Setelah kejadian bolu kukus itu...
Hari-hari di rumah kami kembali berjalan normal.
Ya...
Kalau ukuran normal versi rumah kami.
Bobi masih berlari ke sana-sini.
Masih menggigit sandal.
Masih suka mengejar kupu-kupu yang bahkan tidak pernah berhasil ia tangkap.
Untungnya...
Sudah tidak ada lagi tragedi sepatu.
Aku bersyukur.
Sepatuku akhirnya kembali memiliki fungsi utamanya.
Sebagai sepatu.
Bukan toilet.
Pagi itu aku berangkat kerja seperti biasa.
Kirana tinggal di rumah.
Katanya mau mencoba resep roti baru.
Aku hanya berpesan satu hal.
"Kalau Bobi mulai aneh-aneh..."
"...telepon aku."
Kirana tertawa.
"Iya Mas."
"Semoga hari ini dia baik."
Aku mengangguk.
Dalam hati aku berkata,
"Semoga..."
Karena kalau Bobi sedang baik...
Biasanya alam semesta sedang menyusun kejutan lain.
Sekitar pukul sepuluh pagi...
Kirana sedang sibuk mengaduk adonan.
Tiba-tiba...
"Meooong..."
Ia berhenti.
Menoleh ke kanan.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia melanjutkan pekerjaannya.
"Meooong..."
Suara itu terdengar lagi.
Kirana membuka pintu depan.
Kosong.
"Perasaan dari sini deh..."
Ia berjalan ke halaman.
Masih tidak ada.
Sampai akhirnya ia mendongak.
Di atas pagar halaman...
Seekor kucing jantan berwarna oranye sedang duduk santai.
Badannya lumayan besar.
Bulunya lumayan bersih utk ukuran kuicng tanpa identitas
Tatapannya...
Sok berkuasa.
Seolah pagar rumah itu miliknya sejak lahir.
Kirana hanya tersenyum kecil.
"Pasti kucing tetangga."
Ia kembali masuk.
Tidak terlalu memikirkannya.
Sore harinya...
Aku pulang kerja.
Baru saja membuka pagar...
Aku langsung merasa ada yang aneh.
Bobi berdiri di halaman.
Tubuhnya kaku.
Ekornya lurus.
Matanya tidak berkedip.
Tatapannya mengarah ke teras.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Di atas kursi teras...
Seekor kucing oranye sedang duduk santai.
Mukanya datar.
Seolah sedang menikmati angin sore.
Aku belum sempat berkata apa-apa.
"Grrrrrr..."
Suara pelan keluar dari mulut Bobi.
Aku meliriknya.
"Lho..."
"Kamu kenapa?"