Mila Nicola Zacquen adalah seorang gadis cerdas dengan wawasan luas. Lulus dari sekolah dengan predikat terbaik, ia menolak tawaran beasiswa penuh demi mengejar impiannya sendiri. Alih-alih memilih universitas yang direkomendasikan, ia memutuskan untuk melanjutkan studi di Universitas Merdeka, mengambil jurusan Sastra. Namun, langkah beraninya tidak berhenti di sana. Mila bercita-cita menjadi seorang biarawati dan melanjutkan pendidikannya ke Yogyakarta, mengambil Program Ilmu Pendidikan Kekhususan dan Pendidikan Agama Katolik. Baginya, ini bukan sekadar pilihan akademik, melainkan sebuah panggilan hati yang berlandaskan keikhlasan pada agamanya.
Selain tekadnya yang kuat, Mila juga ingin mematahkan stigma yang masih berkembang di masyarakat bahwa seorang biarawati tidak bisa mencapai pendidikan tinggi. Inspirasi terbesarnya datang dari Suster Franselin, seorang tokoh dari Kupang, NTT, yang merupakan alumni Fakultas Pendidikan, Jurusan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsinya yang berjudul “Keprihatinan Rasuli Terhadap Harkat dan Martabat Kaum Perempuan” berhasil mengantarkannya meraih predikat cum laude. Kisah perjuangan Suster Franselin menjadi pendorong bagi Mila untuk terus berjuang dan menebar kebaikan.
Hari ini, keluarganya akan melakukan sedekah di Yayasan Beta Kasih. Mila sibuk memindahkan kardus-kardus berisi makanan dan kebutuhan pokok ke dalam mobil saat ayahnya, Pak Zacquen, datang menghampiri.
“Persiapannya sudah siap?” tanya Pak Zacquen sambil melirik ke arah kardus-kardus yang sudah tersusun rapi.
“Semua sudah dipindahkan, tidak ada yang ketinggalan,” jawab Mila sambil mengusap peluh di dahinya.
“Kevin tidak ikut lagi?”
“Sudah kuberitahu, tapi Abang belum bisa ikut.”
Pak Zacquen menghela napas panjang. “Kevin itu bagaimana? Ini sudah keempat kalinya dia tidak ikut. Ini amanah langsung dari Ibumu. Tidak menuruti permintaan orang tua berarti menyia-nyiakan pesan mereka.” Suaranya sedikit meninggi, berharap Kevin yang berada di dalam kamar bisa mendengarnya.
Mila mencoba meredakan ketegangan. “Tidak apa-apa, Pak. Di Yayasan Beta Kasih ada banyak anak-anak yang bisa kita mintai tolong. Hari sudah menjelang siang, lebih baik kita berangkat sekarang.”
Sebenarnya, Mila ingin mengenakan pakaian suster yang biasa ia pakai di kampus. Namun, ayahnya segera memintanya untuk berganti. Alasannya sederhana—beliau khawatir keluarganya akan dianggap menyebarkan keyakinan dengan dalih sedekah. Apalagi, baru-baru ini berkembang rumor kurang menyenangkan di masyarakat tentang kelompok yang diduga memanfaatkan donasi untuk memanipulasi kepercayaan orang lain.
Pak Zacquen tahu bahwa niat keluarganya murni untuk berbagi, tanpa agenda tersembunyi. Bahkan, makanan yang mereka pesan berasal dari katering langganan mereka, milik Baba Ayyeb, seorang pengusaha asal Turki.
Dengan persiapan yang matang dan hati yang tulus, Mila dan keluarganya pun berangkat menuju Yayasan Beta Kasih, membawa harapan bahwa sedekah mereka akan membawa manfaat bagi yang membutuhkan.
Mobil melaju dengan normal menyusuri jalanan yang sudah tidak ramai seperti tadi pagi. Tepat di tikungan jalan, kendaraan itu melewati warung ”Ku tunggu jandamu” yang selalu di isi oleh para Mahasiswa hobi demo yang selalu nangkring untuk membahas konspirasi negeri dan elit global, mereka tidak akan pulang kalau belum di usir oleh warga karena suara berisik dari adu pendapat. Di belokan kedua, kendaraan itu melewati pangkalan ojek yang bentukannya seperti pos ronda. Sebuah tempat yang akan ramai saat ada pertandingan Big Match dengan bapak-bapak penggila hasil bola dan judi. Saat ujung dari gedung Yayasan Beta Kasih sudah kelihatan, mobil yang membawa Keluarga Zacquen melewati kelompok orang tua yang baru pulang dari pengajian di mushala. Sebuah kegiatan yang kurang diminati oleh generasi media sosial.
Pak Zacquen memperhatikan anaknya, Mila, yang tengah menatap muda-mudi di Taman Bulak Rantai. Ia tahu betul, di balik tatapan itu, ada lamunan yang membawa putrinya pada harapan-harapan yang tak bisa ia miliki di dunia nyata.
Di usia muda, banyak orang berkata bahwa ini adalah masa yang hanya datang sekali seumur hidup—waktu di mana kebebasan bisa dinikmati sepenuhnya, tanpa dibebani oleh tanggung jawab yang berat.
"Tuhan, lindungilah aku dengan nama-Mu," bisik Mila pelan, menyadarkan dirinya sendiri dari lamunan.
Pak Zacquen tersenyum tipis. "Tak apa, Nak. Wajar jika hati berharap seperti itu. Namun, hidup ini adalah kumpulan pilihan, dan setiap pilihan selalu memiliki harga yang harus dibayar."
Baginya, bukan tugasnya untuk menyalahkan anak, teman, atau siapa pun yang meragukan jalan yang telah mereka pilih. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa mereka percaya dan yakin pada keputusan mereka sendiri.
Mila tahu, tanggung jawab yang ia pikul bukan sekadar amanah dari manusia, melainkan juga dari keyakinan yang ia anut. Jika pilihannya menuntutnya untuk mengorbankan cinta, maka ia harus rela melepaskannya. Jika pilihannya meminta ia meninggalkan kesenangan dunia, maka ia harus siap berjalan menjauh.
Sejak pertama kali ia memantapkan hati untuk menjadi seorang biarawati, Mila sudah memahami konsekuensinya—tak akan ada ruang untuk cinta romantis, tak akan ada pacaran, pernikahan, atau kehidupan keluarga seperti kebanyakan orang. Semua itu adalah jalan yang tak lagi bisa ia tempuh.
Namun, ia percaya. Jika Tuhan yang ia yakini menuntunnya ke jalan ini, maka di situlah kebahagiaan sejatinya berada.
*****
Suara langkah kaki terdengar cepat menuruni tangga dari lantai dua, menuju aula di lantai satu. Seorang wanita, Bunda Anna, mengedarkan pandangannya, mencari sosok Maria yang tengah sibuk menata buah di atas meja panjang.
"Maria, Riska di mana?" tanyanya buru-buru.
Maria menoleh sebentar sebelum menjawab, "Di luar, bersama anak-anak lain."
Tanpa menunggu lebih lama, Bunda Anna segera melangkah keluar, mencari Riska—anaknya yang pagi ini bertugas membantu Ibu Lina dan Mbak Ulis memindahkan makanan dari dapur ke aula.