Aku, Kau, dan Luka Yang Tak Terucap

Irfandi Rizky Tomagola
Chapter #11

Siapa Bunda Anna?

Sebelum benar-benar memantapkan niat untuk mencari ketenangan di rumah keluarga Zacquen, Riska lebih dulu menghubungi Mila. Ia hanya memberi alasan ingin menyendiri. Mila sempat heran, karena biasanya Riska selalu bersama anak-anak lain jika hendak pergi ke suatu tempat. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya terlalu banyak. Mila memutuskan akan menunggu sampai Riska tiba dan berharap bisa membantu jika memang diperlukan.

Mobil yang membawa Riska berhenti di depan pagar. Suara bel terdengar saat gadis itu menekan tombol.

"Masuk, Riska," ujar Mila dari dalam rumah.

Ibu Suratih, asisten rumah tangga keluarga Zacquen, segera meminta izin untuk membawa tas pakaian Riska ke kamar tamu.

"Dek, mau susu coklat, kopi, atau teh?" tanya Ibu Suratih sambil membereskan kasur.

"Susu coklat, boleh, Bu," jawab Riska pelan, lalu kembali menatap keluar jendela.

Mila duduk di sisi ranjang, memperhatikan ekspresi Riska yang tampak gelisah.

"Awalnya, Kakak pikir kalian semua yang datang ke sini. Tapi setelah Riska bilang ingin mencari ketenangan... Kalau Kak Mila boleh tahu, ada masalah di yayasan?"

Riska hanya mengangguk pelan tanpa menjawab.

"Rumah ini selalu terbuka untuk kalian kapan saja. Kalau ingin cerita, Kak Mila siap mendengar," ujar Mila lembut.

Setelah mengatakan itu, Mila bangkit dan meninggalkan kamar. Riska menghela napas, lalu meneguk susu coklatnya beberapa kali. Bimbang mulai menyelimutinya. Apa yang ia lakukan terlalu berlebihan? Apakah ia kurang ajar? Apakah ia sudah melampaui batas?

Riska menyandarkan tubuhnya ke kasur. Kenangan bersama Bunda Anna perlahan bermunculan, mengingatkan pada segala kebaikan wanita itu. Matanya terpejam sejenak, tapi saat membukanya kembali, ia mendapati dirinya berada di depan sebuah gedung.

Ia bisa mendengar samar-samar percakapan dua perempuan tentang adopsi dan keributan. Saat menoleh, ia melihat Bunda Anna, Ibu Lina, dan seorang pria bernama Bapak Malik Fernando berdiri menunggu sesuatu.

"Itu mereka, Pak," ujar Bunda Anna sambil menunjuk ke arah gerbang.

Sebuah mobil Nissan March berwarna abu-abu tua melaju masuk, lalu berhenti di hadapan Bapak Malik. Dari kursi pengemudi, keluar seorang pria yang Riska kenal sebagai Dokter Tiyo Chen. Ia adalah perawat yang dikirim untuk membantu korban di daerah konflik Timur.

Di sebelahnya, seorang anak laki-laki berkulit sawo matang keluar dengan langkah ragu. Riska mengamati anak itu dengan seksama. Hatinya berdebar saat menyadari siapa dia.

"Abang Adam?" bisiknya dalam hati.

Anak itu berjalan malu-malu, tangannya digenggam oleh Dokter Tiyo saat diperkenalkan kepada Bapak Malik. Ia lalu menyalami Bunda Anna dan Ibu Lina dengan canggung.

Dari kursi belakang mobil, keluar Ustadz Heri, istrinya, dan seorang anak perempuan kecil yang usianya tampak lebih muda dari Adam. Gadis itu mengenakan baju Winnie the Pooh berwarna pink dan tampak ragu untuk turun. Berbeda dengan Adam yang tampak malu-malu, gadis kecil itu justru bersembunyi di belakang istri Ustadz Heri, seolah takut pada dunia luar.

Riska menatapnya lekat-lekat. Sesuatu dalam dirinya bergetar saat menyadari kebenaran itu. Gadis kecil itu… adalah dirinya sepuluh tahun yang lalu.

“Siapa nama adek ini?” Tanya Bunda Anna dengan mendekati Riska.

Anak kecil itu mundur dan tetap bersembunyi diantara kaki istri Ustadz Heri. Riska dari tempat duduknya tersenyum, mengingat tingkahnya dulu yang takut bertemu orang baru.

Rombongan itu kemudian masuk bersama Bapak Malik, Bunda Anna dan Ibu Lina ke Yayasan Beta Kasih. Riska pun masuk mengikuti mereka, namun yang dia temukan adalah ruangan kosong dengan satu cahaya lampu. Dari lantai atas ia mendengar suara tangisan anak kecil. Suara itu terdengar semakin jelas saat langkahnya mendekati kamar dengan pintu hijau tua. Penerangan di depan kamar itu masih memakai lampu kuning edisi zaman dulu. Riska menyentuh gagang pintu, merasa tidak dikunci ia langsung mendorong pelan agar bisa melihat anak kecil di dalam kamar itu.

Ia mendapati anak kecil yang mengenakan baju Winnie The Pooh sedang menyandarkan kepalanya di pangkuan perempuan bernama Bunda Anna. Anak kecil itu sesegukan menangis dengan tangan Bunda Anna membelai-belai rambutnya.

“Riska jangan sedih lagi, malu dilihat Bintang dan Bulan” Bujuk Bunda Anna lalu menunjuk jendela.

Memang benar cahaya Bulan dan kenampakan Bintang malam itu sedang indah-indahnya. Sinarnya bahkan berani masuk untuk menunjukan keindahannya kepada Bunda Anna dan Anak kecil itu, walaupun dihalangi oleh kaca jendela.

“Anak Bunda kuat, Anak Bunda Hebat. Sekarang Riska berdoa saja, minta ke Tuhan agar Ibu dan Ayah dijaga disana, dikasih tempat yang sangat baik” Bujuk Bunda lagi.

“Iya Bunda” Jawab Anak itu lalu menghentikan tangisannya.

Riska melihat itu dari depan pintu. Memori saat Bunda dengan usaha menghiburnya dari luka-luka tragedi kerusuhan. Kebaikan dari seorang perempuan yang sudah mengiklaskan diri untuk merawat dikala sakit, menghibur dikala sedih, memberi bahagia dikala sepi, dan menyayangi dikala gundah.

“Lalu atas alasan apa, sampai egois berhasil mengambil alih hati dan pikiran?” Ucap hati kecil Riska yang membuatnya tertegun beberapa saat di depan pintu.

Di atas sana Bulan dan Bintang mengamati dua wanita itu dengan penuh takzim. Sebenarnya kalau di izinkan, mereka bukan hanya ingin menghibur anak itu dengan cahaya-cahaya indah nan megah, namun juga berbicara dan bertanya-tanya. Akan tetapi Bulan dan Bintang maklum, bahasa mereka tidak akan dimengerti manusia. Aksara mereka tidak akan dipahami oleh kreasi Tuhan paling terbaik bernama manusia itu.

*****

Rasanya seperti baru kemarin Riska menginjakkan kaki di panti asuhan ini. Waktu itu, tangan kecilnya digenggam erat oleh Adam, wajahnya masih dipenuhi ketakutan dan trauma. Mereka diterima oleh Bapak Malik Fernando, Bunda Anna, dan Ibu Lina—tiga orang yang pertama kali menyambut mereka di Yayasan Beta Kasih. 

Sejak usia yang masih begitu belia, mereka sudah dipaksa menghadapi hari-hari berat, berjalan berdampingan dengan kenangan kelam yang tak pernah benar-benar hilang. Bagi mereka, perbedaan adalah belati bermata dua—satu sisi menikam batin, sisi lainnya mengiris hati. 

Di ruangannya, Bunda Anna duduk diam, tatapannya tertuju pada sebuah foto. Dalam bingkai itu, tampak dirinya bersama anak-anak panti asuhan, tersenyum saat merayakan pergantian tahun di Taman Martha Christina Tiahahu. Namun kini, senyum di foto itu terasa begitu jauh. Sebuah penyesalan tersirat jelas di wajahnya—kesalahan karena terlambat memberikan penjelasan tentang surat adopsi. 

"Itulah kenapa Ibu pernah bilang, beritahu saja kabar sebenarnya sebelum mereka mengetahuinya sendiri," suara Ibu Lina mengisi keheningan. "Jika rahasia itu keluar dari mulutmu sendiri dengan kejujuran, mereka akan mengerti. Sebab kejujuran selalu diikuti dengan penjelasan yang baik-baik. Tapi sekarang situasinya sulit. Mereka punya kebebasan untuk menyimpulkan sendiri, dan itu jauh lebih berbahaya." 

Bunda Anna menatap surat-surat adopsi di hadapannya—dokumen yang dia simpan rapat-rapat. Banyak orang tua yang ingin mengadopsi anak-anak Yayasan Beta Kasih, menawarkan kehidupan yang lebih baik. Namun, Bunda Anna selalu menolak. Alasannya ada dua. 

Pertama, karena ia merasa masih mampu memenuhi semua kebutuhan anak-anak tanpa ada yang kekurangan. Kedua, karena bagi Bunda Anna, anak-anak itu adalah segalanya. Cita-cita terbesarnya adalah mereka selalu mengingat tempat pulang mereka—Yayasan Beta Kasih dan dirinya. 

"Aku bingung, Ibu," suara Bunda Anna terdengar lirih. "Aku tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana." 

"Kita ini keluarga, dan anak-anak tahu itu," ujar Ibu Lina dengan lembut. "Sekarang mereka hanya butuh kejujuran dan alasan yang tepat tentang pernikahanmu serta surat adopsi itu. Biar Ibu yang pergi ke rumah Mila dan berbicara dengan Riska. Kamu jelaskan yang terbaik kepada anak-anak di sini. Ingat, kalau kita sudah berani membuat seseorang percaya, maka kita harus mengakhiri semuanya dengan kejujuran yang sama." 

Bunda Anna terdiam. Kata-kata Ibu Lina seperti menggali lebih dalam kegelisahan yang selama ini ia pendam. 

"Sebelum mendengar kabar dari Bapak Malik tentang rencana pernikahanmu, Ibu beberapa kali mendapatkan pertanyaan darinya," lanjut Ibu Lina. "Dia bertanya tentang rencana pernikahanmu dan apakah Yayasan ini harus dialihkan ke pengurus lain." 

Bunda Anna menoleh, sorot matanya menunjukkan kebingungan. 

"Ibu biasanya menjawab, biarkan saja Anna dengan kebahagiaannya. Jangan buru-buru kita pisahkan sesuatu yang sudah lama menjadi miliknya," lanjut Ibu Lina. "Tapi Ibu juga paham, semua orang tua pasti sama. Mereka ingin anaknya menikah, ingin melihatnya bahagia. Bahkan mereka rela melakukan apa pun demi itu. Karena kebahagiaan anak adalah kebahagiaan mereka juga." 

Bunda Anna menarik napas panjang. 

"Lalu, yang didengar Maria di telepon, kalau Ibu boleh tahu, tentang apa?" tanya Ibu Lina pelan.

"Kata Bapak, lebih baik segera menikah. Terlalu lama sendiri itu tidak baik, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Bapak mengenalkan anak dari temannya, katanya dia orang baik dan taat beribadah."

Bunda Anna mengulang kata-kata Bapak Malik dalam pikirannya. Suaranya terdengar ragu, seolah ada pertarungan batin yang belum menemukan pemenangnya. 

Ibu Lina, yang sejak tadi sibuk membersihkan daun-daun kering dari tanaman hias di ruangan itu, akhirnya membuka suara. "Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan keadaan ini hanya karena permintaan Bapak Malik," ujarnya lembut. "Kita tinggal di negeri yang memegang nilai kebudayaan begitu erat. Pandangan terhadap perempuan dan laki-laki masih berbeda. Kita bukan orang Barat yang lebih mementingkan perasaan sendiri daripada urusan hidup orang lain. Di sini, meski seorang perempuan tidak menginginkannya, tetap saja akan ada campur tangan orang lain. Itu sudah dianggap sebagai kewajaran." 

Ibu Lina berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Kalau ada pria dewasa yang belum menikah, orang-orang tak akan terlalu peduli, tak akan sibuk bertanya alasannya. Tapi coba kalau itu perempuan—sudah bekerja, sudah punya penghasilan, dan usianya melewati batas normal pernikahan—dia akan menjadi bahan pembicaraan. Warga desa akan membicarakannya, begitu juga keluarga dan tetangga." 

Bunda Anna menghela napas panjang. "Aku juga bingung, Bu. Haruskah aku memenuhi keinginan Bapak atau mengikuti kata hatiku sendiri?" 

Tatapannya menerawang, seperti mencari jawaban di balik dinding ruangan itu. "Aku percaya soal cinta dan dicintai, Bu. Ustadzah Hanna pernah berkata, rasa suka itu fitrah bagi setiap manusia. Ia datang tanpa diundang, tanpa memberi peringatan. Ia tidak tumbuh di sembarang tempat, tidak jatuh secara liar di hati manusia. Rasa suka tak bisa dipaksa, tak bisa dipanggil, tak bisa dikejar. Sebab ia yang paling tahu kapan harus tumbuh dan berkembang menjadi perasaan." 

Ibu Lina menatapnya penuh kagum. Anak perempuan ini benar-benar memahami makna pernikahan, perasaan, dan pilihan. 

"Ada satu cara yang bisa kita coba untuk menghadapi keadaan ini," ujar Ibu Lina, seolah sebuah rencana telah terlintas di benaknya. 

Bunda Anna menatapnya dengan penuh harap. "Semoga dipermudah, Bu." 

"Aamiin," jawab Ibu Lina sambil tersenyum tipis, lalu kembali merapikan tanaman di hadapannya. 

*****

Di atas meja belajar dekat tempat tidurnya, Riska menatap sebuah novel fantasi karya penulis Inggris, J.K. Rowling. Harry Potter, begitu judulnya. Buku itu mengisahkan petualangan seorang penyihir muda bernama Harry Potter selama bersekolah di Hogwarts, sekolah sihir paling terkenal. Novel ini telah terjual sekitar 450 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya salah satu buku terlaris sepanjang masa, dan telah diterjemahkan ke dalam 73 bahasa. 

Saat ini, Riska sedang membaca Harry Potter and The Philosopher’s Stone, buku pertama dari seri tersebut. Baru saja ia kembali tenggelam dalam ceritanya, suara ketukan di pintu menyadarkannya. 

"Riska, boleh masuk?" Suara Mila terdengar dari balik pintu. 

"Silakan, Kak," jawab Riska, menutup bukunya sejenak. 

Mila melangkah masuk, membawa dua gelas susu cokelat di tangannya. Ia melirik sekilas ke buku yang dipegang Riska sebelum menawarkan segelas padanya. 

"Susu cokelat, mau?" 

"Terima kasih, Kak," Riska mengambil gelas itu dengan senyum tipis. 

Lihat selengkapnya