Banyak orang bilang...
Hari pertama menjadi orang tua itu penuh perjuangan.
Harus begadang.
Harus sabar.
Harus siap menghadapi segala kemungkinan.
Nah...
Aku baru sadar...
Kalimat itu ternyata bukan cuma berlaku buat bayi.
Anak anjing juga sama saja.
Bedanya...
Kalau bayi pakai popok.
Kalau Bobi...
Dia merasa seluruh rumah adalah toiletnya.
Hari pertama Bobi tinggal bersama kami benar-benar menguras tenaga.
Pagi-pagi aku bangun.
Ruang tamu aman.
Dapur aman.
Teras aman.
Begitu masuk kamar...
"Hmm..."
Aku mencium aroma yang... agak mencurigakan.
Aku melihat ke bawah.
Ada "hadiah" kecil di lantai.
Basah….
Bening….
Tenang….
Aku menoleh ke arah Bobi.
Dia sedang duduk sambil memiringkan kepala.
Mukanya polos.
Seolah berkata,
"Lho? Memang kenapa?"
Aku cuma menghela napas.
"Gapapa, Bob."
"Namanya juga anak-anak."
Aku membersihkannya.
Belum selesai.
Lima menit kemudian...
Ada lagi.
Kali ini di dekat pintu dapur.
Aku mulai berpikir.
Ini anak anjing...
Apa mesin fotokopi?
Produksinya cepat sekali.
Untung Kirana masih sabar.
Ia hanya tertawa sambil mengepel lantai.
"Mas..."
"Iya?"
"Kayaknya kita harus ngajarin Bobi pipis di tempat yang benar."
Aku mengangguk mantap.
"Iya."
Padahal...
Aku sendiri juga belum tahu caranya.
Namanya juga pemula.
Lha wong anak saja belum punya.
Apalagi ngajarin anak anjing buang air.
Hari itu aku tetap berangkat kerja seperti biasa.
Mandi.
Sarapan.
Memakai seragam.
Lalu memakai sepatu.
Semuanya terasa normal.
Tidak ada yang aneh.
Aku bahkan sempat mencium bau sepatu sebentar.
Masih wangi.
Ya... wangi semir.
Berarti aman.
Aku langsung berangkat ke kantor.
Sesampainya di sana, aku absen.