Orang bilang, laki-laki jarang mengeluh kalau sedang sakit.
Entah karena gengsi.
Atau memang sejak kecil diajarkan untuk terlihat kuat.
Aku juga begitu.
Kalau hanya demam sedikit, pusing sedikit, atau badan mulai terasa pegal, biasanya
cukup kubilang, "Nanti juga sembuh."
Hari itu pun aku berpikir demikian.
Aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Langkah kakiku terasa berat. Setiap
tarikan napas seperti membawa beban yang tidak biasa. Badanku menggigil, padahal
matahari sore masih cukup terik.
Begitu membuka pintu rumah, Kirana yang sedang menyusun roti di meja makan
langsung menghentikan pekerjaannya.
Ia menoleh ke arahku.
Wajahnya berubah.
"Mas..."
Aku hanya mengangguk pelan.
"Kayaknya badanku agak nggak enak."
Belum sempat aku melangkah lebih jauh, telapak tangannya sudah menyentuh dahiku.
Sentuhan itu begitu lembut.
Namun beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi cemas.
"Mas... badanmu panas."
Aku tersenyum kecil.
"Mungkin kecapekan."
"Besok juga sembuh."
Ia menggeleng pelan.
"Tunggu di kamar."
Tanpa banyak bicara, ia membantuku berjalan menuju tempat tidur.
Saat tubuhku mulai rebah di atas kasur, baru kusadari betapa lelahnya hari itu.
Mataku terasa berat.
Kepalaku berdenyut.
Bahkan sekadar membuka mata pun rasanya sulit.
Entah sudah berapa kali Kirana keluar masuk kamar.
Kadang membawa air hangat.
Kadang membawa obat.
Beberapa menit kemudian kembali lagi dengan kain kompres yang baru.
Sesekali ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap rambutku perlahan, memastikan
suhu tubuhku tidak semakin tinggi.
Aku beberapa kali memintanya beristirahat.
Namun ia hanya menjawab singkat.
"Nanti saja."
Kalimat sederhana itu terdengar begitu hangat.
Seolah selama aku belum benar-benar membaik, ia tidak akan membiarkan dirinya
tenang.
Menjelang malam, hujan mulai turun.
Suara rintiknya terdengar pelan dari balik jendela.
Udara menjadi semakin dingin.
Aku membuka mata perlahan.
Kirana tidak ada di sampingku.
Mungkin sedang membuatkan makan malam.
Saat itulah aku merasakan sesuatu menyentuh kakiku.