Langit kembali cerah setelah sebulan penuh diselimuti mendung dan hujan. Seolah turut bersuka cita, awan-awan yang terbentuk dari uap air itu menyaksikan seorang gadis yang kerap mengagumi mereka perlahan mulai pulih.
Di taman rumah sakit, bunga-bunga bermekaran dengan indah, sisa-sisa embun yang masih menempel di pucuk daun menambah kesegaran suasana pagi. Beberapa pasien tampak meminta bantuan perawat dan petugas kesehatan untuk menemani mereka berjalan-jalan menikmati hangatnya sinar matahari—cahaya yang dipercaya memberi vitamin bagi tulang.
Sementara itu, dari dalam kamar Hanna, Fitri keluar ditemani Dokter Fauziah. Di tangannya, selembar kertas berisi catatan perkembangan kesehatan Hanna.
"Jangan memaksakan diri, akhir pekan ini pulanglah ke rumah untuk beristirahat," ujar Dokter Fauziah lembut. "Ibu harus jujur, menemukan orang rajin seperti kamu itu tidak mudah. Kamu pekerja keras, tidak kenal waktu, dan tetap teguh pada prinsip. Ibu dengar kamu ingin melanjutkan kuliah dalam waktu dekat?"
Fitri mengangguk.
"Kalau memang benar, jadikan pengalaman dan pertemanan di sini sebagai bekal. Sebuah saran dari orang yang sudah lebih dulu duduk di bangku kuliah—fokuslah pada ilmu, perbanyak pengalaman, dan pandai-pandailah mencari peluang serta teman yang baik. Jangan memaksakan diri dalam hal yang kurang bermanfaat. Kurangi bergaul dengan kelompok yang suka begadang hanya untuk membahas konspirasi, dan tinggalkan pertemanan dengan mereka yang lebih sibuk mempercantik wajah daripada mengisi kepala."
Fitri tersenyum. "Baik, Bu. Terima kasih atas kepercayaannya."
Jalan hidup memang selalu datang tanpa pemberitahuan, tak bisa ditebak, dan harus dijalani sebagaimana adanya. Fitri telah merasakannya. Jatuh hati, merasa nyaman, membangun kepercayaan, lalu dikhianati oleh janji yang tak ditepati. Setelahnya, ia bangkit, mengalihkan luka dengan kesibukan, hingga lupa caranya beristirahat. Semua itu adalah serangkaian peristiwa yang harus ia terima.
Kini, ia mulai memahami makna dari sebuah ungkapan:
"Manusia baru menyadari bahwa takdir Tuhan selalu baik setelah mereka memahami arti dari semua peristiwa yang terjadi."
Fitri menyadari bahwa tatapan sinis orang-orang karena ia tak kunjung menikah, gunjingan para ibu tetangga, dan anggapan bahwa ia tak peduli dengan dirinya sendiri, hanyalah cara semesta membentuknya menjadi perempuan yang lebih kuat.
Di hadapannya, tak jauh dari tempat mereka berdiri, muncul Hanna yang duduk di kursi roda, ditemani Adam.
Dokter Fauziah melirik ke arah mereka lalu bertanya, "Itu pasienmu, bukan?"
"Iya, Bu."
"Lalu, apa yang mereka lakukan di luar pagi-pagi begini? Penyembuhan akan lebih lama jika waktu istirahat malah dipakai untuk berjalan-jalan. Seharusnya mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar."
Fitri menghela napas, lalu melangkah mendekati kedua anak itu.
"Saya minta tolong Adam untuk mengajak jalan-jalan, Dokter. Saya ingin merasakan matahari pagi. Bosan kalau hanya di kamar terus," bela Hanna.
Mereka berpamitan kepada Dokter Fauziah, lalu berjalan menuju ruang tunggu sebelum akhirnya turun ke taman rumah sakit. Banyak orang ikut menikmati kehangatan mentari pagi, seakan menyambut cahaya setelah semalaman hujan deras mengguyur kawasan rumah sakit.
Saat mereka berhenti di dekat lampu taman, Dokter Fitri menoleh ke arah Adam dan bertanya, "Aku dengar kamu seorang guru agama. Pastinya, meskipun sedikit, kamu lebih memahami tentang pernikahan. Boleh aku bertanya?"