Suasana di Yayasan Beta Kasih kembali ramai. Tawa dan obrolan riang memenuhi ruang tamu. Di perpustakaan kecil, terdengar suara anak-anak berebut buku. Malam hari, saling membangunkan untuk beribadah menjadi kebiasaan yang terus terjaga. Ustadz Heri dan Kak Hanna pun tak henti-hentinya membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Kini, anak-anak telah menerima dengan ikhlas berita pernikahan Bunda Anna serta keputusan mengenai surat adopsi.
Faiz kembali menemui Samsul untuk bersama mengurus kebun belakang. Sejak kepergian Faiz sementara waktu, Samsul sempat kebingungan membagi waktu antara merawat kebun, mengerjakan tugas sekolah, menjalankan kewajibannya di Yayasan, serta mempersiapkan panen. Namun, kini semuanya berjalan lebih teratur setelah Faiz kembali. Bersama, mereka merawat tanaman dan mempersiapkan hasil kebun untuk panen.
Sementara itu, Adam menerima pemberitahuan dari panitia beasiswa untuk kembali melanjutkan pembahasan mengenai kelulusannya. Sebelumnya, proses ini sempat tertunda. Pagi ini, ia dijadwalkan bertemu dengan panitia untuk memberikan keterangan mengenai alasan dirinya dan teman-temannya menolak diadopsi.
“Abang mau berangkat?” tanya Riska saat melihat Adam di ruang tamu.
“Iya, kemarin-kemarin sempat tertunda,” jawab Adam sambil merapikan dokumen di tangannya.
“Abang, waktu Riska menginap di rumah Kak Mila, ada seorang pria seumuran Abang yang lewat di samping Riska di ruang tamu. Kalau dia saudaranya Kak Mila, kenapa Kak Mila nggak pernah cerita?”
“Kamu tahu namanya?” tanya Adam, penasaran.
“Kevin Zacquen, Bang. Riska lihat namanya di piagam yang ada di ruang tamu.”
Adam terdiam sejenak. Nama itu terdengar tidak asing baginya. Ia pernah mendengar nama Kevin Zacquen di dua tempat yang berbeda. Pertama, saat seleksi beasiswa ke Belanda, dan kedua, di kantor polisi. Saat itu, Kombes Riko menyebutkan bahwa orang yang melaporkan Bunda Anna dengan tuduhan merawat anak-anak secara paksa—bahkan berniat menjual mereka—bernama Kevin Zacquen.
Namun, Adam masih ragu. Bisa saja dua orang ini berbeda, mengingat Kevin Zacquen yang ia temui saat seleksi beasiswa terlihat sebagai orang baik.
“Biar nanti Abang hubungi Mila,” ujar Adam akhirnya.
“Abang mau memastikan apa?” tanya Riska penasaran.
“Saat di kantor polisi, Kombes Riko bilang bahwa laporan itu dibuat oleh seseorang bernama Kevin Zacquen. Nama belakangnya mirip dengan keluarga Mila. Tapi Abang berharap mereka tidak ada hubungan.”
Adam menghela napas, lalu berpamitan kepada Riska dan Bunda Anna untuk berangkat ke tempat seleksi beasiswa. Dengan penuh harapan, Bunda Anna melepas kepergiannya dengan doa, agar Adam pulang membawa kabar baik.
*****
Seperti biasa, halte bus dipenuhi oleh orang-orang dengan tujuan masing-masing. Pekerjaan dan uang telah membuat mereka sibuk ke sana kemari, seakan tunduk di bawah kekuasaan benda kecil bernama uang. Koin yang pertama kali diperkenalkan oleh Bangsa Lydia di wilayah Turki pada abad ke-6 SM ini telah berkembang menjadi alat yang mengendalikan kehidupan manusia. Pengaruhnya begitu besar hingga ke seluruh penjuru dunia. Demi uang, ada yang rela kehilangan harga diri, menjual keyakinan, bahkan mengkhianati orang-orang terdekat.
Ponsel di saku baju Adam bergetar saat ia berdiri dalam antrean penumpang.
"Halo Adam, sudah sampai? Maaf, aku tidak sempat mengantarmu keluar. Kudengar hari ini adalah hari penentuan nasibmu untuk ke Belanda. Aku yakin kamu akan berhasil. Untuk hari ini saja, izinkan aku mengirim pesan-pesan ke ponselmu, tapi tak perlu dibalas ya."
Pesan itu datang dari Maria. Adam merasa heran, sebab biasanya Maria selalu menggunakan kata "saya" dalam percakapan mereka, baik secara langsung maupun lewat pesan. Kali ini, ia menggunakan kata "aku".
"Masih menunggu bus. Silakan saja, Maria, jika ingin mengirim pesan," balas Adam singkat.
"Jika masih menunggu dan lama, coba ambil cara lain untuk mencapai tujuan," balas Maria tak lama kemudian.
Benar saja, setelah cukup lama menunggu, bus yang ia tunggu tak kunjung datang. Adam pun berinisiatif bertanya kepada petugas halte.
"Pak, bus ke kantor Imigrasi belum ada?"
"Hari ini mungkin agak kesiangan beroperasinya. Kalau memang mendesak, ada kereta di dekat sini. Pakai itu saja, Mas."
Tanpa berpikir lama, Adam segera menuju stasiun untuk menggunakan jalur alternatif. Saat sedang mengamati peta jalur kereta di dinding stasiun, pesan lain dari Maria kembali masuk.
"Hati-hati, Adam, saat melewati persimpangan ketika turun dari kereta. Banyak orang yang tak kuat dengan keyakinannya, lalu memilih berpindah mencari jalan lain di persimpangan."
Ingin rasanya Adam membalas pesan-pesan itu, tetapi sesuai permintaan Maria, hari ini ia hanya akan menerima pesan tanpa membalasnya. Ia bertanya-tanya, apa yang sedang dipikirkan Maria hingga mengajukan permintaan seperti ini?
Di antara gerbong-gerbong kereta, Adam melihat banyak orang sibuk dengan layar ponsel mereka. Benda kecil itu kini telah menjadi teman paling akrab dalam kehidupan manusia. Dulu, saat menunggu kendaraan, orang-orang mungkin akan membaca buku, koran, atau majalah. Kini, ponsel menawarkan lebih banyak hal—dengan sekali tekan, berita bisa diakses dalam bentuk video, cuaca bisa dipantau secara real-time, dan informasi viral dari berbagai negara bisa tersebar dalam hitungan detik.
Adam teringat cerita dari kakeknya. Dulu, sebelum televisi dan media elektronik masuk ke desanya, anak-anak masih senang bermain di luar dengan permainan sederhana. Para orang tua pun tidak khawatir membiarkan anak perempuannya bermain bersama teman-teman sebaya tanpa curiga. Kala itu, rumah-rumah di ujung desa masih dipenuhi dengan suara orang tua yang membimbing anak-anak mereka membaca huruf hijaiyah sepulang dari pesantren.
Namun, keadaan berubah setelah janji politik para calon anggota dewan saat kampanye terwujud. Listrik mulai mengalir ke desa mereka, membawa serta televisi dan berbagai media elektronik. Perlahan, suara tartil Al-Qur'an yang dulu mengisi senja digantikan oleh suara acara gosip dan sinetron. Bapak-bapak mulai menghabiskan waktu di pos ronda dengan judi kecil-kecilan, sementara anak-anak meniru gaya pacaran yang mereka lihat di layar kaca.
Ponsel Adam kembali bergetar. Pesan dari Maria masuk lagi.
"Kalau kamu diberi kesempatan untuk pergi ke masa lalu, apa yang akan kamu lakukan di sana? Jika ada tawaran seperti itu padaku, aku akan datang untuk menghapus kisah-kisah luka di setiap halaman hidup, lalu menjahit kenangan demi kenangan dengan benang keikhlasan."
Adam terdiam, merenungkan kata-kata itu. Jika benar ia bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan ia ubah?
*****
Kerumunan orang memadati depan ruangan panitia. Suara-suara bersahutan—ada yang berseru penuh syukur karena berhasil diterima, ada pula yang mengeluh kecewa karena gagal.
"Tempat konsultasi bagi yang belum mendapat hasil beasiswa di mana, Mas?" tanya Adam kepada seorang peserta.