Sudah hampir seminggu kami tinggal di rumah baru.
Sejauh ini semuanya berjalan baik.
Aku mulai terbiasa dengan pekerjaan baruku.
Kirana juga mulai sibuk mencoba berbagai resep roti di dapur.
Walaupun kadang hasilnya tidak selalu sesuai harapan.
Pernah suatu sore aku menggigit rotinya.
Lumayan keras.
Saking kerasnya...
Aku hampir yakin roti itu bisa dipakai buat mengganjal pintu.
Untung saja aku masih sayang istri.
Jadi komentar itu cukup kusimpan di dalam hati.
Sore itu kami sama-sama sedang tidak punya kegiatan.
Aku menoleh ke arah Kirana yang sedang duduk di ruang tamu
sambil memainkan ponselnya.
"Jalan-jalan, yuk."
Ia langsung menoleh.
"Ke mana?"
"Keliling saja. Sekalian kenalan sama lingkungan."
Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangguk.
Namanya juga pengantin baru.
Mau diajak ke mana pun rasanya selalu semangat.
Asal jangan diajak lari pagi.
Itu beda urusan.
…
Aku mengeluarkan motor dari garasi.
Kirana duduk di belakang sambil sesekali
menunjuk rumah-rumah yang menurutnya cantik.
Kami berkeliling kompleks.
Jalannya masih sepi.
Anak-anak sedang bermain sepeda.
Beberapa bapak duduk di pos ronda.
Ada ibu-ibu yang sedang menyiram bunga.
Entah kenapa suasana seperti itu membuatku merasa tenang.
Tidak terasa kami sudah hampir satu jam berputar-putar.
Sampai akhirnya...
Perutku berbunyi.
Kriiiuuukkk...
Aku pura-pura tidak dengar.
Lima detik kemudian...
Perut Kirana ikut berbunyi.
Kami saling menoleh.
Lalu tertawa bersamaan.
"Kita kayaknya sama-sama lapar."
"Iya."
"Masak?"
Kirana menggeleng cepat.
"Hari ini libur dulu."
Aku langsung paham maksudnya.
Bahasa halus dari...
"Aku malas masak."
Untungnya, di ujung jalan kami melihat sebuah gerobak sederhana.
Di atasnya tertulis besar.
PECEL MADIUN.
Mataku langsung berbinar.
"Lho... pecel!"
Kirana bahkan lebih semangat dariku.
"Mas! Berhenti! Berhenti!"
Aku buru-buru menepikan motor.
Seolah-olah kalau terlambat lima detik, semua pecelnya bakal habis.