Bunyi alarm menggema di setiap sudut asrama, bersahutan dari satu pintu ke pintu lainnya. Getarannya bahkan terasa di kusen-kusen pintu, namun tak satu pun dari anak-anak yang terbangun. Mereka masih terlelap, kelelahan setelah hari yang begitu panjang kemarin.
Adam menghabiskan hampir seluruh harinya menjalani ujian seleksi beasiswa ke Belanda, sementara anak-anak lainnya sibuk mempersiapkan penyambutan tamu sebelum akhirnya menghadiri acara silaturahmi di rumah keluarga Zacquen. Hari yang melelahkan itu menyisakan tubuh-tubuh yang tertidur pulas, belum siap menyambut pagi.
Menyadari belum ada suara atau tanda-tanda anak-anak bangun, Bunda Anna dan Ibu Lina mulai berkeliling dari satu asrama ke asrama lainnya. Saat memasuki asrama perempuan, Ibu Lina berhenti sejenak, menatap anak-anak yang masih terlelap. Wajah-wajah mereka terlihat damai, berbeda jauh dari dulu saat pertama kali datang ke Yayasan ini.
"Tak terasa ya, Bunda?" bisik Ibu Lina, suaranya dipenuhi nostalgia. "Sudah bertahun-tahun kita di sini bersama mereka sejak konflik itu. Anak-anak yang dulu masih kecil kini telah tumbuh remaja, bahkan ada yang sudah dewasa. Waktu berjalan begitu cepat tanpa kita sadari."
Bunda Anna menghela napas, lalu tersenyum. "Siapa yang menyangka mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang hebat? Aku masih ingat bagaimana Faiz dan Samsul dulu sering menangis bersama karena rindu orang tua mereka. Riska yang selalu menyendiri di ujung lorong untuk menyembunyikan kesedihannya. Dan Maria… gadis kecil yang tak mau berbicara dengan siapa pun, kini menjadi sosok cerdas yang bisa berdiskusi tentang banyak hal. Mereka yang dulu pulang bermain dengan baju penuh lumpur, sekarang sudah mandiri dan bisa mengurus diri sendiri."
Ibu Lina mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Dulu mereka takut bertemu orang baru, tertutup, dan tak mau berbicara. Tapi perlahan, mereka belajar percaya. Kepada kita. Kepada Yayasan ini. Mereka menemukan keluarga di sini, bukan hanya orang tua pengganti, tapi juga saudara dan teman."
Bunda Anna tersenyum, lalu bertanya, "Tapi, ada nggak hal yang paling Ibu Lina takutkan tentang mereka?"
"Dulu, aku takut mereka akan tumbuh menjadi orang-orang yang tidak menerima perbedaan," jawab Ibu Lina pelan. "Aku khawatir mereka menjadi pribadi yang penuh kebencian terhadap orang-orang yang berbeda dari mereka. Tapi ketakutan itu perlahan sirna saat melihat bagaimana mereka belajar berdamai dengan masa lalu, menerima kehidupan mereka, dan tumbuh dengan hati yang luas."
Bunda Anna mengangguk, lalu menatap jendela yang sedikit berembun. "Kalau aku… ketakutanku adalah kehilangan," katanya lirih. "Aku takut saat mereka tumbuh dewasa dan mulai mengejar mimpi mereka, satu per satu akan pergi meninggalkan tempat ini. Aku takut saat mereka punya rumah baru, mereka akan lupa dengan rumah ini. Dengan kita. Aku khawatir ketika usia kita semakin menua, kita hanya bisa merindukan mereka tanpa tahu kapan mereka akan kembali."
Ibu Lina menggenggam tangan Bunda Anna dengan lembut. "Kita sama, Bunda. Takut kehilangan dan perpisahan. Tapi aku percaya, Yayasan ini akan selalu menjadi rumah bagi mereka. Tempat yang akan selalu mereka rindukan, ke mana pun mereka pergi."
Suasana hening sejenak, hanya terdengar napas perlahan dari anak-anak yang masih tertidur. Setelah itu, Ibu Lina mulai membangunkan mereka untuk menunaikan ibadah. Sementara itu, Bunda Anna menuju asrama laki-laki, membangunkan anak-anak di sana dan mengingatkan petugas yang bertugas menjadi imam.
Sebelum kembali ke ruangannya, ia berpesan kepada salah seorang santri, "Nanti setelah Zhuhur, minta Adam dan Maria datang ke ruanganku, ya."
Malam yang panjang telah berakhir. Kini, pagi di Yayasan kembali berdenyut, menyambut hari baru yang penuh harapan.
*****
Setelah ujian tertulis yang diadakan oleh penyedia beasiswa Groningen, Kevin Nicola Zacquen—yang lebih akrab disapa Kevin oleh Adam—memilih untuk merayakan pencapaian mereka bersama teman-temannya. Mereka memutuskan pergi ke Bogor, tepatnya ke Kafe Gaba-Gaba di Jl. Padjajaran, tempat favorit anak muda di kota itu. Dengan menggunakan mobil dan mengambil jalan pintas melalui tol, mereka hanya butuh satu jam untuk sampai di sana.
Adam sebenarnya diajak, tetapi ia mencari alasan untuk menolak. Baginya, perayaan seharusnya dilakukan saat hasil ujian benar-benar keluar dan menyatakan mereka lulus. Sebaliknya, Kevin dan teman-temannya menghabiskan malam di kafe itu hingga pagi. Mereka mengobrol tanpa henti, karaoke, tertawa, lalu tertidur sebentar di kursi sebelum kembali bernyanyi. Seolah ingin menunjukkan pada dunia betapa mereka menikmati masa muda.
Saat pagi menjelang, Kevin pulang ke rumah dengan wajah lelah dan mata yang masih berat menahan kantuk. Langkahnya santai, seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, sesampainya di rumah, ia disambut oleh suara tegas ayahnya, Pak Zacquen, yang sudah lama menunggu di ruang tamu.
“Berangkat kemarin pagi, pulang pagi ini. Dari mana, Kevin?”
Kevin menguap kecil sebelum menjawab, “Setelah ujian, aku diajak teman-teman ke puncak. Cuma makan-makan biasa. Pulangnya sudah terlalu malam, Bapak juga tahu kan, jalan antara Bogor dan Jakarta banyak kecelakaan dan kejahatan.”
Pak Zacquen menatap putranya dengan tajam. “Apa yang kalian rayakan? Hasil ujian saja belum keluar. Daripada buang-buang waktu untuk hal yang nggak jelas manfaatnya, lebih baik ikut Bapak dan adikmu ke Yayasan, membawa donasi.”
Kevin menghela napas, jelas malas berdebat. “Bapak nggak akan paham kalau Kevin jelaskan. Bapak masih pakai aturan lama, zaman Bapak dulu. Kevin mau ke kamar, semalam belum istirahat cukup.”
Langkahnya terhenti ketika Mila, adiknya, muncul dari dapur sambil membawa piring berisi roti dan segelas susu.
“Mau kutaruh di mana sarapannya?” tanya Mila lembut.
“Taruh saja kembali di dapur.” Kevin menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
Mila terdiam sejenak sebelum akhirnya berbalik, membawa piringnya kembali ke dapur. Rasa kecewa menyelinap di hatinya, bukan hanya karena penolakan Kevin, tetapi juga karena sikapnya yang dingin dan seolah tidak peduli. Sementara itu, Pak Zacquen hanya bisa menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya ia menegur Kevin, dan bukan pertama kalinya nasihatnya diabaikan. Bahkan, pernah ada perdebatan panjang di antara mereka yang berakhir dengan Kevin meninggalkan rumah selama seminggu.
Dinginnya hubungan Kevin dengan keluarganya berakar pada kehilangan ibunya.
Ibu Oni Veronika Zacquen, seorang dokter, memutuskan untuk bergabung sebagai tenaga medis dalam misi kemanusiaan di daerah konflik. Kevin menolak keputusan itu. Ia sering mendengar berita di radio tentang betapa berbahayanya situasi di sana, tetapi ibunya tetap pergi, demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Setahun berlalu, dan akhirnya ibu mereka mendapat kesempatan untuk pulang ke Jakarta. Rombongan tenaga medis dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama telah tiba dengan selamat, membawa pesan dari Ibu Oni untuk keluarganya: “Ibu tidak sabar bertemu dengan kalian, akan ada banyak cerita yang akan Ibu bagikan.”
Saat mendengar pesan itu, Kevin dan Mila menangis haru. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya mereka bisa memeluk ibu mereka kembali.
Namun, dua hari sebelum jadwal kepulangan kloter kedua, keluarga Zacquen menerima kabar yang menghancurkan harapan mereka. Sebuah telepon dari Dinas Kesehatan menyampaikan bahwa Ibu Oni menghilang dalam konflik susulan. Ia tak pernah kembali.
Sejak saat itu, Kevin berubah. Ia menarik diri dari keluarganya, terutama dari ayahnya. Ia merasa ditinggalkan, merasa tidak didengarkan. Dan di balik itu semua, ada luka yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Di dapur, Pak Zacquen menghampiri Mila yang duduk di meja makan, memandangi jendela dengan tatapan kosong. Wajahnya menyiratkan pertanyaan yang tak berani ia ucapkan. Kenapa aku juga yang disalahkan?
Air mata pelan-pelan mengalir di pipi Mila. Di luar jendela, hujan turun dengan deras, seolah ikut merasakan kesedihan yang melingkupi rumah itu. Air mengalir di atap, jatuh melewati jendela, meresap ke tanah. Namun, tidak ada yang bisa mendinginkan luka yang mengendap di hati seorang anak perempuan yang selalu merasa berjalan sendirian di tengah kesunyian.
*****
Setelah menyelesaikan makan siang, Adam naik ke lantai dua, menuju ruang pengurus. Bunda Anna telah memintanya dan Maria untuk datang.
"Febi, Kak Maria di mana?" tanyanya saat melewati ruang tengah.
"Sudah ke kantor Bunda Anna, Bang," jawab Febi tanpa menoleh.
Adam mempercepat langkahnya menuju ruangan pengurus, tempat dua kantor berdampingan—satu untuk umum dan satu lagi milik Bunda Anna. Namun, sebelum sempat membuka pintu, ia melihat Maria masih berdiri di depan, ragu-ragu untuk masuk.
"Maria, kenapa di luar?" bisiknya heran.
Maria, yang tampaknya tidak menyadari kehadiran Adam, tersentak kaget lalu buru-buru menaruh jari di depan bibirnya, meminta Adam untuk diam.
Dari dalam ruangan, terdengar suara Bunda Anna yang berbicara di telepon. Suaranya pelan, namun kalimat yang ia ucapkan terdengar jelas di telinga Adam.
“Tapi, Pak… Anna belum siap. Tidak bisa kita tunda saja? Lalu anak-anak bagaimana?”
Adam mengerutkan kening. Apa maksudnya? Apa yang sedang dibahas Bunda Anna?
"Kenapa, Maria? Ada apa?" tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
Maria hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Nggak ada apa-apa. Ayo masuk."
Tanpa bertanya lebih lanjut, Adam mengikuti langkah Maria memasuki ruangan yang dipenuhi aroma lavender, favorit Bunda Anna.
Di dalam, Bunda Anna sudah menunggu di balik meja kerjanya. Begitu mereka duduk, ia menyerahkan selembar poster berukuran A4 kepada mereka.
“Coba kalian lihat dulu,” katanya.
Di poster itu, tertulis dengan huruf kapital besar:
PESTA DI TAMAN
Adam dan Maria menelusuri rincian acara yang tercetak rapi di bawahnya.