Jam alarm yang dipasang di atas pintu asrama berbunyi tepat pukul tiga dini hari, menandakan waktu tahajud telah tiba. Seperti biasa, beberapa anak bangun lebih dulu tanpa membangunkan teman-temannya, hanya agar bisa ke kamar mandi lebih awal.
Bunda Anna menuju asrama putri, sementara Ibu Lina turun ke asrama putra yang terletak satu lantai di bawahnya. Bagi para santri perempuan yang sedang berhalangan, sudah menjadi aturan untuk mengenakan kerudung merah sebagai tanda.
“Adam, siapa yang bertugas sebagai imam hari ini?” tanya Bunda Anna.
“Giliran saya, Bunda.”
“Kalau begitu, jangan sampai terlambat. Imam harus datang lebih dulu.”
Adam mengangguk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Kata-kata Bunda Anna terus terngiang di kepalanya—Imam harus datang lebih dulu.
Seorang pemimpin harus bergerak sebelum pengikutnya. Ia adalah pemegang amanah, tempat menyelesaikan masalah. Seorang pemimpin adalah panutan, menjadi contoh bagi mereka yang mengikutinya. Ia adalah nahkoda, menentukan arah untuk berlayar menuju kebaikan. Karena seorang pemimpin adalah harapan, maka ketulusan dan keseriusan adalah bekalnya dalam mengemban tanggung jawab.
Semalam, Adam sudah menyiapkan hafalan Al-Qur’annya. Kali ini, ia memilih Surah Ali Imran, surah ke-3 dengan 200 ayat. Ada satu ayat yang menarik perhatiannya—ayat ke-14. Dalam tafsirnya, ia membaca bahwa wanita, anak-anak, dan harta benda adalah titipan sekaligus cobaan. Bedanya, jika seseorang memandangnya dengan mata agama, maka ia akan melihatnya sebagai amanah berharga yang harus dijaga dengan baik.
Jika benar cinta kepada wanita bisa membutakan, Adam teringat pada kisah-kisah besar dalam sejarah. Julius Caesar, pemimpin militer dan politikus Romawi yang gagah perkasa, akhirnya takluk di bawah pesona Cleopatra. Begitu juga Adolf Hitler, diktator yang dikenal bengis di Perang Dunia II, akhirnya luluh oleh rayuan Eva Braun, hingga rela mati bersamanya di Fuhrerbunker.
Namun, di sisi lain, ada kisah cinta yang justru membawa berkah. Ketika kasih sayang dijaga dengan nilai-nilai agama, ketika syariat menjadi jalan bertemunya dua insan yang saling mendamba, maka kebahagiaan akan datang tanpa harus mengorbankan kehormatan. Tidak akan ada lagi bayi-bayi yang ditinggalkan dalam kardus, seperti surat tanpa alamat.
Jika yang diimpikan adalah suara istri yang lembut mengajarkan anak mengeja huruf hijaiyah, maka tidak seharusnya ada sistem yang merusak perempuan. Jika yang diinginkan adalah wanita baik-baik, maka harga diri harus dijaga sejak awal. Karena setiap tindakan pasti membawa konsekuensi.
Adam juga mengingat bagaimana Ibu Nyai Ahmad Dahlan menjadi pendukung setia, memberikan nasihat hingga suaminya berjaya dalam organisasi. Begitu pula dengan Ibu Fatmawati, yang tetap teguh mendampingi Soekarno di tengah panasnya politik dan perjuangan kemerdekaan.
“Apabila kecintaan pada wanita, anak-anak, dan harta benda hanya untuk berbangga-bangga dan kesombongan, maka itu adalah cinta yang tercela. Namun, jika kecintaan itu dimaksudkan untuk menjaga kesucian, melahirkan keturunan yang saleh, serta mempererat tali silaturahmi, maka itulah cinta yang diharapkan, dianjurkan, dan disunnahkan.”
**********
Sudah setahun sejak Adam menyelesaikan sekolahnya. Sebagai bentuk rasa terima kasih, ia memilih untuk tetap tinggal dan membantu mengurus panti asuhan. Selama itu, ia belajar banyak hal—terutama soal disiplin dan bagaimana mendisiplinkan orang lain. Ia menyadari bahwa memberi perintah agar orang lain berbuat baik tidak akan efektif jika dirinya sendiri tidak mencontohkannya lebih dulu. Kata-kata harus selaras dengan tindakan, dan nasihat akan lebih bermakna jika ditunjukkan lewat perbuatan. Karena pada akhirnya, setiap orang menerima kebaikan dengan cara yang berbeda—ada yang melalui ucapan, ada pula yang lebih memahami lewat keteladanan.
Siang itu, bahan kebutuhan pokok mulai dipindahkan dari mobil ke dalam gudang penyimpanan makanan. Yayasan tempat Adam tinggal memang mengelola bisnis distribusi bahan pokok untuk menopang keuangan panti asuhan. Gudang ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penerimaan dan penyimpanan barang, tetapi juga sebagai pusat distribusi. Demi mengurangi risiko kerugian, yayasan memilih untuk mengelola dry food store—gudang khusus makanan kering yang memiliki daya simpan lebih lama.
Gudang ini terdiri dari empat ruangan. Ruangan pertama berisi barang titipan milik pelanggan, di mana keuntungan diambil berdasarkan lama penyimpanan. Ruangan kedua menyimpan bahan pokok seperti beras, gula, dan makanan dalam toples. Ruangan ketiga dikhususkan untuk minuman dalam botol, makanan dalam dus, serta produk kering lainnya. Sementara itu, ruangan keempat menjadi tempat bagi barang-barang yang mendekati masa kedaluwarsa.
Dari kejauhan, suara deru sepeda motor Honda Super Cub menarik perhatian Adam. Motor jadul yang populer di kalangan anak muda era 80-an itu melaju melewati gerbang panti asuhan dan berhenti di halaman. Berbeda dari biasanya, kali ini motor itu tampak lebih bersih—baru selesai dicuci, mungkin. Jika tidak, pasti lampu depannya masih tertutup sisa asap karbon monoksida yang menempel.
Seorang perempuan turun dari boncengan. Dengan penampilannya yang khas seorang ustadzah, ia terlihat tenang, menggenggam tasbih elektrik sambil melantunkan zikir. Sesekali, matanya menatap langit, seakan sedang mencari sesuatu di antara gumpalan awan yang melayang di atas gudang penyimpanan makanan.
Sementara itu, Adam berjalan ke mushola setelah pekerjaannya di gudang selesai. Adzan Zuhur baru saja berkumandang. Ia segera mengambil wudhu, lalu menuju ke tempat penyimpanan sandal di dekat pintu masuk mushola. Di sana, Samsul—salah satu anak panti—menyapanya.
“Ustadzah menunggu Abang di luar,” kata Samsul.
“Sampaikan ke beliau, kalau ada keperluan, nanti saja setelah sholat,” jawab Adam tanpa ragu, lalu melangkah masuk ke dalam mushola.
**********
Sesuai janjinya untuk menemui guru baru di samping mushola, Adam menemukan wanita itu masih menatap langit, seolah mencari sesuatu di antara awan yang bergelayut.
"Ada apa, Ustadzah?" tanya Adam membuka percakapan.
"Adam Zakir, ya?"
"Kok tahu nama saya?"
"Riska Miftakhul Zakir yang memberitahu. Adikmu, kan?" jawab wanita itu tanpa berpaling dari langit.
Adam mengangguk. Wanita itu kemudian melanjutkan dengan nada santai, "Tak usah panggil aku Ustadzah. Kau bukan muridku. Lagi pula, umur kita sebaya."
Adam tersenyum tipis. "Baiklah, kalau begitu, ada yang bisa saya bantu, Kak? Kalau ingin tahu sejarah Panti Asuhan ini, bisa langsung ke ruang Bunda Anna."
"Kita bukan saudara, jadi tak perlu memanggilku 'Kak'. Panggil saja Hanna Wardha Nissa," katanya. "Aku diminta menghubungimu untuk mencocokkan jadwal di sini dengan kegiatanku di luar."
Adam mengangguk. "Bisa, tapi ini akan cukup panjang penjelasannya. Apakah kau tidak sedang ada jadwal mengajar sekarang?"
"Aku sudah dikenalkan tadi kepada penghuni asrama. Setelah jadwalku disesuaikan, aku akan mulai mengajar."
"Baiklah, nanti setelah makan siang kita bahas bersama Maria di kantin. Dia lebih paham jadwal asrama perempuan."