Saat memasuki Taman Martha Christina Tiahahu, rombongan itu disambut oleh alunan merdu dari komunitas Angklung Pelangi. Dengan gerakan penuh harmoni, mereka membawakan lagu pembuka berjudul "Rayuan Pulau Kelapa," karya Bapak Ismail Marzuki. Lagu ini mengajarkan kecintaan terhadap bangsa dan tanah air, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa nasionalisme.
Setelah menikmati pertunjukan musik di Plaza Utara, rombongan melanjutkan perjalanan ke sebuah ruangan berdinding kaca yang menjadi tempat acara "Cerita di Taman." Di dalamnya, seorang perempuan memperkenalkan diri sebagai Kak Nia. Ia duduk bersama anak-anak dan orang tua mereka, membawakan cerita "Kancil dan Buaya" dengan ilustrasi boneka tangan. Anak-anak dari Yayasan Beta Kasih tampak antusias. Mereka memahami bahwa melalui cerita, mereka bisa membangun hubungan komunikasi dengan orang lain.
Usai sesi "Cerita di Taman," ruangan yang semula dipenuhi anak-anak kecil bersama orang tua mereka kini berganti dengan anak-anak remaja serta beberapa mahasiswa. Kakak-kakak dari Kompas Gramedia pun hadir, memperkenalkan acara "Baca Bareng di Taman." Acara ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk berbagi cerita tentang buku yang sedang mereka baca atau buku favorit mereka.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Plaza Bunga, meninggalkan Hanna dan Adam yang masih asyik di ruang baca bersama Kompas Gramedia.
"Buku apa yang diceritakan Hanna?" tanya Adam penasaran.
"Buku dari Ibu Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang," jawab Hanna. Buku yang ia maksud adalah kumpulan surat Ibu Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Surat-surat ini kemudian dikumpulkan oleh J.H. Abendanon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Armijn Pane.
*****
Memasuki area Plaza Bunga, giliran Faiz dan Samsul yang mengikuti acara "Sketching di Taman" bersama Bartega, sebuah komunitas seni yang aktif menuangkan kreativitas dalam bentuk lukisan. Bunda Anna menatap kedua anaknya dengan senyum, sementara Faiz dan Samsul mulai mengeluarkan peralatan gambar mereka.
"Hati-hati, jangan sampai terkena cipratan cat," pesan Bunda dengan lembut.
Faiz dan Samsul tersenyum, memahami bahwa meskipun mereka sudah beranjak remaja, di mata guru dan orang tua, mereka tetaplah anak-anak yang harus dijaga.
Ibu Lina dan Mbak Ulis turut bergabung dalam acara tersebut. Saat kanvas putih terbentang di depannya, Faiz langsung membayangkan Pantai Ngurbloat di Maluku Tenggara. Ia bisa merasakan kelembutan pasir putihnya dalam pikirannya. Sementara itu, Samsul memilih Gunung Binaya sebagai objek gambarnya. Dalam imajinasinya, ia sedang berdiri di puncak gunung bersama para pendaki, menyaksikan pelangi yang muncul setelah hujan deras mengguyur.
Saat rombongan melewati Paviliun Taman Literasi, mereka melihat sekelompok anak muda mengikuti acara "Book Blind Date di Taman." Acara ini menjadi wadah berbagi buku bekas sekaligus bertukar referensi bacaan dengan cara menarik—melalui interaksi dan relasi baru.
Sementara itu, Febi dan Alifa bergabung dengan "Yayasan Dongeng Nusantara" untuk menyaksikan pertunjukan dongeng yang menghibur. Yang membuat acara ini menarik adalah kemampuan para pendongeng dalam menggabungkan kisah-kisah modern dengan latar zaman dahulu. Misalnya, mereka membawakan cerita "Si Kancil Rajin Belajar dan Buaya Pemalas" serta beberapa dongeng lainnya. Dengan cara ini, para pendengar diajak berimajinasi, membayangkan bagaimana cerita klasik bisa relevan dalam kehidupan masa kini.
Tak jauh dari sana, tepatnya di Plaza Kabaresi, kelompok musik dari Suku Dinas Kebudayaan DKI Jakarta tengah memainkan alat musik Gambang Kromong, salah satu kesenian khas masyarakat Betawi. Lagu pertama yang mereka bawakan adalah "Setambul Jampang," dinyanyikan oleh dua vokalis, pria dan wanita, yang mengenakan pakaian adat Betawi.
Alunan musik keroncong pun mengiringi suasana taman, menghadirkan nuansa nostalgia. Meskipun perkembangan zaman kian modern, Gambang Kromong tetap hidup dalam budaya Betawi, menjadi bagian dari berbagai perayaan adat seperti pernikahan, nazar, dan khitanan.
*****
Setelah pertunjukan dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, anak-anak dari Yayasan Beta Kasih menikmati waktu istirahat di Plaza Anak, sebuah kawasan yang sering dijadikan tempat piknik.
“Bunda jadi ikut pertunjukan musik?” tanya Riska penasaran.
“Iya, Bunda dan Mila akan bergabung dengan Music Cater,” jawab Bunda Anna sambil membereskan makanan bersama Ibu Lina dan Mbak Ulis.
Dari arah Plaza Kabaresi, yang terletak di tengah Taman Martha Christina Tiahahu, sayup-sayup terdengar alat musik mulai dimainkan. Perlahan, Bunda Anna mengenali lagu yang tengah diperdengarkan—“Jalan Sriwijaya” dari album Cerita Fatmawati. Langit mulai menguning, matahari bersiap pulang dijemput malam, sementara rombongan ini melangkah mendekati panggung sederhana tempat pertunjukan berlangsung.