Aku, Kau, dan Luka Yang Tak Terucap

Irfandi Rizky Tomagola
Chapter #13

Meminjam Namamu

Malam masih larut, dengan suasana di luar rumah yang sunyi. Suara hujan yang jatuh di atas jalan, dan angin malam yang menyambar ranting-ranting pohon, beradu dengan suara kendaraan yang lewat. Semua penghuni asrama masih terlelap dalam tidur mereka, berlayar di pulau mimpi masing-masing.

Hujan yang sudah turun sejak pagi menghiasi langit dengan awan-awan basah, berhenti sebentar siang hari, lalu datang lagi menjelang sore. Menurut BMKG, saat musim hujan, frekuensi hujan bisa lebih sering daripada hari-hari tanpa hujan. Seperti yang pernah disampaikan Ustadz Heri, musim hujan adalah saat yang penuh berkah bagi penjual bakso, mie ayam, dan soto ayam. Namun bagi penjual es campur, es doger, es cendol, dan keluarga es lainnya, musim hujan justru menjadi waktu penuh ketidakberuntungan yang harus mereka terima karena ini adalah siklus alam.

Di tengah suasana hening itu, Riska menyalakan lampu di asrama perempuan sambil mengikat rambutnya dengan jepitan.

"Kak Maria, Kak Maria, Kakak." Riska memanggil Maria yang sedang tidur di sebelah tempat tidurnya.

"Kak Riska, kalau ada urusan, jangan nyalakan lampu, kasihan teman-teman yang lain nanti kebangun. Ini masih tengah malam, besok saja bicara," jawab Febi terbangun, masih setengah sadar.

"Ini hal penting, Febi, Kak Hanna masuk rumah sakit." Riska berbisik, khawatir.

"Apa! Ya Allah," jawab Febi terkejut.

 

"Jangan buat keributan dulu, bangunkan Bunda pelan-pelan dan jelaskan dengan hati-hati," kata Riska.

Febi segera bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar Bunda Anna.

"Ada apa, Riska?" tanya Maria dengan suara parau karena mengantuk.

Riska segera berbisik, memberitahukan bahwa Kak Hanna sedang dirawat di rumah sakit setelah kecelakaan parah.

"Terus bagaimana sekarang?" tanya Maria, sedikit panik.

"Febi sedang memberitahu Bunda Anna. Rencananya malam ini, Riska akan ikut berangkat ke rumah sakit bersama Bunda, besok baru kita kabari anak-anak yang lain, dan mungkin bisa menyusul," jawab Riska.

Obrolan mereka mengusik Alifa yang tidur di dekat tempat tidur Maria. Alifa sedikit terbangun, melihat Riska yang sibuk mengambil pakaian dari lemari dan memasukkannya ke dalam tas.

Suara dari asrama perempuan pun terdengar hingga ke asrama laki-laki. Faiz yang sudah bangun lebih dulu, melihat jam dan mendapati waktu masih menunjukkan pukul 02:45. Ia berpikir masih lama sebelum waktu tahajud, namun terdengar suara langkah kaki dari asrama atas.

"Bangun dulu, Abang," ucap Faiz pelan.

"Sudah waktunya tahajud?" tanya Adam yang terbangun karena suara Faiz.

"Bukan, Bang. Faiz dengar ada langkah kaki di depan asrama dan suara dari asrama atas. Apa ada yang terjadi?" tanya Faiz.

"Tidak mungkin, Faiz. Kalau ada apa-apa, pasti kita dengar dengan jelas. Sudah, tidur saja, ini masih tengah malam," jawab Adam, menarik selimut kembali.

Faiz masih penasaran, namun belum merasa tenang. Ia berjalan pelan ke pintu dan melihat ke luar ke arah tangga, namun tak ada siapa pun yang lewat.

Sementara itu, Bunda Anna dan Febi masuk ke asrama perempuan. Alifa yang melihat kedatangan mereka dengan raut cemas, tak bisa melanjutkan tidurnya.

"Tenang dulu, ini masih tengah malam. Jangan berisik, kasihan teman-teman yang lain masih tidur. Bunda dan Riska akan berangkat sekarang, nanti besok baru kalian menyusul," kata Bunda Anna dengan suara lembut.

"Kenapa tidak semua berangkat sekarang, kenapa harus besok pagi?" tanya Alifa, khawatir.

"Mobil di bawah tidak cukup untuk mengangkut kita semua, apalagi kita juga harus bawa pakaian untuk menginap. Bunda akan mengabari Mila agar datang besok pagi bersama kalian ke rumah sakit," jawab Bunda Anna, berusaha menenangkan anak bungsunya itu.

Riska keluar bersama Bunda Anna dari asrama dan berpamitan kepada teman-temannya di asrama perempuan.

Faiz yang sedari tadi mengamati situasi dari sela pintu, kini berpindah ke jendela. Ia melihat Bunda Anna dan Riska turun tangga dengan sedikit terburu-buru sambil membawa tas pakaian. Faiz membatalkan niatnya untuk keluar dan bertanya. Tak lama, ia mendengar suara mobil dinyalakan dari garasi, lalu perlahan mobil itu keluar dan menuju jalan, meninggalkan tengah malam yang sunyi.

Faiz kembali ke tempat tidurnya dan melihat Samsul menatapnya dengan kantuk yang tampak jelas di wajahnya, meskipun tidak berkata apa-apa.

"Ada apa?" tanya Samsul, mengernyitkan dahi.

Faiz hanya mengabaikannya dan menyuruh Samsul kembali tidur. Namun, Samsul merasa penasaran dan kembali bertanya.

"Memangnya ada apa?"

"Besok saja kalian baru dengar. Saya juga nggak tahu apa yang terjadi di luar. Sekarang tidur saja," jawab Faiz dengan suara tegas.

******

Waktu sudah melewati tengah malam, dan suasana di rumah sakit terasa sunyi. Petugas yang sedang bertugas siang baru saja akan pulang, sementara petugas malam mulai bersiap untuk menggantikan. Dari arah pintu masuk, sebuah mobil ambulance tampak datang. Seorang petugas keluar dengan buru-buru memberi kode kepada petugas medis lainnya untuk segera menyiapkan brangkar.

Pasien itu dibawa menuju ruang UGD untuk segera mendapatkan pertolongan. Terdengar beberapa kata dari petugas medis, "Patah tulang" dan "Pendarahan otak."

Tidak lama kemudian, mobil berwarna hitam tiba di pintu rumah sakit. Bunda Anna dan Riska turun dan berjalan menuju ruang tunggu untuk mencari informasi tentang keberadaan Hanna.

"Selamat malam, Dokter. Pasien dengan nama Hanna Wardha Nissa dirawat di mana?" tanya Bunda Anna.

"Ibu siapa ya?" tanya dokter dengan nada tenang.

"Saya orang tua angkatnya." Riska sedikit terkejut mendengar kata-kata itu.

"Untuk sementara, belum ada yang bisa masuk ke ruangannya. Pasien juga belum sadarkan diri. Mari, saya antar ke sana," jawab dokter sambil memimpin mereka ke ujung lorong, menuju kamar nomor 27.

Lihat selengkapnya