Hari menjelang sore dengan sinar mataharinya yang sudah mulai memudar, dari putih, kuning, kuning tua, lalu orange. Terlihat dalam ruangan yang memuat anak-anak pencari Beasiswa di Eropa masih sibuk dengan tanggung jawab mereka masing-masing. Setelah banyak soal ujian di kerjakan untuk menentukan kepantasan mereka dalam menerima Beasiswa Eropa, ujian kemudian di akhiri dengan pelajaran matematika. Belum ada yang berani bangun dari tempat duduknya jika sudah bertemu dengan angka-angka aljabar, Teorama Pythagoras, Aritmatika sosial dan segala peranakan materi pelajaran Matematika lainnya.
Urutan meja dalam kelas seakan membentuk kelompok anak-anak dengan nasibnya masing-masing. Di barisan pertama yang berhadapan langsung dengan pengawas, ada anak-anak yang rajin mengutak-atik rumus dengan segala bentuknya. Namun mereka selalu ingat pada hal mendasar di Matematika, bahwa rumus dari berbeda materi tidak bisa dicampur adukan menjadi satu. Di barisan kedua, ada anak-anak yang serba salah jika sembarangan menggerakan kepala. Melihat ke belakang dituduh curang, mengangkat kepala disangka mencontek. Di barisan ketiga, muncul anak-anak penggemar teori konspirasi. Dalam pandangan mereka yang sudah jauh terpengaruh pada Novel The Davinci Code dan tayangan malam jum’at perihal Rahasia Dunia, mereka beranggapan bahwa abjad dalam lembar jawaban yang berisi huruf A sampai E adalah sebuah titik terang yang sedang bersembunyi untuk diketahui keberadaannya.
Yang paling menderita diantara mereka semua adalah barisan ke empat. Mereka menyalahkan sistem pembagian kursi yang menyatukan mereka dengan persamaan kelakuan, mau menyontek, anak-anak cerdas sudah jauh menghuni barisan depan. Mau saling bertanya, mereka sendiri sudah di ujung untuk hampir menyerah pada soal-soal rumit. Sehingga, satu-satunya harapan mereka adalah, mukjizat dari langit yang datang untuk membuka pikiran mereka agar mendapatkan jawaban.
Melihat kondisi di dalam kelas yang berbeda-beda bentuknya, Adam ingat pada ungkapan, “Descendet sine labore, escendet sine lahore” bisa diartikan sebagai sifat manusia yang tidak pernah merasakan kelelahan dalam berjuang, akan tidak pernah disebut sebagai pemenang. Atau ungkapan terkenal dari Ulama besar pemilik salah satu Mazhab dalam Agama Islam, “Jika kamu tidak tahan terhadap lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung bahayanya kebodohan”.
Mereka semua yang melakukan ujian hari ini adalah gelombang pertama untuk menjalani tes Beasiswa ke Hanze University di Kota Groningen, Belanda. Selain mereka, akan ada dua gelombang lagi yang akan diadakan besok dan lusa. Ujian hari ini di awali dengan mengumpulkan berkas-berkas dalam bentuk hard copy, sudah lebih dulu dikumpulkan dalam bentuk soft copy pada tahap awal pendaftaraan. Setelah itu dilanjutkan dengan ujian pertama seputar pengetahuan umum, meliputi sejarah, kelompok pelajaran IPS dan kelompok pelajaran IPA. Ujian kedua meliputi kemampuan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, yang semuanya diberikan satu jam 30 menit.
*****
Sebelum menghadapi pelajaran Matematika dengan segala kompleksitasnya, Adam memilih menghabiskan waktu istirahat di kantin. Di meja yang agak sepi, ia sibuk mempelajari soal-soal ujian tahun lalu yang diperoleh dari kenalannya.
"Permisi, Bang. Boleh saya duduk di sini? Tempat lain sudah penuh," tanya seorang pria berperawakan bule yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Adam mengangkat kepalanya sejenak, lalu mengangguk ramah. "Silakan, Bang."
Pria itu menarik kursi dan duduk di hadapan Adam. Sambil melirik sekelompok mahasiswa yang sedang tertawa santai di meja sebelah, ia berkomentar, "Masih ada satu ujian lagi, tapi mereka malah santai dan bercanda. Ujian belum selesai, hasilnya pun belum pasti, seharusnya kita khawatir."
Adam tersenyum kecil. "Saya setuju, Bang." Ia lalu mengulurkan tangan. "Oh iya, saya Adam Zakir dari Timur."
Pria itu membalas jabatan tangan Adam dengan erat. "Kevin Nicola Zacquen, dari Pulau Sumatra."
Setelah perkenalan singkat itu, keduanya kembali fokus pada buku dan soal Matematika masing-masing. Namun, suasana hening tak berlangsung lama. Kevin kembali berbicara, kali ini dengan nada serius.
"Bang, menurutmu ujian tertulis seperti yang kita jalani sekarang ini efektif?"
Adam meletakkan pensilnya sejenak, lalu menatap Kevin. "Jujur saja, saya sejak dulu tidak setuju dengan sistem ujian tertulis. Alasannya sederhana, jawabannya bisa didapat dari mana saja, dan sering kali bukan dari pemikiran peserta ujian sendiri. Waktu saya masih di sekolah, ujian nasional dibuat serentak di seluruh Indonesia supaya tidak ada kebocoran soal. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sehari sebelum ujian berlangsung, teman-teman saya sudah menerima bocoran soal lengkap dengan jawabannya. Akibatnya, mereka yang dikenal pintar dan selalu mendapat peringkat tinggi malah dikalahkan oleh mereka yang biasanya santai dan jarang belajar. Bahkan, ada yang lulus dengan nilai terbaik hanya karena mereka mengandalkan bocoran itu."
Kevin mengangguk paham, lalu kembali bertanya, "Kalau ujian lisan, menurutmu lebih baik?"
"Jauh lebih baik," jawab Adam mantap. "Dengan ujian lisan, guru dan murid berhadapan langsung satu lawan satu. Kemampuan murid dalam memahami pelajaran benar-benar diuji. Tidak ada contekan, tidak ada bantuan dari pihak lain. Satu-satunya cara untuk lulus adalah belajar dan mengandalkan pemahaman sendiri."
Sebelum Kevin sempat menanggapi, suara dari pengeras suara yang terpasang di atas pintu kantin mengumumkan bahwa seluruh peserta ujian beasiswa harus bersiap untuk ujian terakhir. Adam dan Kevin saling bertukar pandang sebelum beranjak dari tempat duduk mereka, lalu berjalan menuju ruangan masing-masing dengan langkah yang mantap.
*****
Pihak panitia yang dipilih untuk mengawasi ujian tes tulis ini adalah “Manusia-manusia tanpa perasaan” kata seorang anak penghuni barisan ketiga di dalam kelas Adam. Mereka selalu sigap mengawasi, dengan mata yang selalu fokus untuk melihat gerak-gerik mencurigakan dari para peserta. Baru ujian pertama di mulai, sudah ada tiga orang yang tidak diterima lembar jawabannya karena terlambat mengumpulkan. Menyusul di ujian terakhir Matematika ada 3 orang yang harus di robek lembaran soalnya karena kedapatan menyontek secara bersama-sama. Adam yang melihat kejadian itu paham, bahwa pihak yang memberikan beasiswa tidak ingin, jika kesempatan yang mereka tawarkan ini malah dimiliki dengan menggunakan jalur curang.
“Kurang 15 menit lagi, perhatikan biodata, dan hal-hal wajib lainnya dan juga periksa kembali jawaban.” Teriak wanita di depan Papan tulis.
Sebelum ujian terakhir dibagikan, pihak panitia lebih dahulu memberitahukan mengenai tes wawancara secara online besok malam. Pertanyaan yang diajukan nanti – menurut panitia – berkisar pada kondisi keluarga, asal daerah tempat tinggal, pendidikan terakhir dan tujuan utama memilih Belanda sebagai tempat untuk melanjutkan studi. Adam percaya bahwa, tes wawancara bukan hanya obrolan biasa antara panitia dan peserta untuk mendapatkan informasi yang jelas dari pihak pengaju beasiswa. Akan tetapi ada yang lebih dari itu, yakni kemampuan peserta dalam komunikasi berstandar kejujuran. Sebab dalam wawancara bukan hanya kecakapan mulut berbicara, karena hati seringkali bersembunyi untuk memberikan jawaban lain.
“Dalam hitungan kelima waktu akan habis, lima, empat, tiga, dua, satu. Ujian hari ini telah selesai, silahkan pisahkan kertas berisi biodata dan lembaran jawaban.” Setelah mengikuti perintah dari panitia, Adam pun beranjak keluar dari ruangan.
Setelah mengikuti arahan panitia, Kevin melangkah keluar dari ruangan ujian. Matanya langsung menangkap sosok Adam yang tengah duduk di bangku taman, tampak tenggelam dalam pikirannya. Dengan semangat, Kevin melambaikan tangan dan berseru,
“Bang Adam, ikut kami ke puncak, yuk! Ada acara di sana.”
Melihat Adam tak langsung menanggapi, Kevin pun berjalan mendekat.
“Ayo, Bang! Cuma makan-makan santai dan kenalan sama anak-anak lainnya.” ujarnya sambil menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang berkumpul.
Adam tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Mungkin lain kali, Bang Kevin. Aku masih ada tanggung jawab di Yayasan.”
“Yayasan?” dahi Kevin berkerut, penasaran.
“Iya, aku tinggal dan dibesarkan di Yayasan Beta Kasih. Panti asuhan untuk anak-anak korban konflik di daerah Timur.”
Jawaban itu membuat Kevin terdiam sesaat. Baru kini ia menyadari bahwa Adam adalah salah satu dari anak-anak yang sering ia lihat di berita—wajah-wajah yang pernah menghiasi layar televisi saat tragedi diingat kembali setiap tahunnya.
Namun, ia tak ingin membuat suasana menjadi canggung. Kevin mengangguk mengerti, lalu menepuk bahu Adam dengan ringan. “Baiklah, Bang. Kami pamit duluan, ya.”
Dengan itu, Kevin kembali ke teman-temannya. Saat mereka berjalan menjauh, beberapa kali ia masih menoleh ke belakang, memandangi Adam yang tetap duduk di bangku taman, tenggelam dalam dunianya sendiri.
*****
Senja perlahan tenggelam di balik cakrawala, dan lampu-lampu jalan mulai menyala, menandakan ibu kota sedang bersiap menyambut malam. Jalanan yang sejak sore sudah dipadati kendaraan kini memasuki puncak kemacetannya saat waktu magrib tiba. Di tengah riuh rendah orang-orang yang baru pulang kerja, seorang pemuda berdiri di dalam halte, menunggu bus yang akan membawanya pulang.