Ternyata...
Keesokan paginya...
Si kucing oranye itu datang lagi.
Santai.
Seolah-olah memang sudah hafal alamat rumah kami.
Aku yang baru selesai menyapu halaman langsung melihat
sosoknya rebahan manis di teras depan.
Kakinya selonjor.
Matanya setengah terpejam.
Kalau tidak tahu cerita sebenarnya...
Orang mungkin mengira kucing itu memang sudah kami pelihara sejak kecil.
Padahal...
Baru kemarin nongol.
Aku hanya menggeleng pelan.
"Ya sudah..."
"Kalau memang betah di sini..."
"...untuk sementara anggap saja kamu penghuni baru."
Lagipula...
Kalau suatu hari nanti ada orang datang sambil berkata,
"Mas, itu kucing saya yang hilang."
Ya...
Berarti memang jodoh kami tidak panjang.
Kami tinggal mengembalikannya.
Selesai.
Tidak pakai sidang keluarga.
Tidak pakai gugatan hak asuh.
Apalagi sampai rebutan harta gono-gini.
Sejak pagi itu...
Kucing oranye yang kini kami panggil Rocky mulai bertingkah semakin santai.
Saking santainya...
Ia rebahan tepat di depan pintu rumah.
Persis satpam.
Bedanya...
Satpam biasanya berdiri.
Dia malah tidur.
Di sisi lain...
Bobi terus memperhatikannya.
Tatapannya tajam.
Benar-benar tajam.
Kalau tatapan bisa berubah menjadi sinar laser...
Mungkin Rocky sudah bolong dari tadi.
Dari wajah Bobi aku bisa membaca isi pikirannya.
"Ini siapa?"
"Berani-beraninya masuk wilayahku."
"Penjajah."
Rocky sama sekali tidak peduli.
Ia malah mengeong pelan.
"Meooong..."
Suaranya lembut.
Mukanya memelas.
Sepasang matanya yang bulat itu menatap Kirana tanpa berkedip.
Aduh...
"Hii..."
"Lucunya."
Kirana langsung jongkok.
Pelan-pelan mengusap kepala Rocky.
Rocky memejamkan mata.
Lalu menggosok-gosokkan tubuhnya ke kaki Kirana.
Manja sekali.
Melihat pemandangan itu...
Bobi langsung berdiri.
"Guk!"
Tidak ada jawaban.
"Guk! Guk!"
Rocky tetap santai.
Malah semakin lengket ke kaki Kirana.