemah, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia berbaring di atas tikar tradisional, sementara kepalanya disangga oleh gulungan plastik besar yang dijadikan bantal darurat. Tak jauh dari kakinya, sekitar dua meter, seorang pemuda terbaring dengan perban seadanya melilit kepalanya. 

“Bapak dokter, mari kemari, anak ini sudah sadar,” panggil seorang lelaki tua dari belakang Faiz, sembari menyodorkan segelas air hangat kepada seorang pemuda berkacamata yang tengah berada di dalam tenda. 

Faiz diberikan air hangat itu dan diminta untuk tidak langsung bangun. 

“Tenangkan diri dulu, ya. Jangan cemas atau panik,” ujar dokter itu dengan senyum lembut. Namun, garis-garis kelelahan di bawah matanya tak bisa menyembunyikan betapa ia kurang tidur. “Oh iya, namamu Faiz?” tanyanya lagi. 

Faiz hanya mengangguk lemah. 

“Tunggu sebentar di sini, ya. Abang tadi mendengar ada seorang anak kecil terus menyebut namamu.” 

Dokter itu kemudian berjalan ke tenda lain di seberang jalan. Tenda itu dibangun dari kerangka bambu yang diikat tambang, dengan terpal sebagai atapnya. Tak lama, ia kembali, kali ini menggandeng seorang anak yang seusia dengan Faiz. Wajah itu begitu familiar. Begitu Faiz menyadari siapa anak itu, matanya membelalak. 

“Samsul!” 

Samsul yang juga mengenali Faiz langsung berlari dan memeluknya erat. Tangis mereka pecah, bercampur kelegaan dan kesedihan yang selama ini terpendam. 

“Yang lain di mana, Sul?” tanya Faiz, masih terisak. 

Samsul menggeleng pelan, suaranya bergetar. “Kata bapak petugas, aku hanya dibawa sendiri ke sini…” 

*****

Lihat selengkapnya