Hujan masih terus turun, mengunjungi Bumi tanpa perlu diundang. Ia datang membasahi setiap sudut, menyapa tanah dan tumbuhan yang telah lama menantikannya. Air hujan mengalir melewati gang-gang kecil, membuat jalanan menjadi licin bagi para pengendara.
Kumpulan air dari peristiwa kondensasi di langit ini akhirnya jatuh, menyentuh permukaan bumi, menyapa pepohonan tinggi seperti cemara dan beringin, serta tanaman di dataran tinggi seperti kopi dan teh. Ia juga menyentuh beragam bunga di taman sebelum meresap ke dalam tanah, bertemu dengan akar-akar yang telah lama bersahabat dengan lumpur dan batu.
Di perpustakaan mini Yayasan Beta Kasih, buku-buku tentang hujan berjejer rapi. Di antaranya ada "Hujan Bulan Juni" dengan kutipan populernya: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.” Juga ada puisi "Mengenang" karya Anisa Isti yang dimuat dalam majalah Horison. Menurutnya, hujan bisa menjadi saat untuk menyakiti diri perlahan, cukup dengan menatap jendela dan mengenang luka-luka yang pernah diberikan orang lain.
Memasuki hari ketiga, Hanna masih terbaring lemah, belum menunjukkan tanda-tanda sadar. Pagi itu, dua petugas rutin memeriksa pasien. Mila dan Maria, yang bertugas hari itu, menemani Hanna hingga siang sebelum orang tuanya datang. Dari arah pintu, terdengar suara perawat yang meminta izin masuk. Ia membawa lima tangkai mawar dalam gelas kaca.
"Mau ditaruh di sini, Kak?" tanya Mila.
"Iya, katanya ini untuk Hanna. Ada seseorang datang pagi-pagi membawanya," jawab perawat.
"Kakak kenal siapa dia?" tanya Maria penasaran.
"Tidak, pemuda itu memakai masker dan topi. Mungkin saudara kalian?"
"Sepertinya bukan, Kak. Kalau saudara kami, mereka pasti langsung masuk," jawab Mila.
Perawat meletakkan bunga itu di dekat jendela agar terkena cahaya matahari. Mila sempat ragu dengan pemberian orang asing, tapi Maria berpikir, jika itu hanya bunga, lebih baik dijadikan hiasan di dalam ruangan.
"Kapan kembali masuk kuliah?" tanya Maria mengawali obrolan.
"Sebulan lagi, Kak."
"Ibu kamu hilang saat konflik?"
"Iya, Kak. Ibu bekerja di bidang kesehatan di Jakarta. Lalu ada tawaran menjadi relawan di daerah konflik. Bersama rekan-rekannya, Ibu berangkat. Seminggu sekali atau dua kali, Ibu selalu mengabari kami. Sebenarnya tugasnya hanya enam bulan, tapi ia meminta perpanjangan waktu karena tak sampai hati meninggalkan para korban. Setelah itu, kami kehilangan kontak. Ibu dikabarkan hilang sepulang dari rumah sakit setelah mengantar pasien. Kami sudah berusaha mencari, tapi tak pernah menemukannya. Aku hanya berharap, mungkin Ibu tersesat dan belum tahu bagaimana cara pulang."
Maria mengerti. Itu sebabnya Kevin dulu melaporkan Bunda Anna dan hampir menggagalkan beasiswa dari Adam. Bagi Kevin, kehilangan orang yang paling dicintainya di tanah anak-anak Yayasan Beta Kasih adalah alasan untuk mereka menerima hukuman. Maria tahu, kehilangan sering kali membuat seseorang buta dalam melangkah.
"Sebesar apa pun rindu kami, aku rasa Kakak dan anak-anak di sini yang paling mengenangnya. Sabar menerima kondisi seperti ini pasti tidak mudah. Dalam satu buku di perpustakaan, tertulis bahwa puncak tertinggi dari keikhlasan adalah saat seseorang menjalaninya dengan perasaan baik-baik saja."
"Mungkin seperti yang tertulis di pintu rumah kamu, bahwa Tuhan memberikan cobaan kepada manusia karena Dia tahu ada kebaikan dan kesabaran dalam hatinya," tambah Maria.
Mereka terlibat dalam diskusi tentang sabar dan syukur dari dua sudut keyakinan yang berbeda. Namun, mereka tidak berdebat tentang siapa yang paling benar, seperti kelompok-kelompok tertentu yang kerap menjual ayat suci dan nama Tuhan demi kepentingan pribadi, tetapi bersembunyi di balik dalih memperjuangkan agama.
******
Seperti biasa, dengan rutinitas yang sudah menjadi kebiasaannya, Dokter Fitri duduk di meja kerja rumah sakit, ditemani tumpukan dokumen baru hari ini. Sambil mencatat data pasien, matanya menangkap sebuah surat undangan pensiun dari Dokter Wulan Sari. Fitri tidak terlalu akrab dengan seniornya itu karena mereka bekerja di divisi yang berbeda. Namun, satu hal yang ia tahu, Dokter Wulan Sari adalah sosok panutan di rumah sakit. Ia dikenal disiplin dalam kehadiran, sepenuh hati dalam merawat pasien, dan dihormati oleh banyak orang.
Di balik segala rasa kagum dan penghargaan yang diterimanya, ada satu hal yang membuat Fitri berpikir. Di antara kesuksesan dan pengabdian yang luar biasa, Dokter Wulan Sari belum menikah. Kesibukan yang tiada henti membuatnya tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Fitri menatap foto Dokter Wulan dalam undangan itu, membayangkan bagaimana kecintaan terhadap profesi bisa membuat seseorang melewati masa tua tanpa keluarga di sisinya.
Malam semakin larut, sunyi menyelimuti penjuru rumah sakit, hingga detak jarum jam pun terdengar begitu jelas. Namun, Dokter Fitri tetap sibuk dengan pekerjaannya. Baginya, terlalu banyak beristirahat sama saja dengan menunda pekerjaan.
Teman-temannya yang bertugas di jadwal yang sama sudah pulang sejak Ashar. Meski tangannya mulai gemetar karena belum sempat makan, Fitri tetap teguh pada prinsipnya: ia tidak ingin merepotkan orang lain atau dikasihani. Para petugas yang bertugas di giliran malam pun sudah terbiasa melihatnya tetap bekerja hingga larut.
Di rumah sakit, ada dua jenis reaksi terhadap kebiasaan Fitri. Sebagian orang mengaguminya dan menjadikannya sebagai inspirasi, sementara yang lain mencibir, menyebutnya tidak peduli pada kesehatan diri sendiri atau kehidupan pribadinya.
Meja kerja Fitri berada di depan ruang persalinan. Dari samping ruangan, terdengar suara kursi roda yang mendekat. Saat menoleh, ia melihat dua anak muda yang dikenalnya. Mereka adalah teman pasien yang ia tangani beberapa hari lalu.
"Dokter Fitri, ya?" ucap Adam sambil memberi salam.
"Kalian temannya Hanna?" tanya Fitri.
"Iya, Dokter," jawab mereka serempak.
"Tidak usah panggil Dokter, panggil saja Kak Fitri," ucapnya sambil tersenyum.
"Baik, Kak Fitri. Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menangani saudara kami. Kata Dokter Fauziah, Hanna bisa melewati masa kritis berkat bantuan Kak Fitri," kata Maria dengan tulus.
"Sama-sama. Itu memang tugas kami sebagai tenaga medis. Kami telah bersumpah untuk menjalankan kewajiban kami dalam menyelamatkan nyawa orang lain. Saya juga berterima kasih, kalian sudah jauh-jauh datang ke sini malam-malam."
"Saya dan Adam kebagian tugas menjaga Hanna. Saat jalan-jalan berkeliling, kami tidak sengaja melihat Kak Fitri, jadi sekalian mampir," ujar Maria.
"Petugas yang tadi pagi di mana, Kak? Apa sudah diganti?" tanya Maria lagi.
"Iya, di sini petugas dibagi menjadi dua shift. Yang masuk pagi bertugas sampai pukul enam sore, sedangkan yang masuk sore akan berjaga hingga pagi," jawab Fitri sambil kembali melihat data pasien.
"Kakak kan jadwalnya pagi, kenapa sore belum pulang?" tanya Adam penasaran.
"Biasanya baru istirahat di rumah saat hari Minggu. Kesempatan pulang lebih banyak saya manfaatkan untuk mencari pekerjaan tambahan di sini," jawab Fitri seadanya.