Aku, Kau, dan Luka Yang Tak Terucap

Irfandi Rizky Tomagola
Chapter #17

Kembali

Hujan masih membasahi Jakarta, membuat segala aktivitas terasa lebih berat. Semua orang seolah ingin menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga atau melanjutkan tamasya di pulau-pulau mimpi dalam selimut. Mila terbangun di kamarnya. Udara dingin yang menyusup lewat sela-sela jendela membuatnya malas untuk bangkit dan mengambil selimut yang terjatuh di bawah tempat tidur. 

Sebelum kembali terlelap, Mila menatap ke luar jendela. "Masih seperti kemarin," gumamnya dalam hati, mengamati hujan yang tak kunjung reda. Saat matanya hampir menutup, suara adzan subuh dari muadzin memecah kesunyian yang diiringi rintik hujan. Suara itu mengingatkannya pada teman-temannya di Yayasan Beta Kasih yang, di waktu seperti ini, sudah bersiap menghadap Sang Maha Kuasa di atas sajadah, beribadah, dan menutupnya dengan doa. 

Mila menoleh ke jam di atas meja. Tiga jam lagi, ia akan berangkat ke Jogja, tempat ia melanjutkan kuliah. Koper dan perlengkapannya sudah ia siapkan semalam agar tak repot di pagi hari. Mila berencana untuk tidak memberitahukan kepindahannya kepada anak-anak di Yayasan Beta Kasih, meski itu hanya rencana. Kevin sudah lebih dulu tahu dan memberitahunya bahwa Mila akan segera melanjutkan pendidikan. 

Jogja mungkin tidak seramai dan seberisik Jakarta, namun kota ini memiliki ciri khasnya sendiri. Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Jogja menyimpan sejarah panjang, termasuk kisah-kisah kolonialisme yang mewarnai masa lalu. Dalam tidurnya, Mila terbangun di sebuah kerajaan Mataram antara tahun 1719-1727, dan menyaksikan Raja Paku Buwono II, Raja Mataram kala itu, yang sedang mengganti nama Pesanggrahan Gartitawati menjadi Yogyakarta. 

Di samping tempat Mila duduk, ia melihat sebuah kitab Epos Ramayana yang menuliskan bahwa nama Yogyakarta berasal dari ibu kota Sangkrit Ayadhya. Mila sekilas membaca catatan itu, meskipun tak sepenuhnya memahaminya. 

Kemudian, Mila dibawa pergi lagi, menuju masa kolonial di Yogyakarta. Di sana, ia menyaksikan para Meneer yang sedang membahas Trilogi Van Deventer, kebijakan untuk memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia. Ada tiga kebijakan dalam Trilogi tersebut: pendidikan, imigrasi, dan pengairan. 

Mila mengamati senyuman anak-anak pribumi dan orang tua mereka saat mendengar kabar bahwa Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar zaman kolonial, dibuka untuk rakyat Indonesia. Namun, senyuman itu tak mampu menutupi kesal Mila setelah mengetahui bahwa kebijakan imigrasi adalah politik pintu terbuka yang diciptakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dengan cara ini, Belanda mencari sekutu untuk mengatur komoditas perkebunan di wilayah Hindia Belanda, sekaligus menjadikan warga pribumi sebagai pekerja yang harus tunduk pada perintah majikan. 

Saat Mila masih menyaksikan kebijakan terakhir dari Trilogi Van Deventer, sebuah suara panggilan dari depan pintu membuyarkan semua petualangannya. 

"Mila, satu jam lagi kita berangkat. Kata Paman dan Bibi di Jogja, mereka sudah siap ke bandara," panggil Kevin dari luar. 

Beberapa menit kemudian, Mila keluar dari kamarnya. Mengenakan blouse putih, rok, dan kerudung putih, ciri khas kesederhanaannya, ia berjalan menuju aula tempat Kevin sedang memindahkan barang-barang ke dalam mobil. 

Pak Zacquen muncul dari kamarnya sambil membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas kado putih. 

"Itu hadiah kecil dari kami. Ingat, kamu adalah anak baik yang selalu diharapkan oleh keluarga Zacquen," katanya, dengan suara yang penuh harap. 

Mila menahan air matanya, berusaha menguatkan hati meski perpisahan ini terasa berat. Banyak pelajaran yang ia terima selama di Jakarta, meskipun bukan dari bangku kuliah. Di sini, ia belajar bagaimana menjadi baik meskipun sering dibalas dengan keburukan, menerima kebenaran walau menyakitkan, dan mengolah perasaan—sebuah cara yang sering membuatnya memohon ampunan kepada Sang Pemberi Maaf atas kesalahan yang tak terhindarkan, termasuk rasa yang ia rasakan pada seseorang yang berbeda agama.

*****

Lihat selengkapnya