Sejak hari itu, aku jadi lebih sering memperhatikan hujan.
Bukan karena aku tiba-tiba menyukainya.
Tapi karena setiap kali hujan turun, ada sesuatu yang ikut hadir, sebuah halte, payung hitam, dan seseorang yang tidak banyak bicara.
Aksa.
Namanya sederhana.
Tapi entah kenapa, menetap lebih lama dari yang seharusnya.
Jakarta tetap sama.
Pagi yang terburu-buru.
Siang yang melelahkan.
Sore yang penuh antrean.
Dan malam yang sering kali terlalu sunyi untuk seseorang yang tidak benar-benar punya tempat pulang.
Aku tetap menjalani semuanya seperti biasa.
Bangun lebih awal.
Membantu hal-hal kecil di rumah.
Berangkat dengan tubuh yang sudah lelah sebelum hari benar-benar dimulai.
Dan pulang dengan kepala yang penuh, tapi hati yang tetap harus terlihat baik-baik saja. Sebagai anak pertama, aku tidak punya banyak pilihan selain tetap kuat.
Atau setidaknya, terlihat kuat.
Pertemuan kedua kami terjadi beberapa hari setelahnya.
Di halte yang sama.
Di jam yang hampir sama.
Dan seperti sesuatu yang terlalu sering kebetulan, hujan turun lagi.
Aku berdiri di tempat yang hampir sama. Memegang tas seperti biasa. Menunggu, seperti biasa.
“Kayaknya kamu memang janjian sama hujan.”
Aku menoleh.
Aksa berdiri beberapa langkah dariku, dengan payung yang sama.