AKU, KIRANA DAN BOBI + ROCKY

Marlon Anaka
Chapter #14

Vaksin Rabies dan Ujian Menjadi Suami

Tak terasa, sudah genap sebulan kami tinggal di rumah baru.

Aneh juga kalau dipikir-pikir. Rasanya baru kemarin aku sama Kirana bongkar kardus,

nyusun piring, nyari colokan listrik sambil bingung mana kabel rice cooker, mana

kabel kipas angin. Eh... sekarang rumah itu sudah mulai terasa seperti rumah sendiri.

Kalau pagi, suara ayam tetangga jadi alarm gratis.

 Siang, suara anak-anak SD pulang sekolah terdengar sampai ke ruang tamu. Sore,

ibu-ibu komplek mulai duduk di depan rumah sambil ngobrol. Aku sampai heran.

Entah kenapa ibu-ibu kalau ngobrol itu selalu bisa sampai dua jam lebih. Padahal

waktu aku lewat, topiknya cuma, "Eh, sudah masak belum?"

Dua jam kemudian aku lewat lagi...

Masih membahas yang sama.

Hebat juga.

Kalau aku ngobrol sama teman selama dua jam, paling ujung-ujungnya malah bahas

motor, sepak bola, sama kenapa harga cabai naik terus.

Bulan Agustus juga mulai terasa.

Bendera merah putih mulai bermunculan di setiap rumah. Gapura komplek dicat

ulang. Anak-anak kecil latihan lomba balap karung sampai tiap sore terdengar

teriakan...

"Ayo! Ayo! Cepat!"

Padahal yang lomba baru minggu depan.

Semangatnya sudah seperti mau ikut Olimpiade.

Di balai warga bahkan sudah ditempel jadwal lomba. Ada lomba makan kerupuk,

tarik tambang, balap kelereng, karaoke bapak-bapak—yang menurutku lebih cocok

disebut lomba adu percaya diri daripada adu suara.

Pokoknya suasana komplek jadi hidup.

Suatu sore, saat aku baru pulang kerja dan sedang duduk di ruang tamu menikmati

segelas teh hangat buatan Kirana, terdengar suara pengeras suara dari Rumah Pak RT

"Selamat sore ibu - ibu dan bapak - bapak sekalian..."

Aku langsung memasang telinga.

Biasanya kalau sudah begini, pasti ada hal penting

Benar saja.

Pak RT mengumumkan kalau minggu ini akan diadakan program vaksin rabies

gratis untuk seluruh hewan peliharaan warga. Petugas dari Dinas Kesehatan

Kabupaten akan datang langsung ke rumah-rumah sesuai jadwal yang sudah

ditentukan.

Aku yang sedang menyeruput teh langsung menoleh ke arah halaman belakang.

Di sana...

Bobi lagi sibuk menggali tanah.

Entah mencari harta karun.

Entah mencari inspirasi hidup.

Sementara Rocky...

Dengan santainya tidur di atas tembok sambil sesekali melirik Bobi dengan wajah

paling menyebalkan sedunia.

Aku menghela napas.

"Dengar nggak tuh, Bob?"

Bobi menoleh sebentar.

Lalu kembali menggali tanah.

Ya sudah.

Memang percuma ngajak diskusi anjing.

Aku menoleh ke Kirana.

"Yang..."

"Iya?"

"Kayaknya Bobi sama Rocky harus ikut vaksin."

Kirana mengangguk pelan.

"Iya. Biar aman."

"Besok aku daftar ya."

"Iya."

Jawabannya singkat.

Kalau istriku sudah menjawab singkat begini, biasanya memang sudah setuju.

Besok sepulang kerja, aku langsung mampir ke balai warga.

Lumayan ramai.

Ternyata bukan cuma aku yang punya hewan peliharaan.

Ada bapak-bapak yang bawa anjing golden retriever.

Ada ibu-ibu yang punya lima kucing sekaligus.

Aku sampai bingung dan takjub…

(Kog sanggup ya…aku saja yang melihara 2 begundal sangat kewalahan)

Saat sedang mengisi formulir, aku duduk di samping seorang bapak berkumis tebal.

Beliau membawa kandang kecil.

Di dalamnya ada seekor kucing betina berbulu putih abu-abu.

Cantik.

Eh...

Maksudku kucingnya.

Bapaknya berkumis.

Aku sempat bertanya basa-basi.

"Lucu kucingnya, Pak."

"Iya."

"Namanya apa?"

"Mochi."

"Oalah..."

Aku mengangguk-angguk.

Dalam hati langsung ingat Rocky yang sedang tidur di rumah.

Jangan-jangan...

Selama ini yang suka dicari Rocky keliling komplek itu si Mochi ini.

Pantesan tiap malam dia hilang.

Kirain ronda.

Ternyata pacaran.

Dasar buaya oren.

Aku tertawa sendiri.

Bapak berkumis itu menatapku heran.

"Mengapa Mas?"

Aku buru-buru menggeleng.

"Nggak Pak."

"Saya cuma kasihan sama kucing jantan liar di komplek."

Beliau ikut mengangguk.

"Iya."

"Kalau musim kawin memang susah."

Aku langsung batuk kecil.

Untung beliau tidak tahu kalau yang dimaksud itu kemungkinan besar adalah Rocky.

Selesai mendaftar, petugas menjelaskan jadwal.

Komplek kami mendapat giliran hari Sabtu, mulai pukul delapan pagi sampai sekitar

jam dua belas siang.

Aku langsung senyum lebar.

Untung hari Sabtu aku libur.

Jadi tidak perlu izin kerja.

Sesampainya di rumah, aku langsung mengabarkan kabar baik itu kepada Kirana.

"Yang..."

"Iya?"

"Sabtu kita kedatangan tamu."

"Wah... siapa?"

"Petugas vaksin."

"Oalah..."

"Siap-siap ya."

"Iya."

Kirana mengangguk.

Lalu melihat Bobi yang sedang tidur telentang di lantai.

"Kasihan Bob nanti disuntik."

Aku ikut melihat Bobi.

"Kasihan sih..."

"Tapi lebih kasihan kita kalau nanti dia malah kena rabies."

Bobi membuka satu mata.

Menatap kami.

Lalu kembali tidur.

Entah kenapa...

Aku merasa...

Dia sama sekali belum sadar kalau hari Sabtu nanti akan menjadi salah satu hari

paling menegangkan dalam hidupnya.

Dan...

Ternyata...

Bukan cuma Bobi yang akan menghadapi ujian pagi itu.

Aku juga.

Bedanya...

Kalau Bobi diuji dengan jarum suntik.

Sedangkan aku...

Diuji oleh istriku sendiri.

Hari Sabtu akhirnya datang.

Sejak pagi komplek sudah ramai.

Beberapa tetangga terlihat sibuk memandikan anjing peliharaannya.

Ada juga yang mengejar kucingnya keliling halaman karena kabur…

Aku cuma geleng-geleng kepala.

Jam menunjukkan pukul sembilan lewat sedikit.

Aku sudah selesai mandi.

Kaus oblong warna abu-abu, celana pendek selutut, sandal jepit kebanggaan,

lengkap dengan rambut yang masih setengah basah karena tadi buru-buru mandi.

Kirana juga sudah siap dari tadi.

Seperti biasa...

Kalau istriku sudah masuk dapur, rumah langsung wangi.

Pagi itu dia membuat bolu pisang.

Katanya buat camilan.

Padahal aku curiga...

Dia memang sengaja bikin lebih banyak.

Siapa tahu ada tamu.

Dan benar saja.

Sekitar pukul sepuluh kurang sedikit...

Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Aku mengintip lewat jendela.

Sebuah mobil putih bertuliskan DINAS KESEHATAN KABUPATEN berhenti

tepat di depan pagar.

"Sayang..."

"Kayaknya sudah datang."

"Iya Mas."

Aku buru-buru membuka pagar.

Yang turun pertama seorang bapak-bapak tua.

Mungkin sopirnya.

Beliau hanya tersenyum sambil mengangguk.

Lalu...

Turun tiga petugas perempuan.

Masih muda.

Mungkin umurnya sekitar dua puluhan.

Mereka memakai rompi bertuliskan Petugas Vaksin Rabies, membawa tas pendingin

vaksin dan beberapa perlengkapan medis.

Cantik?

Hmm...

Biasa saja.

Soalnya...

Kalau aku bilang cantik di novel ini...

Nanti istriku baca.

Aku bisa tidur di sofa seminggu.

Lebih aman bilang...

Standar dinas.

Aku langsung tersenyum ramah.

"Silakan, Mbak..."

"Mari masuk."

Salah satu petugas membalas senyum.

"Terima kasih, Om."

...

Om…?

Aku terdiam.

Dalam hati rasanya ada sesuatu yang patah.

Aku baru umur tiga puluh.

Belum tua-tua amat.

Tapi ya sudahlah.

Daripada dipanggil Pakde.

Aku mengantar mereka masuk ke halaman belakang.

Di sana Bobi sudah terikat dengan tali panjang.

Sedangkan Rocky...

Entah kenapa...

Hari ini justru duduk manis di atas meja taman.

Padahal biasanya keluyuran entah ke mana.

Mungkin dia tahu hari ini ada tamu.

Atau...

Mungkin dia ingin memastikan vaksin yang dipakai asli.

Kirana ikut keluar membawa nampan.

Isinya teh hangat, air mineral, dan beberapa potong bolu pisang buatannya.

"Silakan diminum dulu, Mbak."

"Wah...

Terima kasih banyak."

Salah satu petugas mengambil sepotong bolu.

Baru sekali gigit...

Matanya langsung membesar.

"Enak banget."

Aku langsung menoleh ke Kirana.

Nah...

Kalau urusan masak...

Aku memang kalah jauh.

Kalau aku yang bikin bolu...

Dijamin hasil akhirnya bisa dipakai buat ganjal pintu.

Kirana hanya tersenyum malu.

"Itu masih belajar, Mbak."

"Lho...

Kalau masih belajar saja sudah seenak ini..."

Aku langsung nyeletuk.

"Kalau sudah jago...

Saya takut nanti saya nggak muat lewat pintu."

Ketiga petugas itu langsung tertawa.

Kirana ikut tersenyum.

Aku ikut tertawa juga.

Walaupun...

Aku sendiri bingung.

Lucunya di mana ya?

Suasana jadi cair.

Aku mulai ngobrol.

"Baru kerja di dinas ya, Mbak?"

"Iya Om."

Lihat selengkapnya