Ada satu kebiasaan kecil yang sudah kami lakukan semenjak menikah.
Setiap dua atau tiga hari sekali, aku selalu meninggalkan sedikit uang jajan untuk
Kirana.
Jumlahnya memang tidak seberapa.
Bukan karena aku pelit.
Memang gajiku baru cukup untuk hidup sederhana.
Yang penting istriku kalau tiba-tiba ingin beli es, gorengan, atau sekadar jajan cilok
keliling, tidak perlu menunggu aku pulang kerja.
Biasanya uang itu kuselipkan di tempat yang sama.
Di bawah kipas angin kamar.
Tempatnya sederhana.
Tapi aman.
Karena maling mana juga yang kepikiran nyari uang di bawah kipas angin.
Dan Kirana juga sudah hafal.
Kalau aku tidak sempat kasih langsung, berarti uangnya pasti sudah "parkir" di bawah
kipas.
Hari itu hari Jumat.
Hari yang cukup spesial di kantorku.
Setiap Jumat pagi selalu ada senam bersama.
Masalahnya...
Aku bangun kesiangan.
Begitu lihat jam...
07.00
"Astaga!"
Aku langsung loncat dari kasur.
Sikat gigi sambil mandi.
Pakai celana sambil nyari kaus kaki.
Sarapan? Tidak sempat.
Yang penting jangan sampai pegawai baru datang paling terakhir.
Aku buru-buru pamit.
"Yang... aku berangkat dulu ya!"
"Iya Mas... hati-hati."
Motor langsung kupacu menuju kantor.
Di tengah jalan...
Barulah aku ingat.
"Lho..."
"Uang jajan Kirana!"
Aku menepuk jidat di lampu merah.
"Aduh..."
"Lupa lagi."
Tapi aku berpikir,
"Ah... nanti siang saja aku kasih."
Aku sama sekali tidak tahu...
Bahwa kelupaanku pagi itu...
Akan menjadi awal tragedi bakso paling mahal dalam sejarah rumah tangga kami.
Sekitar pukul sembilan pagi.
Kirana sedang menyapu halaman depan.
Udara masih sejuk.
Burung-burung berkicau.
Rocky lagi tidur di atas pagar.
Sedangkan Bobi...
Seperti biasa...
Sedang sibuk menggonggong daun mangga yang jatuh.
Entah apa dendamnya.
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenal oleh seluruh penghuni kompleks.
"Ting... ting... ting..."
Suara mangkuk dipukul sendok.
Lalu disusul suara merdu yang selalu berhasil membangkitkan iman orang lapar.
"Baksoooo..."
"Baksooo..."
"Bakso urat..."
"Bakso telur..."
Mata Kirana langsung berbinar.
"Kebetulan juga..."
"Sudah lama nggak makan bakso."
Beliau langsung melambaikan tangan.
"Bang... sini Bang..."
Gerobak bakso berhenti tepat di depan rumah.
Kirana baru mau memesan...
Saat matanya melihat lima anak kecil sedang bermain kelereng di pinggir jalan.
Mereka tertawa-tawa.
Bajunya penuh debu.
Mukanya penuh semangat.
Tiba-tiba muncul niat baik di hati Kirana.
"Sesekali traktir anak-anak, ah."
Rezeki memang tidak akan membuat miskin kalau dibagi.
"Adik - Adik.."
"Sini..."
"Makan bakso yuk!"
Anak-anak itu langsung melonjak kegirangan.
"Beneran Tante?"
"Iya."
"Gratis?"
"Iya."
"Waaahhh..."
Dalam hitungan detik...
Gerobak bakso dikerubungi lima bocah.
Kirana tersenyum puas.
"Ah..."
"Paling lima mangkuk."
"Uang boluku cukup."
Kalau kurang...
Masih ada uang Mas Bony di bawah kipas.
Aman.
Begitu pikirnya.
Sayangnya...
Semesta rupanya sedang ingin bercanda.
Saat anak-anak sedang makan...
Lewatlah Bu Mawar.
Beliau baru pulang mengantar cucunya sekolah.
Begitu melihat gerobak bakso...
Langkahnya otomatis melambat.
"Wuihhh..."
"Enak juga pagi-pagi makan bakso."
Kirana langsung berdiri.
"Silakan Bu..."
"Ikut makan."
"Ah... masa sih?"
"Iya Bu."
"Nggak enak."
"Nggak apa-apa."