Aku, Kau, dan Luka Yang Tak Terucap

Irfandi Rizky Tomagola
Chapter #18

Kejujuran

Sudah seminggu Mila berada di Yogyakarta, kembali melanjutkan rutinitas kuliah seperti biasa. Ia sibuk dengan presentasi tugas, menyusun makalah, dan menghabiskan seharian di perpustakaan mencari bahan rujukan. Mila tinggal di Apartemen Sejahtera yang letaknya dekat dengan Universitas Sanata Dharma, hanya perlu berjalan kaki sekitar lima menit untuk sampai ke sana.

Mila kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Cita-cita terdekatnya adalah menjadi seorang guru dan memperbaiki kondisi pendidikan di daerah Timur Indonesia. Dua hari lalu, ia melihat postingan di media sosial Presiden yang mengucapkan "Selamat Hari Buku Dunia". Sebuah ucapan yang terasa sangat bertolak belakang dengan kenyataan pendidikan di daerah timur. Mulai dari akses jalan yang sulit menuju sekolah, guru-guru yang bertugas tanpa bayaran, bangunan sekolah yang tak layak pakai, hingga perpustakaan dengan buku-buku usang yang sudah menguning, terbitan zaman kurikulum 94 dan KTSP 2006. Semua itu bisa menjadi lebih baik, jika saja ada tindak lanjut dari janji-janji pemerintah.

Meskipun tidak bisa mengobati rasa sakit kehilangan ibunya, Mila berharap dengan menjadi seorang guru, ia bisa memperbaiki cara berpikir orang-orang melalui ilmu. Ia berharap bahwa meskipun tidak memiliki harta atau pengaruh jabatan, ilmu tetap bisa dihargai oleh banyak orang.

Menurut Mila, banyak kejahatan muncul karena pelakunya tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana pekerjaan yang benar dan mana yang buruk. Masalah seperti tanah masyarakat yang berpindah tangan dengan harga murah ke para investor bisa terjadi karena masyarakat kurang memiliki pengetahuan untuk melawan tipu daya para investor. Selain itu, praktik pernikahan dini yang sering dipaksakan juga terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua. Padahal, pernikahan bukan hanya sekedar memenuhi rukun Ijab Qobul, wali dari pihak wanita, dan dua saksi.

"Mila, ikut bersama kami ya, ada diskusi menarik di kafe depan," ajak seorang teman setelah kelas terakhir selesai.

"Kalian saja, aku tidak ikut. Mau langsung pulang," jawab Mila sambil berjalan keluar dari kelas.

"Semenjak dari Jakarta, dia jadi berbeda," bisik teman Mila kepada temannya yang lain.

Mila lebih banyak menghabiskan waktu di luar kelas di kamarnya dan di perpustakaan kampus. Terkadang ia merasa kesal ketika beberapa mahasiswa menjadikan perpustakaan sebagai tempat pacaran dan bermesraan. Meskipun tidak mengganggu, hal itu terasa tidak pantas dilakukan di ruang yang penuh dengan buku-buku itu.

"Maria, apakah salah jika aku ragu dengan pilihan ini?" tulis Mila dengan tinta hitam di buku pemberian Maria.

"Mila, turunlah ke bawah, ikut makan," panggil Bibi Marlen dari depan pintu.

"Bibi dan Paman duluan saja, Mila belum lapar," jawab Mila, berniat kembali menuliskan keraguannya di buku itu.

******

Setelah mengikuti semua prosedur untuk mendapatkan visa belajar di luar negeri, mulai dari melampirkan dokumen umum yang wajib, membayar biaya pengajuan visa pelajar, hingga mengajukan dokumen ke kedutaan Belanda, akhirnya Adam berhasil mendapatkan visa dan surat izin tinggal selama dua tahun di Groningen, Belanda.

Setelah keluar dari gedung kedutaan Belanda, Adam langsung mengunjungi Hanna di rumah sakit dan membeli beberapa pakaian tebal sebagai persiapan untuk ke Belanda. Kabar terakhir yang ia dengar, Hanna sudah bisa berjalan meski hanya beberapa meter sehari. Benturan di kepalanya memang mempengaruhi kondisi tubuhnya.

Hujan di Jakarta tak seintens bulan lalu. Orang-orang mulai berani keluar untuk melanjutkan pekerjaan dan aktivitas mereka, dengan payung dan mantel hujan sebagai perlindungan. Di taman rumah sakit, lampu yang sudah redup itu masih belum diganti. Sinar yang tersisa masih samar, tetapi bunga-bunga di sekitar taman mulai mekar dengan indah, puas dengan sinar matahari yang normal dan air hujan yang cukup.

Hanna dipindah ke kamar 29. Adam memanggilnya beberapa kali dari luar, tapi tidak ada jawaban.

“Aku di sini, Adam,” panggil Hanna dari ujung lorong bersama Dokter Fitri.

“Awas, ada yang kangen,” ujar Dokter Fitri dengan canda.

“Tenang, kalian berdua aman dari malaria,” lanjutnya.

“Malaria?” tanya Hanna, bingung.

“Iya, kan Dokter Fitri obat nyamuk,” jawab Adam, disambut tawa dari Hanna yang akhirnya mengerti maksud canda itu.

“Boleh ditinggal?” tanya Adam.

“Boleh, nggak apa-apa, Dokter,” jawab Hanna.

Sesuai permintaan Hanna, mereka berjalan ke taman rumah sakit. Mereka berdua berada di ruangan ini, dan Adam tahu bahwa melihat mereka berdua saja bisa menimbulkan prasangka, mengingat Hanna adalah seorang guru agama.

“Bagaimana perkembangan tubuhnya?” tanya Adam ketika mereka sampai di dekat lampu taman.

“Baru latihan jalan. Kata dokter, pagi dan sore harus banyak bergerak supaya saraf dan otot kaki terbiasa kembali,” jawab Hanna, dan Adam mengangguk paham.

“Aku baru pulang dari kedutaan. Dua hari lagi, aku akan berangkat ke Belanda,” kata Adam.

“Yah, aku nggak bisa ikut dong?” jawab Hanna, sedikit kecewa.

“Jangan dipaksakan. Eh, Mila sudah menghubungimu? Sejak di Jogja, dia nggak ada kabar,” tanya Adam.

“Belum. Apa mungkin dia sudah terikat kaul?” tanya Hanna, sedikit penasaran.

“Sepertinya belum. Kita tunggu saja kabar baik darinya,” jawab Adam.

Dokter Fitri mengamati percakapan antara Adam dan Hanna dari kamar. Sebuah senyum kecil terukir di wajahnya, teringat pada masa lalu ketika ia pernah berada di posisi mereka. Namun, pada akhirnya, ia ditinggalkan pada hari pernikahan oleh pria yang tidak tahu bagaimana menepati janji dengan baik dan benar.

*****

Buku berjudul “Kumpulan Esai-Esai Pendidikan” terletak di atas meja belajar. Tiga dari enam lembar kertas HVS ukuran A4 telah dipenuhi tulisan tangan yang berupa rangkuman. Mila berhenti sejenak dari kegiatannya, ditemani earphone pemberian Febi. Pikirannya terlarut dalam lamunan, perasaannya gelisah, seakan ada yang kurang, tapi ia tidak bisa menentukannya.

"Kenapa Mona? Aku lagi nggak mau keluar," jawab Mila melalui telepon.

Lihat selengkapnya