Setelah berhasil melewati tahap pertama, Adam melanjutkan ke ujian tertulis yang berlangsung sepanjang hari. Dua hari setelah mengikuti kegiatan di Taman Literasi, ia menjalani wawancara virtual dengan panitia penyelenggara beasiswa. Seperti banyak orang yang baru mengenalnya, ekspresi mereka dipenuhi keterkejutan saat mendengar kisah hidupnya—anak yang menjadi korban kerusuhan pasca-reformasi di Indonesia. Mereka pun bertanya, bagaimana cara Adam mengatasi trauma, menerima perbedaan, dan mempertahankan hubungan persaudaraan. Dengan jujur, Adam menjawab tanpa melebih-lebihkan ataupun mengurangi apa pun.
Seminggu setelah wawancara, pengumuman hasil seleksi beasiswa akan diumumkan. Pagi-pagi sekali, setelah salat Subuh, Adam berangkat menggunakan angkutan umum menuju tempat pengumuman. Jalanan masih lengang, belum dipadati para pengendara lain.
Adam duduk di bangku belakang bersama dua penumpang lainnya. Kepalanya bersandar di kaca jendela yang berembun dari udara luar. Dalam keheningan itu, pikirannya melayang ke percakapan terakhirnya dengan Maria di aula yayasan, tepat setelah acara panjang di Taman Martha Christina Tiahahu. Saat itu, Adam adalah orang terakhir yang tiba di yayasan, dan ia menemukan Maria masih menunggu di aula.
“Ada yang ingin kubicarakan, Adam. Tentang percakapan Bunda Anna di telepon waktu itu,” kata Maria dengan nada serius.
“Besok saja, Maria. Aku sudah terlalu lelah,” sahut Adam sambil berjalan menuju tangga.
“Sekarang saja, supaya tidak ada lagi rasa curiga,” tegas Maria.
Adam pun berhenti dan berbalik menatapnya.
“Aku datang lebih dulu ke ruangan Bunda Anna saat beliau berbicara dengan Bapak Malik Fernando tentang pernikahan,” ungkap Maria. “Bunda akan menikah, Adam. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita akan ditinggalkan atau diasuh oleh orang lain?”
“Mungkin saja pernikahan itu untuk kebaikan keluarga Bunda Anna,” ujar Adam mencoba berprasangka baik.
“Aku mendengar dengan jelas apa yang diminta Bapak Malik kepada Bunda. Mengapa sekarang? Mengapa tidak berbicara dulu dengan kita, anak-anaknya?” Maria berusaha menahan emosinya.
Adam menarik napas panjang. “Sudahlah, kita belum tahu cerita sebenarnya. Untuk sementara, jangan beri tahu anak-anak lain,” ucapnya sebelum berpamitan.
Dalam hati, Adam memahami bahwa bagaimanapun juga, Bunda Anna tetaplah manusia biasa. Ia juga berhak merasakan cinta, memiliki pendamping, dan membangun keluarga. Orang yang akan menikahinya bukan sekadar teman bicara atau pendengar setia, melainkan pasangan hidup. Seseorang yang akan berbagi cerita, menjadi tempat mengeluh, dan berbagi tanggung jawab. Ikatan mereka bukan lagi sekadar kebersamaan yang terjalin atas dasar tugas dan kepedulian, melainkan hubungan yang didasarkan pada restu, ketentuan agama, dan izin Tuhan.
Percakapan di telepon antara Bunda Anna dan Bapak Malik Fernando memberikan pelajaran baru bagi Adam dan Maria. Mereka mulai memahami bahwa setiap manusia diciptakan dengan hasrat—sebuah keinginan alami yang menuntut untuk dipenuhi dan diikuti.
Selama lebih dari sepuluh tahun, waktu telah membawa mereka melewati kehidupan bersama Bunda Anna. Dari kesedihan yang selalu datang mengingatkan pada masa lalu, hingga kebahagiaan yang lahir dari ketulusan seorang ibu. Mereka bagaikan pemeran dalam sebuah pertunjukan teater, masing-masing sudah diberikan peran dan tugasnya sendiri. Kini, peran Bunda Anna akan berubah—ia akan menjadi seorang wanita yang dilamar dan dimiliki oleh orang lain, sesuai dengan skenario yang telah dituliskan oleh Sang Pemilik Takdir.
Namun, pikiran Adam terus bergulat. Bagaimana jika Maria benar? Bagaimana jika mereka belum siap menerima kenyataan bahwa cinta Bunda harus terbagi? Bagaimana jika mereka tidak menyukai suami Bunda Anna? Atau bagaimana jika pengasuh baru yang menggantikannya tidak memiliki sifat yang baik? Segala pertanyaan itu berputar di benaknya, membuatnya semakin serius memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.
“Mas, turun di mana?” suara seorang petugas bus membuyarkan lamunannya.
“Di depan kantor imigrasi,” jawab Adam singkat.
“Dua halte lagi, Mas. Dari tadi saya perhatikan, Masnya melamun. Takutnya kelewatan tempat turun.”
Petugas bus itu mengenakan topi hitam bertuliskan Converse. Ia kemudian melanjutkan, “Saya cuma mau mengingatkan. Kejahatan sering terjadi di dalam bus saat orang-orang lengah, seperti melamun misalnya.”
Sambil menatap ke arah jendela, Adam mendengarkan petugas itu bercerita tentang berbagai kejadian yang pernah ia temui. Mulai dari seorang ibu kantoran yang kecopetan tanpa sadar, hingga pelecehan terhadap siswi SMA yang dilakukan oleh temannya sendiri. Semua itu terjadi karena korban tidak waspada dan terlalu larut dalam pikirannya sendiri.
*****
Seperti yang telah ditetapkan sejak pertama kali datang ke yayasan, Hanna mendapatkan jadwal mengajar setelah salat Zuhur. Anak-anak yang sudah kembali ke asrama mulai bersiap turun ke ruang belajar. Mereka kemudian dibagi menjadi dua kelompok: satu bersama Ustaz Heri yang mengajarkan materi “Menghargai Orang Lain”, dan satu lagi bersama Kak Hanna dengan materi “Mengelola Perasaan”.
Hanna membuka kelasnya dengan mengutip sebuah artikel tentang cara menjaga perasaan agar tetap dalam kondisi baik-baik saja. Ia menjelaskan bahwa salah satu cara terbaik adalah dengan meditasi—membantu seseorang mengenali kenyataan yang terjadi dalam hidup, betapapun sulitnya keadaan itu.
Selain meditasi, perasaan juga bisa dikelola dengan menulis. Ini adalah cara untuk menyalurkan masalah dalam bentuk tulisan, agar hati terasa lebih lega. Cara lain yang bisa dilakukan adalah berpikir positif. Meskipun tidak dapat menyelesaikan masalah secara langsung, berpikir positif dapat membantu menenangkan emosi dan mengurangi beban pikiran.
Kemudian, Hanna menjelaskan bahwa berbagi cerita dengan orang lain juga merupakan bentuk pengelolaan perasaan yang baik. Beberapa orang butuh didengar agar mereka tetap memiliki semangat untuk melanjutkan hidup.
Materi berlanjut ke pembahasan tentang cara mengelola perasaan terhadap lawan jenis. Hanna menjelaskan dengan lembut, “Jika mata saling bertemu, pikiran terus mengingat, dan hati mulai memancing rasa, maka itu wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika pandangan mata berubah menjadi hasrat untuk memiliki, lalu nafsu merampas akal sehat.”
Ia melanjutkan, “Saat perasaan jatuh lebih dulu kepada lawan jenis, yang perlu dilakukan adalah merawatnya dengan bijak—agar tidak terlalu sakit jika tak berbalas, agar tetap baik-baik saja meskipun dilukai. Ingat, jangan berlebihan dalam mengekspresikan rasa suka. Sebab rasa suka adalah anugerah, tapi bisa menjadi musibah jika tidak dijaga dengan baik. Dalam buku Lapis-lapis Keberkahan, disebutkan bahwa kita ada di dunia ini karena ekspresi cinta yang berpahala dari orang tua kita.”
Anak-anak memperhatikan penjelasan Kak Hanna dengan saksama. Sesekali mereka mengangguk tanda paham.
Sementara itu, di ruangan lain, Ustaz Heri tengah menyampaikan materi tentang “Menghargai Orang Lain”. Ia mengutip beberapa kalimat dari buku ”Bagaimana Agar Orang Menyukaimu” karya Dale Carnegie. “Manusia adalah makhluk egois yang cenderung memikirkan dirinya sendiri. Maka dari itu, saat berbicara dengan orang lain, jangan terlalu banyak membahas pencapaian atau kelebihan diri. Jika porsi itu berlebihan, kita justru akan tampak sombong dan sulit diterima.”
Selain itu, Ustaz Heri juga mengutip sebuah artikel berjudul Pemikiran Soekarno dalam Perumusan Pancasila. Ia menjelaskan tentang konsep “Peri Kemanusiaan”—salah satu dasar negara yang diusulkan oleh Soekarno, yang berangkat dari keyakinan bahwa manusia pada dasarnya akan menghargai sesamanya.
“Bayangkan jika di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, masyarakat menolak untuk bersatu hanya karena perbedaan suku, ras, budaya, atau agama. Apakah kita akan sampai pada kehidupan yang sejahtera seperti sekarang? Justru dengan menghargai perbedaan, kita bisa membangkitkan rasa nasionalisme dan memperjuangkan negara bersama-sama,” tambahnya dengan semangat.
Pelajaran siang itu diakhiri dengan tugas analisis. Kelompok Kak Hanna diminta mengulas topik Perasaan Remaja Zaman Sekarang, sementara kelompok Ustaz Heri mendapat tugas menganalisis Nilai Toleransi dalam Masyarakat.
Setelah berpamitan, Ustaz Heri melangkah pulang melewati sebuah warung kecil bernama "Ku Tunggu Jandamu". Pemilik warung itu, seorang pria paruh baya, duduk di sudut dengan tatapan yang selalu tertuju ke jalan. Setiap suara motor Super Cub yang melintas membuatnya menoleh, berharap melihat seseorang yang sudah lama tak kembali.
Ia mengamati para pengendara yang berlalu-lalang, mencari sosok di balik helm yang mungkin membawa kenangan masa lalunya. Seperti biasa, ia berjaga, menanti sesuatu yang sudah lama pergi—sebuah suara mesin yang bisa membangkitkan ingatan akan masa mudanya.
Bagi pria itu, tidak ada yang lebih membahagiakan selain hari di mana motor itu kembali. Bahkan jika warungnya ramai dari pagi hingga tengah malam, jika pelanggan datang berbondong-bondong dan meninggalkan uang lebih, jika dagangannya laris tanpa henti—semua itu tetap tak bisa menggantikan perasaan yang mengendap di hatinya.
Karena bagi sebagian orang, kenangan adalah sesuatu yang selalu hidup, meski orang-orang di dalamnya sudah pergi.
Hanna sedang membereskan buku-bukunya ke dalam tas ketika ia melihat Faiz berlari ke arahnya dari sela-sela pintu.
"Ustadzah, ke depan dulu. Ada polisi mencari Bunda Anna," ucap Faiz dengan napas tersengal dan wajah cemas.
Hanna menghentikan kegiatannya sejenak, "Ada apa?" tanyanya.
"Sekarang Ustadzah ke depan dulu. Faiz ke Bunda Anna," jawab Faiz terburu-buru sebelum berbalik dan langsung menuju ruangan Bunda Anna.
Dengan hati berdebar, Hanna berjalan menuju pintu gerbang, memutari lapangan futsal. Dari kejauhan, ia melihat tiga polisi tengah berbicara dengan Riska, Bu Lina, dan Kak Ulis.
"Ada perlu apa, Pak? Saya guru di sini," tanya Hanna dengan nada tenang meskipun dalam hatinya ada rasa khawatir.
Seorang polisi dengan wajah tegas menatapnya. "Apakah Anda Anna Fernando?"