Pagi itu rumah kami dipenuhi aroma bolu kukus.
Sejak beberapa minggu terakhir,
Kirana memang sedang serius merintis usaha kecil-kecilan dari rumah.
Setiap hari ia mencoba resep baru.
Kadang berhasil, kadang gagal.
Tapi aku tahu, istriku bukan tipe orang yang mudah menyerah.
Baginya, setiap adonan yang gagal hanyalah pelajaran untuk adonan berikutnya.
Pagi itu wajahnya terlihat jauh lebih ceria dari biasanya.
"Mas..."
"Iya?"
"Ada yang pesan seratus bolu kukus."
Aku yang sedang menyeruput kopi hampir tersedak.
"Seratus?"
"Iya."
"Wah... lumayan."
Katanya, bolu itu akan dipakai untuk acara syukuran kelulusan
salah satu anggota keluarga si pemesan.
Aku ikut senang.
Ini pesanan terbesar yang pernah diterima Kirana sejak mulai berjualan.
Seharian itu dapur tidak pernah sepi.
Mixer bekerja tanpa henti.
Panci kukusan mengepul terus.
Kotak-kotak mika mulai berjejer di meja makan.
Aku beberapa kali membantu membungkus bolu.
Sesekali mencicipi.
Maksudku...
Quality control.
Bukan nyolong.
Menjelang sore...
Seratus bolu kukus akhirnya selesai.
Rapi.
Cantik.
Harum.
Kirana menghela napas lega.
"Wah..."
"Akhirnya selesai juga."
Aku mengacungkan jempol.
"Keren."
"Sekarang tinggal dikirim."
Kirana mengangguk.
Lalu mengambil ponselnya.
Ia ingin menelepon pembeli untuk memastikan alamat pengiriman.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu...
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."
Kirana mencoba lagi.
Masih sama.
Ia mencoba beberapa menit kemudian.
Tetap sama.
Sore berubah menjadi malam.
Nomor itu tidak pernah aktif lagi.
Pesan yang dikirim hanya centang satu.