Sore itu langit terlihat berbeda.
Bukan karena warnanya lebih indah.
Bukan juga karena mataharinya lebih terang.
Mungkin karena hari itu aku benar-benar sempat berhenti sejenak untuk melihat
kehidupan yang selama ini berjalan begitu cepat.
Aku duduk di teras rumah.
Secangkir kopi hangat menemani di atas meja kecil yang mulai kusam dimakan waktu.
Angin sore berembus pelan.
Membawa aroma tanah yang baru saja disiram air.
Di halaman depan, Kirana sedang menyiram bunga-bunga kecil yang beberapa bulan
lalu kami tanam bersama. Ada yang tumbuh subur, ada juga yang layu karena lupa
disiram. Mirip kehidupan. Tidak semuanya berjalan sempurna, tetapi selalu ada yang
tetap bertahan.
Sesekali Kirana tersenyum sendiri ketika melihat bunga-bunga itu mulai bermekaran.
Aku ikut tersenyum.
Di halaman...
Bobi sedang sibuk mengejar seekor kupu-kupu kuning yang entah sudah berapa kali
berhasil lolos darinya.
Ia berlari ke kiri.
Lalu ke kanan.
Kadang melompat terlalu tinggi.
Kadang malah terpeleset sendiri.
Tetapi tidak pernah menyerah.
Sementara itu...
Di atas pagar putih rumah kami...
Rocky tidur dengan posisi yang, entah bagaimana caranya, selalu terlihat nyaman.
Sesekali ia membuka satu matanya.
Melihat Bobi.
Lalu menutupnya lagi.
Mungkin dalam hati ia sedang berkata,
"Silakan saja capek sendiri. Aku lebih memilih rebahan."
Aku terkekeh pelan.
Dulu...
Aku sering mengeluh karena mereka.
Sepatu dimasuki kotoran.
Kasur dipipisi.
Ayam goreng tetangga dicuri.
Ikan asin hilang.
Sampai urusan "skandal keluarga" yang hampir membuat Rocky menjadi buronan
satu kompleks.
Kalau dipikir-pikir sekarang...