Aku Lupa Akan Derasnya Hujan

Rahmah Athaillah
Chapter #1

Hujan Selalu Datang Tanpa Meminta Izin

Hujan di Jakarta tidak pernah benar-benar datang dengan sopan.

Ia jatuh begitu saja, di antara klakson yang bersahutan, lampu merah yang terlalu lama, dan orang-orang yang terburu-buru seolah hidup tidak pernah memberi jeda.

Aku sudah terbiasa dengan semua itu.

Dengan jalanan yang padat.

Dengan hari-hari yang terasa sempit.

Dan dengan perasaan, yang selalu kutahan sendiri.

Sebagai anak pertama, aku belajar satu hal lebih cepat dari yang lain, bahwa tidak semua lelah perlu diceritakan.

Sore itu, aku berdiri di halte TransJakarta yang penuh.

Orang-orang berdesakan, sebagian sibuk melihat ponsel, sebagian lagi menghela napas panjang karena bus yang tak kunjung datang. Bau aspal basah mulai naik, bercampur dengan udara yang pengap.

Langit menggelap lebih cepat dari biasanya.

Aku menggenggam tas di pundakku lebih erat. Bukan karena takut. Tapi karena itu satu-satunya cara agar aku merasa, masih memegang kendali.

Rintik pertama jatuh di lantai halte.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

Sampai akhirnya hujan benar-benar turun, tanpa aba-aba, tanpa peringatan.

Orang-orang mulai bergerak lebih cepat. Beberapa mengeluh. Sebagian berlari kecil. Aku tetap di tempatku. Diam. Seperti biasa.

Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara bereaksi terhadap hal-hal yang datang tiba-tiba.

Termasuk hujan.

Termasuk orang.

Termasuk perasaan.

“Kalau nunggu reda, bisa lama.” Suara itu terdengar di sampingku.

Aku menoleh pelan.

Seorang laki-laki berdiri tidak jauh dariku. Kaosnya sedikit basah di bagian bahu, rambutnya masih meneteskan air. Di tangannya, sebuah payung hitam terlipat.

Aku tidak menyadari sejak kapan ia ada di sana.

Seperti hujan.

Lihat selengkapnya