Jakarta tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk berhenti.
Pagi selalu terburu-buru.
Sore selalu penuh.
Dan malam, sering kali hanya jadi tempat untuk mengembalikan tenaga, bukan benar-benar beristirahat.
Aku menjalani semuanya seperti biasa.
Atau setidaknya, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya masih sama.
Tapi ternyata tidak.
Ada satu hal yang mulai berubah, tanpa benar-benar aku sadari. Aku mulai menunggu. Bukan menunggu bus yang datang. Bukan menunggu hujan reda.
Tapi menunggu seseorang.
Awalnya aku tidak menyadarinya. Aku tetap datang ke halte di jam yang sama. Tetap berdiri di tempat yang hampir sama.
Tetap memegang tas dengan cara yang sama. Tapi kini, mataku lebih sering mencari. Mencari seseorang dengan payung hitam. Dengan cara berdiri yang tenang.
Dengan kehadiran yang tidak banyak suara, tapi selalu terasa.
Aksa.
Kadang ia datang lebih dulu. Berdiri di ujung halte, memperhatikan jalanan yang padat. Seolah tidak sedang menunggu siapa pun.
Kadang aku yang lebih dulu. Dan tanpa sadar, aku akan berdiri sedikit lebih lama, seolah-olah ada sesuatu yang belum lengkap.
“Tumben lebih awal.”
Suara itu terdengar di sampingku.
Aku menoleh, dan seperti biasa ia sudah ada di sana.
“Aku kira kamu nggak datang,” kataku, lebih jujur dari yang seharusnya.
Ia tersenyum kecil. “Harusnya aku yang bilang gitu.”
Aku tidak menjawab.
Tapi untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa ringan di dadaku. Hari-hari mulai berjalan dengan pola yang sama.
Halte.
Hujan yang kadang datang, kadang tidak.