Aku, Kau, dan Luka Yang Tak Terucap

Irfandi Rizky Tomagola
Chapter #14

Dokter Fitri Amelia

Setelah menangani pasien bernama Hanna Wardha Nissa, Dokter Fitri di sarankan oleh pemimpinnya dalam divisi UGD untuk pulang dan istirahat di rumah. Sebagai pemimpin, Dokter Fauziah telah hafal tentang pola kerja tangan kanannya itu. Dokter Fitri tidak akan pulang ke rumah sampai hari minggu datang. Ada dua hal yang sebetulnya dihindari, pertama omongan tetangga soal kapan Dokter Fitri menikah karena usia telah menginjak kepala tiga. Dan kedua, pertanyaan menikah dari bapaknya dengan setengah memaksa.

Fitri sengaja melambatkan motornya agar terlambat untuk sampai ke rumah. Waktu memang sudah melewati tengah malam dikala Fitri keluar dari rumah sakit. Setahu Fitri, mereka yang mampu melewati tengah malam untuk begadang hanya empat kelompok manusia. Pertama, kumpulan pemuda dan Mahasiswa hobi demo yang selalu nangkring di warung “Ku tunggu jandamu” untuk membahas konspirasi negeri, dan tidak akan pulang kalau belum di usir oleh warga karena debat yang menimbulkan suara berisik. Kedua, bapak-bapak penggila hasil bola dengan memasang uang dalam taruhan saat judi kecil di pos ronda setiap kali tim kesayangan mereka bertanding.

Ketiga, orang-orang yang tidak lihat waktu saat bertamu, mereka sebenarnya memiliki tujuan baik untuk bersilaturahmi. Tapi di negeri yang menjalankan segala perintah Trisatya dan Dasa Dharma Pramuka serta rasa sungkan, perasaan orang lain lebih di pikirkan ketimbang kenyamanan dirinya sendiri. Dan keempat, jenis begadang yang disenangi oleh Fitri, yaitu suara Bapak dan Ibu paruh baya saat mengeja dzikir dan barzanji di mushola-mushola dekat rumah.

Di antara dokter, bidan, dan perawat yang bekerja di rumah sakit tempat Fitri magang, hanya ada tiga perempuan yang belum menikah. Salah satunya adalah Fitri sendiri. Ia telah memilih untuk tidak lagi mencari pasangan setelah dua kali gagal menikah. Bayangan akan rasa malu masih menghantuinya—kepada orang-orang yang telah menerima undangan pernikahannya, kepada penghulu yang sudah bersiap menunaikan akad, namun semua itu tak pernah terjadi.

"Bapak, Ibu. Aku pulang," panggil Fitri sambil melepas sepatu dan menaruhnya di bawah jendela.

"Sebentar, Fitri," jawab suara dari dalam rumah.

Begitu pintu terbuka, Fitri masuk dan meletakkan barang bawaannya di sofa. Televisi di depannya sedang menayangkan film Titanic, khas siaran malam yang biasanya disukai orang dewasa. Fitri sudah hapal kebiasaan ibunya—tidur di depan televisi yang masih menyala sampai ada yang membangunkannya.

"Tumben kamu pulang lebih cepat. Mau ambil baju tambahan untuk menginap?" tanya ibunya sambil melirik sekilas.

"Terpaksa, Bu. Dokter Fauzih mengancam tidak akan mengeluarkan gajiku bulan ini kalau aku tidak pulang untuk istirahat. Katanya, beliau kasihan melihat aku terus bekerja dan baru pulang setiap hari Minggu. Padahal Fitri tidak merasa terbebani. Seharusnya mereka bersyukur, karena semangat kerjaku ini bisa membuat orang-orang di rumah sakit malu kalau malas-malasan."

"Sudah, itu tandanya beliau peduli padamu. Ibu tidak akan ikut campur urusan kerjamu," ujar ibunya menenangkan.

"Bapak ada?"

"Belum pulang kerja."

"Syukurlah," balas Fitri sambil menyandarkan tubuh ke sofa.

Ibunya tersenyum kecil. "Masih takut kalau Bapak mulai tanya-tanya soal nikah?"

Fitri menghela napas. "Iya, Bu. Sepertinya tidak ada cerita lain lagi yang bisa ditanyakan Bapak kepadaku."

"Kita tidak bisa menyalahkan pandangan Bapak. Hidup di negara yang adat dan budayanya masih kuat membuat cara pandang laki-laki dan perempuan berbeda. Kita bukan orang Barat yang lebih peduli pada urusan sendiri daripada ikut campur kehidupan orang lain. Walaupun kita perempuan tidak menyukai hal itu, tetap saja campur tangan orang lain dalam urusan pribadi sudah menjadi kewajaran di sini. Kalau ada pria dewasa belum menikah, orang-orang tidak akan sibuk bertanya alasannya. Tapi kalau yang belum menikah adalah perempuan dan usianya sudah melewati batas yang dianggap ‘normal’, maka pasti jadi bahan pembicaraan tetangga dan keluarga."

Ibunya menggenggam tangan Fitri erat.

Lihat selengkapnya