Matahari perlahan mulai mengintip dari ufuk timur ketika Ustadz Heri tiba di Polsek Rawa Jati. Kedatangannya pagi itu untuk menjemput Bunda Anna dan dua anak lainnya. Toyota Avanza keluaran 2008 yang dikendarainya melaju pelan, lalu berhenti di samping warung mie ayam Kumaha Aing yang masih tertutup rapat.
Di dalam kantor polisi, Bunda Anna sudah bangun lebih dulu, seperti kebiasaannya di yayasan. Ustadz Heri disambut oleh Kombes Riko yang segera memberikan izin masuk. Saat keduanya bertatap muka, ingatan lama menyeruak di benak Ustadz Heri. Ia akhirnya menyadari bahwa Kombes Riko adalah salah satu jamaah yang pernah menghadiri kajiannya di Mushola Al-Islamiyah, dekat rumahnya.
“Kami boleh langsung pergi?” tanya Ustadz Heri.
“Silakan, Ustadz,” jawab Kombes Riko ramah.
“Kajiannya masih tentang Adab dalam Berilmu?” tanyanya kemudian.
“Sudah jauh, Pak Polisi. Makanya, rajin datang supaya tidak ketinggalan,” seloroh Ustadz Heri sambil tersenyum.
Kombes Riko terkekeh kecil dan memberi hormat. “Siap, Ustadz.”
Setelah berpamitan, mereka naik ke dalam mobil. Toyota Avanza itu pun melaju perlahan, bergabung dengan sepinya jalanan Jakarta setelah Subuh.
Di dalam mobil, percakapan kecil mengalir di antara mereka.
“Ustadz kenal dengan Pak Polisi tadi?” tanya Bunda Anna.
“Di dekat rumahnya ada Mushola Islamiyah yang dikelola Ustadz Mudzakir, teman saya. Beberapa kali saya diminta mengisi pengajian di sana, dan Kombes Riko adalah salah satu jamaahnya. Tapi mungkin karena pangkatnya naik dan kesibukannya bertambah, ia sudah jarang hadir,” jelas Ustadz Heri.
Sejenak suasana hening, sebelum tiba-tiba Ustadz Heri menoleh ke arah Bunda Anna dan bertanya, “Saya dengar-dengar Bunda sudah punya pacar?”
Bunda Anna tertawa kecil. “Belum, Ustadz. Baru sekadar kenalan, itu pun dikenalkan oleh Bapak.”
“Siapa tahu, dengan adanya seseorang yang Bunda suka, jalan untuk menikah jadi terbuka. Kasihan, usia terus bertambah,” ujar Ustadz Heri, nada suaranya setengah bercanda, setengah menasihati.
Bunda Anna menghela napas. “Saya belum terlalu memikirkan soal itu. Sekarang yang paling penting adalah anak-anak dulu.”
Di sampingnya, Adam diam saja. Ia mendengarkan percakapan itu sambil mengingat kembali perkataan Maria beberapa hari lalu tentang percakapan dengan Pak Malik soal pernikahan Bunda Anna.
Sepertinya Maria benar… gumamnya dalam hati.
Ustadz Heri tersenyum tipis. “Dalam keyakinan saya, menikah itu ibadah. Kalau sudah mampu, sebaiknya tidak ditunda. Takutnya, jika terlalu lama, bisa berujung pada dosa. Tapi tentu, saya menghargai apa yang Bunda yakini. Saya hanya sekadar mengingatkan.”
Di kursi belakang, Hanna masih diam. Pikirannya dipenuhi oleh kenyataan yang baru saja terbuka. Rahasia yang selama ini ia simpan akhirnya diketahui—bahwa ia adalah salah satu anak pertama yang diadopsi dari Yayasan Beta Kasih, bersama Riska dan Adam, sebelum akhirnya diangkat menjadi anak oleh adik perempuan Ustadz Heri. Ia ingin mencari waktu untuk bicara empat mata dengan Bunda Anna dan menceritakan semuanya.
Setelah perjalanan beberapa saat, mobil Avanza itu berbelok masuk ke halaman Yayasan Beta Kasih. Anak-anak yang melihat kedatangan mereka segera berlarian keluar, memeluk Bunda Anna dengan penuh rindu.
“Bunda baru sampai. Biarkan Bunda istirahat dulu. Nanti bisa tanya-tanya saat makan malam, ya,” kata Adam, mencoba menenangkan adik-adiknya.
Bunda Anna tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Adam. Kita bicara di dalam, ya?” ujarnya, lalu mengajak anak-anak masuk ke aula.
Sementara itu, Ustadz Heri dan Hanna meminta izin untuk kembali ke rumah. Ibu Hanna sudah mengkhawatirkan anaknya sejak kemarin.
Di dalam mobil, Hanna tetap diam. Pikirannya berkelana, mencoba membayangkan bagaimana reaksi anak-anak di yayasan jika mereka tahu kebenaran tentang dirinya.
Bagaimana kalau mereka berpikir aku datang bukan karena ikhlas, tapi karena ada maunya? Bagaimana kalau mereka menganggapku tidak punya rasa saudara, karena memilih pergi dan tinggal dengan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, membuatnya tak bisa memilah mana yang harus ia pikirkan lebih dulu.
“Mereka semua sudah tahu?” tanya Ustadz Heri, menyadari kegelisahan Hanna.
“Baru Bunda. Tapi saya minta agar dirahasiakan dulu. Saya pikir, saat awal memperkenalkan nama ke Adam, ia akan ingat… Tapi ternyata tidak. Sudah lama saya menunggu, barangkali mereka mencari.”
Ustadz Heri menghela napas. “Peristiwa saat kamu diadopsi dan perjanjian dengan Pak Malik Fernando sudah terjadi lama. Kita tidak bisa menyalahkan mereka. Bukankah dulu pihak Hanna sendiri yang meminta agar dirahasiakan?”
Hanna terdiam, tapi dalam hatinya ia tahu bahwa Ustadz Heri benar.
Di kantor polisi tadi, Hanna akhirnya menunjukkan identitasnya. Ia adalah salah satu anak yang diselamatkan dari konflik beberapa tahun lalu. Bersama Adam dan Riska, ia adalah penghuni pertama Yayasan Beta Kasih sebelum akhirnya, atas izin Pak Malik Fernando, ia diangkat sebagai anak oleh kakak perempuan Ustadz Heri. Rahasia itu kemudian disepakati bersama untuk tidak diberitahukan kepada siapa pun, termasuk kepada Bunda Anna, Ibu Lina, dan Kak Ulis.
Kini, setelah sekian lama, rahasia itu perlahan mulai terungkap.
Mobil terus melaju, membawa Hanna kembali ke rumah—tapi tidak dengan pikirannya, yang masih tertinggal di masa lalu.
*****
Bunda Anna duduk di tengah anak-anak, mendengarkan mereka berbincang tentang kejadian di kantor polisi kemarin.
“Bunda dikurung dalam sel?” tanya Samsul sambil mengambil kacang dari toples.
“Enggak, Sul. Polisinya baik, bahkan Bunda dikasih tempat istirahat,” jawab Bunda Anna sambil tersenyum.
“Tidak ada interogasi dengan meja panjang, lampu remang, dan hanya ada dua petugas?” tanya Alifa, yang duduk di sebelah Febi.
“Sepertinya Alifa sudah menjadi korban film dan acara TV,” ujar Adam, yang langsung disambut tawa anak-anak lain.
“Tidak semua orang yang datang ke kantor polisi itu diinterogasi seperti penjahat besar. Kantor polisi bukan hanya tempat untuk menangkap dan mengurung orang yang bersalah. Ada banyak kegiatan lain juga di sana,” jelas Adam, membuat Alifa mengangguk paham.
Di sudut aula, seorang gadis duduk di tangga, menatap mereka dalam diam. Cahaya lampu kuning yang terpasang di bawah tangga membuat bayangannya terlihat jelas. Riska, yang semalam begitu cemas saat Bunda Anna dibawa ke kantor polisi, kini justru memilih diam dan menyendiri, seolah ada sesuatu yang mengganggunya.
“Kenapa duduk di sini?” tanya Adam setelah menghampiri Riska di bawah tangga.
“Ayo gabung di sana. Semalam, Bunda berjuang untuk kita,” bujuk Adam lembut.
“Riska rasa tidak usah, Bang. Ada atau tidaknya aku di sana, Bunda tetap senang kok,” jawab Riska dingin.