Ada satu hal yang baru kusadari setelah menikah.
Membangun rumah tangga ternyata bukan hanya tentang belajar saling mencintai.
Tetapi juga belajar saling memahami.
Dua orang yang dibesarkan dengan kebiasaan berbeda, cara berpikir berbeda, dan
sifat yang berbeda, tiba-tiba harus hidup di bawah satu atap. Tidak mungkin
semuanya selalu berjalan mulus. Pasti ada saatnya salah paham. Ada saatnya lelah.
Ada saatnya emosi lebih dulu berbicara daripada hati.
Hari itu...
Entah karena pekerjaan sedang sama-sama melelahkan, atau mungkin karena kami
terlalu sibuk memikirkan banyak hal, rumah kecil kami terasa berbeda.
Aku baru pulang kerja dengan tubuh yang masih menyisakan letih sejak pagi.
Di sisi lain, Kirana baru saja menyelesaikan pesanan roti yang jumlahnya lebih
banyak daripada biasanya. Sejak kabar tentang bolu dan kukis buatannya mulai
menyebar di kompleks, pesanan memang semakin ramai. Aku ikut senang melihat
usahanya berkembang, tetapi aku juga tahu itu membuat tenaganya terkuras.
Aku masuk ke rumah.
Kirana sedang membereskan dapur.
Biasanya ia langsung menyambutku dengan senyum.
Hari itu...
Ia hanya menoleh sebentar.
"Lho, Mas sudah pulang?"
"Iya."
Hanya itu.
Tidak ada obrolan panjang.
Aku mengira ia sedang lelah.
Aku pun memilih diam.
Sore itu Bobi kembali membuat ulah kecil.
Ia menggigit sandal yang baru saja kubeli minggu lalu.
Bukan sandal mahal.
Tetapi sandal itu baru kupakai dua kali.
Melihatnya sudah penuh bekas gigitan, tanpa sadar aku menghela napas cukup keras.
"Bob..."
"Nggak semua barang harus dicobain pakai gigi."
Kirana yang sedang mencuci loyang mendengar ucapanku.
Ia menoleh.
"Mas..."
"Namanya juga anjing."
Aku mengangguk.
"Iya, aku tahu."
"Tapi kalau dibiarin terus..."
"Nanti kebiasaan."
Nada suaraku mulai berubah.
Bukan marah.
Hanya lelah.
Kirana meletakkan spons cuci piringnya.
"Mas..."
"Seharian dia di rumah sama aku."
"Aku juga sudah capek."
Kalimat itu sederhana.
Tetapi entah kenapa...
Aku ikut terpancing.
"Kan aku cuma ngomong."
"Iya."
"Aku juga cuma jawab."
Setelah itu...
Tidak ada lagi percakapan.
Rumah mendadak sunyi.
Sunyi yang rasanya asing.
Biasanya televisi menyala.
Biasanya ada suara kami saling bercerita tentang kejadian hari itu.
Biasanya Kirana tertawa mendengar ceritaku di kantor.
Biasanya aku mencicipi roti percobaan buatannya sambil pura-pura menjadi juri.